Amran Bidik RI Swasembada Gula Konsumsi Paling Lambat Tahun 2027
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menargetkan Indonesia dapat mencapai swasembada gula konsumsi paling lambat pada 2027. Hal ini disampaikannya dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI.
Ia mengatakan, gula konsumsi merupakan komoditas penting dalam sistem pangan nasional yang harus segera diperkuat di tengah meningkatnya kebutuhan.
"Dari seluruh komoditas pangan yang kita kelola, gula konsumsi menempati posisi sangat penting," kata Amran dalam Raker di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Amran memaparkan, kebutuhan gula nasional saat ini mencapai 6,7 juta ton, terdiri dari gula industri 3,9 juta ton dan konsumsi 2,8 juta ton. Sementara produksi gula kristal putih diperkirakan hanya 2,67 juta ton dari luas panen 563.000 hektare dengan produktivitas 4,74 ton.
"Dengan demikian kita masih perlu 4,03 juta ton," ujarnya.
Ia menegaskan, peningkatan produktivitas menjadi kunci utama untuk mengejar target swasembada. Salah satu persoalan utama yang ditemukan di lapangan adalah kondisi tanaman tebu yang sudah pernah dipanen atau ratoon.
"Sebenarnya ini baru 2025 Bapak Presiden minta tingkatkan produktivitas. Masalah utama di pergulaan adalah ratoon-nya. Itu 80% ratoon 10 atau 7, artinya umurnya 7 tahun, 10 bahkan 20 tahun tapi kembali lagi ratoon 4," terang dia.
Ia menyebut, hasil pengecekan menunjukkan mayoritas tanaman tebu sudah tidak layak.
"Kami setelah mengecek 70%-80% itu rusak, jadi tidak layak," sebutnya.
Amran menilai, peremajaan tanaman menjadi langkah mutlak untuk meningkatkan produktivitas. "Seharusnya itu 25% kita bongkar setiap tahun, itu mutlak kalau mau produktivitas tinggi," tegas dia.
Untuk itu, pemerintah menyiapkan program bongkar ratoon secara besar-besaran.
Foto: Kebun tebu. (Dok. holding-perkebunan)Kebun tebu. (Dok. holding-perkebunan) |
"Nah sekarang, Ibu Ketua, solusinya adalah kami sudah mengambil langkah bersama swasta dan PTPN (PT Perkebunan Nusantara) kita anggarkan 100.000 hektare satu tahun," kata Amran.
"Kami anggarkan di tahun 2025 itu Rp1,7 triliun dan itu hibah APBN untuk bongkar ratoon masyarakat. Ini kami sudah, kami yakin insya allah kalau ini konsisten tahun 2027 itu swasembada gula putih, kemudian kita lanjutkan untuk industri," sambungnya.
Ditemui usai rapat, Amran menambahkan, program bongkar ratoon akan dilakukan secara bertahap untuk menyasar lahan tebu yang sudah tidak produktif.
"Tahun ini kami rencanakan 100 ribu hektare," ucap Amran.
Ia menjelaskan, program tersebut dirancang berlangsung selama tiga tahun dengan dukungan anggaran yang telah disiapkan pemerintah.
"Kemarin itu Rp1,7 triliun per tahun, terus-terus kita akan bongkar 300 ribu hektare (3 tahun, 100 ribu hektare per tahun), karena yang bermasalah 300 ribu hektare," katanya.
Menurutnya, perbaikan tanaman tebu rakyat akan berdampak langsung pada peningkatan produksi.
"Kalau ini sudah dibongkar, sudah pasti kenaikan produksi itu insya Allah pasti. Itu 80% kita perbaiki, tebu rakyat," ucap dia.
Ia kembali menegaskan target swasembada gula konsumsi dapat tercapai dalam waktu dekat.
"Kenaikan produksi yang jelas paling lambat 2027 kita swasembada white sugar, gula putih. Seterusnya kita cicil sampai gula industri," katanya.
Amran juga menyebut selisih antara produksi dan kebutuhan gula konsumsi saat ini sudah semakin kecil.
"Itu tinggal 200 ribu ton lagi, insya Allah mudah-mudahan. Kalau saya sih mudah-mudahan ini tahun, tapi paling lambat tahun depan," ungkap Amran.
"Karena sekarang produksi 2,7 (juta ton) atau 2,6 juta ton, seharusnya konsumsi masyarakat setahun 2,8-2,9 juta ton, jadi aman," pungkasnya.
(wur) [Gambas:Video CNBC]
Foto: Kebun tebu. (Dok. holding-perkebunan)