MARKET DATA

Kata Bos Danantara Impor Gula Tak Terkontrol, Ungkap Jurus Swasembada

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
08 April 2026 15:55
COO Danantara, Dony Oskaria saat mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (8/4/2026). (Tangkapan Layar Youtube/TVR Parlemen)
Foto: COO Danantara, Dony Oskaria saat mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (8/4/2026). (Tangkapan Layar Youtube/TVR Parlemen)

Jakarta, CNBC Indonesia - Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria mendorong konsolidasi bisnis gula melalui penggabungan BUMN. Saat ini, kata dia, terdapat dua entitas utama di sektor gula, yakni Sugar Co di bawah PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) dan pabrik gula di bawah ID Food.

Hal itu disampaikannya saat rapat kerja bersama pemerintah dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (8/4/2026). Konsolidasi ini, lanjut dia, sejalan dengan transformasi BUMN, mulai dari melikuidasi perusahaan dinilai tidak lagi layak, divestasi demi fokus bisnis inti, konsolidasi bisnis sejenis, dan restrukturisasi.

Melalui merger, seluruh bisnis gula ID Food akan digabungkan ke SGN agar terbentuk entitas manufaktur yang lebih fokus dan terintegrasi. Sementara itu, ID Food akan diarahkan untuk fokus pada bisnis perdagangan.

"Sejalan dengan proses itu, kita ingin melakukan proses konsolidasi dengan melakukan merger, penggabungan dari ID Food ke SGN. Tujuannya SGN akan fokus ke agriculture manufacture company untuk gula dan tanaman lainnya," terang dia.

"ID Food akan fokus bisnisnya menjadi trading company (bisnis perdagangan). Jadi memang ini sengaja kita lakukan sehingga mereka fokus kepada core business-nya masing-masing," kata Dony.

Dengan konsolidasi tersebut, pemerintah menargetkan terbentuknya satu holding gula yang menguasai sebagian besar pangsa pasar nasional. Juga, langkah ini bertujuan memperjelas fokus bisnis masing-masing entitas agar lebih efektif dalam menjalankan perannya di industri.

"Dengan demikian kita memiliki satu holding pabrik gula yang menguasai 60 persen dari total market share yang ada di Indonesia," ujarnya.

Ditemui usai rapat, Dony menambahkan kerugian tersebut terjadi pada tahun sebelumnya, yakni tahun 2025, dan menjadi sinyal kuat perlunya transformasi di industri gula. Ia menilai, tanpa perbaikan, tekanan tidak hanya dirasakan perusahaan besar tetapi juga petani.

"Tahun lalu. Tapi jangan dilihat itu, artinya kita melihat bahwa, harus melihat anglenya itu kita harus melakukan transformasi perubahan di dalam industri gula kita," jelas Dony.

Ia juga memastikan proses merger akan segera dirampungkan dalam waktu dekat sebagai bagian dari restrukturisasi BUMN sektor gula.

"Bulan depan harus sudah harus selesai," katanya.

Selain itu, seluruh perusahaan gula milik ID Food akan diintegrasikan ke dalam SGN, sementara fungsi perdagangan tetap dijalankan oleh ID Food.

"Kita akan mengambil alih semua perusahaan gulanya ID Food dan disatukan ke dalam SGN," ujarnya.

Tekanan Impor Gula

Dalam kesempatan tersebut, Dony menyoroti importasi gula dan langkah pemerintah untuk merealisasikan swasembada gula. Untuk itu, imbuh dia, perlu ada keseriusan menyelesaikan persoalan yang ada. Yaitu, kebocoran gula rafinasi ke pasar-pasar konsumsi.

"Kalau ini diteruskan, sulit untuk industri gula kita berkembang akibat kebocoran-kebocoran gula rafinasi ke pasar. Saya berharap sejalan dengan apa yang diharapkan Presiden Prabowo, bahwa kali ini kita betul-betul serius menata ulang industri gula kita. Kalau tidak kita rapat begini terus-terusan saja, tapi impactnya tidak akan selesai-selesai," ucapnya.

Dia mengungkapkan, perusahaan gula pelat merah, yakni Sugar Co mencatatkan kerugian hingga Rp680 miliar. Kerugian ini disebut terjadi akibat tekanan harga yang dipicu masuknya gula rafinasi impor ke pasar gula konsumsi.

"Tahun ini, Sugar Co membukukan rugi Rp 680 miliar akibat daripada harga yang memang tidak cukup baik, akibat daripada impor gula yang tidak terkontrol," kata Dony.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut tidak lepas dari kebocoran gula rafinasi yang masuk ke pasar gula konsumsi, sehingga menekan harga gula dalam negeri dan membuat industri sulit berkembang. Menurutnya, jika persoalan ini terus berlanjut, maka industri gula nasional akan terus tertekan dan sulit tumbuh.

Dony juga menyinggung langkah intervensi yang sebelumnya dilakukan pemerintah, termasuk penyerapan gula masyarakat melalui subsidi. Namun, upaya tersebut dinilai belum memberikan dampak signifikan terhadap perbaikan pasar.

"Saya dengan Pak Mentan (Menteri Pertanian Amran Sulaiman) sudah berkali-kali, sebetulnya kita melakukan subsidi ke dalam pasar untuk mengambil seluruh gula dari masyarakat sebesar Rp1,5 triliun. Tetapi itu juga tidak memberikan dampak yang signifikan," ucap dia.

Ia menekankan, persoalan ini tidak cukup diselesaikan melalui rapat semata, melainkan membutuhkan pembenahan nyata dalam tata kelola industri.

"Sebetulnya upaya kami bersama Pak Mentan untuk menjadikan industri gula ini betul-betul swasembada dan juga memberikan manfaat dengan petani kita, didukung regulasi yang cukup kuat. Kalau tidak akan sulit bagi kami menghadapi harga gula akibat kebocoran gula rafinasi ke masyarakat," tegasnya. 

"Karena itu kami sebetulnya di industri sangat berharap pertemuan ini menghasilkan sesuatu yang konkret mengenai tata kelola industri gula kita ke depan. Karena betul-betul Bapak Presiden berharap gula ini bisa swasembada," ucapnya.

Dengan begitu, sambung Dony, petani tebu dapat menikmati hasil pertaniannya. Tidak hanya menanam lantas mengalami kerugian akibat harga yang tidak sesuai.

Materi paparan Mentan Amran Sulaiman terkait kondisis tebu nasional saat ini dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (8/4/2026). (Tangkapan Layar Youtube/TVR Parlemen)Foto: Materi paparan Mentan Amran Sulaiman terkait kondisis tebu nasional saat ini dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (8/4/2026). (Tangkapan Layar Youtube/TVR Parlemen)
Materi paparan Mentan Amran Sulaiman terkait kondisis tebu nasional saat ini dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (8/4/2026). (Tangkapan Layar Youtube/TVR Parlemen)

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Sebut Ada Salah Paham, Amran Bicara Proyek Peternakan Rp20 T Danantara


Most Popular
Features