Internasional

Perang AS-Iran Makan Korban Baru: India

tfa, CNBC Indonesia
Selasa, 28/07/2026 21:30 WIB
Foto: Bendera India. (Dok. Pixabay)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pertumbuhan ekonomi India diperkirakan akan melambat signifikan pada tahun fiskal 2026/2027. Hal ini seiring melemahnya investasi swasta dan meningkatnya tekanan akibat lonjakan harga minyak global yang dipicu konflik di Timur Tengah, seperti perang Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Berdasarkan jajak pendapat Reuters terhadap 42 ekonom, produk domestik bruto (PDB) India diproyeksikan hanya tumbuh 6,6%, turun dari 7,7% pada tahun fiskal sebelumnya. Ekonom India di Societe Generale, Kunal Kundu, menilai angka pertumbuhan resmi kemungkinan tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi riil.

"Kami meyakini angka utama tersebut kemungkinan melebih-lebihkan laju aktivitas ekonomi yang sebenarnya," ujar Kundu, seperti dikutip Selasa (28/7/2025).


Menurutnya, kenaikan investasi dan akumulasi persediaan memang menopang pertumbuhan. Tetapi, distorsi pengukuran membuat kondisi ekonomi terlihat lebih kuat dibandingkan fundamental yang sebenarnya.

Survei Reuters yang dilakukan pada 21-27 Juli juga memperkirakan ekonomi India hanya akan pulih secara bertahap dengan pertumbuhan 6,8% pada tahun fiskal 2027/2028. Perlambatan ini terjadi ketika perekonomian terbesar ketiga di Asia masih bergantung pada belanja pemerintah sementara investasi swasta dinilai belum pulih secara berkelanjutan.

Meski data resmi menunjukkan investasi swasta tumbuh 10,8% pada kuartal Januari-Maret, banyak ekonom meragukan tren tersebut dapat bertahan. Pelaku usaha masih menahan ekspansi karena ketidakpastian permintaan domestik, sehingga berpotensi membatasi penciptaan lapangan kerja.

Kepala Ekonom India Morgan Stanley, Upasana Chachra, mengatakan prospek pertumbuhan global yang melemah, perlambatan perdagangan, serta lesunya konsumsi dan investasi domestik dapat mengurangi insentif perusahaan untuk memperluas kapasitas produksi. Menurutnya, banyak perusahaan masih menunda belanja modal berskala besar meski dukungan kebijakan telah tersedia.

Tekanan terhadap ekonomi India juga datang dari lonjakan harga minyak mentah dunia setelah konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran. Sebagai negara yang mengimpor sekitar 90% kebutuhan minyak mentahnya, India sangat rentan terhadap kenaikan biaya energi yang berkepanjangan.

Harga minyak yang lebih tinggi telah meningkatkan biaya bahan bakar dan transportasi, sehingga memicu risiko inflasi sekaligus menekan konsumsi domestik. Kondisi tersebut membuat Reserve Bank of India (RBI) menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara menopang pertumbuhan ekonomi dan mengendalikan inflasi.

Mayoritas ekonom dalam survei Reuters memperkirakan RBI akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan kebijakan Agustus sambil mengevaluasi dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi. Analis BofA juga memperkirakan bank sentral akan tetap menahan suku bunga dan mempertahankan fokus pada pengendalian inflasi di tengah ketidakpastian prospek pertumbuhan ekonomi.


(tfa/sef/tfa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: RI-India Perkuat Kerja Sama Industri Pertahanan