Internasional

Kronologi Rakyat Ngamuk Sampai Menteri Mundur, Negara Lumpuh Total

Romys Binekasri, CNBC Indonesia
Minggu, 26/07/2026 18:00 WIB
Foto: REUTERS/Anushree Fadnavis

Jakarta, CNBC Indonesia - Perpolitikan India kini menjadi sorotan karena warga negaranya menuntut pengunduran diri pejabatnya. Sharmendra Pradha memilih mundur dari kursi Menteri Pendidikan India akibat dari buntut protes kebocoran soal ujian sejak bulan Mei lalu.

Sebelumnya aksi protes para anak muda yang dinamakan Partai Janata Kecoa (CJP) menyuarakan soal masalah kebocoran soal ujian dan mendesak Pradhan meninggalkan kursinya sebagai menteri. Kebocoran itu disebut telah menghancurkan kehidupan jutaan siswa dan lebih dari selusin siswa bunuh diri.


"Mengingat situasi yang terjadi di Jantar Mantar dan seluruh negeri, agar kekuatan anti-sosial tidak memanfaatkan situasi ini, saya telah mengirimkan surat pengunduran diri kepada perdana menteri," kata Pradhan dalam unggahan di media sosial, dikutip dari The Guardian, Minggu (26/7/2026).

Ratusan pendukung gerakan "kecoa" dilaporkan berkumpul di ibu kota New Delhi, India pada tanggal 20 Juli 2026 lalu. Sebuah laporan menyebutkan pemerintah setempat sempat memblokir internet di lokasi protes.

Dua sumber kepada Reuters mengatakan perusahaan telekomunikasi diperintahkan untuk menonaktifkan layanan seluler bagian tengah Delhi. Termasuk bagian dalam dan sekitar lokasi demo.

Mengutip Reuters, aksi itu digelar bertepatan dengan dimulainya sidang parlemen. Massa Gerakan Cockroach Janta Party (CJP) menuntut Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan dan Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi resign menyusul skandal kebocoran soal ujian nasional yang memicu kemarahan jutaan pelajar dan mahasiswa.

Gerakan kecoa ini bermula setelah soal ujian masuk sekolah kedokteran nasional bocor pada Mei lalu. Kebocoran itu berdampak pada lebih dari 2 juta peserta ujian, yang akhirnya harus mengikuti ujian ulang.

Gerakan yang awalnya berkembang di media sosial itu kini berubah menjadi aksi massa besar. Dalam hitungan hari, akun media sosial CJP disebut berhasil mengumpulkan sekitar 22 juta pengikut di Instagram, sebelum kemudian memperoleh dukungan dari sejumlah partai oposisi.

Situasi semakin memanas setelah aktivis Sonam Wangchuk, yang bergabung dalam aksi duduk sejak akhir Juni dan melakukan mogok makan, dipindahkan secara paksa ke rumah sakit oleh aparat pada Sabtu lalu. Peristiwa itu memicu gelombang simpati dan mendorong lebih banyak demonstran datang ke ibu kota.

Melalui surat yang diunggah di akun X miliknya dari rumah sakit, Wangchuk menyatakan akan mengakhiri aksi mogok makan jika pemerintah bersedia bertanggung jawab atas kegagalan sistem pendidikan. Termasuk kebocoran soal ujian atau jika para demonstran diizinkan menyampaikan aspirasi mereka di parlemen.

"Semua pemimpin yang berkuasa tidak kompeten. Saya datang untuk memprotes karena kami tidak ingin lagi ada kebocoran soal ujian. Ini harus diakhiri," kata mahasiswa berusia 21 tahun yang datang dari Kota Meerut, Adi Nathan, menghadiri protes.

"Kami ingin korupsi ini berakhir. Kami ingin semua kecurangan dalam kebocoran soal ujian dihentikan," ujar mahasiswa lainnya, Mohammed Tabrez (22), yang mengatakan dirinya datang dari Negara Bagian Uttar Pradesh untuk menyuarakan penolakan terhadap praktik korupsi dalam penyelenggaraan ujian.

Sementara itu, para analis menilai menguatnya gerakan CJP mencerminkan meningkatnya frustrasi generasi muda terhadap tingginya pengangguran dan berulangnya skandal kebocoran soal ujian. Data pemerintah menunjukkan tingkat pengangguran nasional pada 2025 mencapai 3,1% untuk penduduk usia 15 tahun ke atas.

Namun, pada kelompok usia 15-29 tahun, angkanya jauh lebih tinggi yakni 9,9%, bahkan mencapai 13,6% di wilayah perkotaan. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang memicu meluasnya gelombang protes terhadap pemerintahan PM Modi.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Jika Bahlil Tambah Produksi Batu Bara, Devisa Negara Meroket?