CLOSE AD
MARKET DATA
Internasional

Heboh Tambang Tembaga China Dikepung, 13 Orang Tewas

sef,  CNBC Indonesia
24 July 2026 20:30
Heboh Tambang Tembaga China Dikepung, 13 Orang Tewas
Foto: Ilustrasi (CNBC Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tambang tembaga milik China di Pakistan menghadapi ancaman serius setelah serangkaian serangan militan mengganggu jalur logistik menuju lokasi tambang. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap kelangsungan pasokan tembaga, yang menjadi komoditas impor terbesar China dari Pakistan.

Sebagaimana dilaporkan Nikkei Asia, Jumat (24/7/2026), dalam tiga bulan terakhir sedikitnya tujuh serangan terjadi di Provinsi Balochistan, Pakistan barat daya. Serangan tersebut menyasar jalan raya, kendaraan pengangkut, konvoi mineral, hingga lokasi pertambangan.

Sedikitnya 13 orang dilaporkan tewas dalam rangkaian serangan itu. Selain itu, puluhan kendaraan rusak atau terbakar, sementara jalur utama N-40 Quetta-Taftan Highway yang menghubungkan wilayah tambang dengan perbatasan Iran juga sempat lumpuh.

Akibat gangguan tersebut, pasokan logistik ke tambang Saindak, satu-satunya tambang tembaga China di Pakistan, ikut terganggu. Salah satu kebutuhan yang mulai langka adalah bahan bakar minyak untuk mengoperasikan pembangkit listrik di lokasi tambang.

"Minyak bakar untuk menghasilkan listrik di proyek Saindak mulai menipis karena truk pengangkut tidak bisa mencapai lokasi akibat serangan militan," ujar seorang pejabat pemerintah Pakistan yang enggan disebutkan namanya.

Tambang Saindak berada di Distrik Chagai, Provinsi Balochistan, yang berbatasan langsung dengan Iran dan Afghanistan. Tambang tersebut dimiliki perusahaan negara Pakistan Saindak Metals Limited (SML), tetapi sejak 2002 dioperasikan oleh MCC Resources Development (MRDL), anak usaha Metallurgical Corporation of China (MCC).

Kontrak pengelolaan tambang bahkan telah diperpanjang selama 15 tahun pada 2022. Seluruh produksi tembaga dari tambang tersebut diekspor ke China.

Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan China mengimpor tembaga senilai hampir US$1 miliar (sekitar Rp16,3 triliun dari Pakistan pada 2024. Nilai itu setara sekitar 35% dari total impor China dari Pakistan, termasuk sekitar 23.700 metrik ton tembaga yang diproduksi di Tambang Saindak.

Meski demikian, Direktur Utama SML Raziq Sanjrani menegaskan operasional tambang masih berjalan normal. Menurutnya, proyek tersebut telah beroperasi selama 25 tahun dan belum ada rencana penghentian produksi.

Namun dalam pernyataan terpisah yang dirilis pekan ini, perusahaan mengakui tingkat risiko keamanan di Chagai dan wilayah Balochistan tergolong tinggi. Serangan berulang di sepanjang Jalan Raya N-40 telah menghambat pergerakan truk logistik, konvoi keamanan, serta distribusi berbagai kebutuhan tambang.

CEO perusahaan intelijen risiko pertambangan asal Amerika Serikat, Region Alert, Sean Hagarty, menyebut kelompok separatis Baloch kini menjalankan strategi "blokade ekonomi" dengan menguasai jalur distribusi utama.

"Apa yang terjadi di Saindak merupakan bukti paling jelas bahwa blokade ekonomi tersebut mulai berdampak. Siapa pun yang mengangkut barang atau personel melalui jalur yang sama menghadapi risiko serupa," katanya.

Pemerintah Pakistan menyatakan telah meningkatkan pengamanan di sekitar proyek-proyek pertambangan. Menteri Negara Urusan Dalam Negeri Pakistan Talal Chaudhry mengatakan pemerintah juga telah menerima keluhan keamanan dari pengelola tambang Saindak dan mengerahkan tambahan personel untuk melindungi fasilitas, pekerja, serta pengiriman logistik.

(sef/sef) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Freeport Targetkan Smelter Gresik Beroperasi Lagi di September 2026


Most Popular
Features