MARKET DATA

Freeport Targetkan Produksi Emas 26 Ton di 2026, Semuanya Dibeli Antam

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
14 April 2026 14:35
PT Freeport Indonesia memproduksi emas batangan dengan kemurnian 99,99% dari fasilitas Precious Metal Refinery (PMR) di Gresik, Jawa Timur. (Dok. PT Freeport Indonesia)
Foto: PT Freeport Indonesia memproduksi emas batangan dengan kemurnian 99,99% dari fasilitas Precious Metal Refinery (PMR) di Gresik, Jawa Timur. (Dok. PT Freeport Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Freeport Indonesia (PTFI) menargetkan produksi logam emas sebanyak 26 ton pada 2026, seiring dengan pemulihan operasional tambang bawah tanah Grasberg Block Cave, Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Seluruh hasil produksi emas tersebut dipastikan akan diserap atau dibeli oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam).

Direktur Utama PT Freeport Indonesia Tony Wenas menjelaskan, produksi logam emas tahun ini diproyeksikan mencapai 800 ribu ounces atau setara dengan 26 ton. Dia mengatakan, penyerapan oleh Antam dilakukan sesuai dengan rencana kerja strategis perusahaan guna mendukung hilirisasi mineral di dalam negeri.

"Nah untuk tahun 2026 rencana produksi metal kami adalah 1,1 miliar pon tembaga dan 800 juta ounces emas. Kalau ditonkan itu emasnya akan mencapai 26 ton dan rencananya ini 100% akan di-offtake oleh PT Antam," ungkapnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI, Jakarta, Senin (13/4/2026).

Target produksi emas perusahaan pada tahun ini masih dalam tahap pemulihan setelah pihaknya sempat menghentikan total kegiatan di Grasberg Block Cave (GBC) akibat insiden longsoran material pada September tahun lalu. Saat ini, PTFI sedang melakukan proses peningkatan produksi (ramp up) secara bertahap di area GBC.

"Rencananya akan melakukan ramp up mulai dari bulan Mei sampai dengan kuartal pertama 2027 baru kami akan mulai mengoperasikan Production Block 1 yang memang high grade," ucapnya.

Selain emas, PTFI juga menargetkan produksi tembaga sebesar 1,1 miliar pon pada 2026. Logam tersebut dihasilkan dari penambangan bijih yang diproyeksikan mencapai 156.000 ton per hari, yang kemudian diolah menjadi konsentrat sebelum masuk ke tahap pemurnian di fasilitas pemurnian dan pemrosesan (smelter) di Gresik, Jawa Timur.

"Produksi metalnya baru akan terlihat di bulan Juli karena dari penambang kita kumpulkan dulu yang banyak dijadikan konsentrat, kemudian konsentrat dikirim ke Gresik ke smelter di Gresik," bebernya.

Dengan asumsi harga tembaga US$ 4,75 per pon dan harga emas US$ 4.000 per ounce, pihaknya memperkirakan kontribusi pada penerimaan negara tahun 2026 ini mencapai US$ 2,9 miliar atau setara Rp 49,65 triliun (asumsi kurs Rp 17.121 per US$).

Penerimaan tersebut terdiri dari setoran pajak US$ 1,2 miliar, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) US$ 600 juta, serta dividen kepada MIND ID sebesar US$ 1 miliar setara Rp 17,12 triliun.

Pada 2027, kontribusi pada penerimaan negara diperkirakan akan kembali meningkat menjadi US$ 4,3 miliar atau hampir Rp 70 triliun. Kemudian, pada 2028 dan seterusnya naik lagi menjadi sekitar US$ 6 miliar atau sekitar Rp 100 triliun setiap tahunnya dalam bentuk pajak, PNBP, dan juga dividen bagi negara.

PTFI mencatat, pada tahun 2025 lalu perusahaan sempat tidak mencapai target yang sudah ditentukan untuk tahun itu. Pada komoditas emas, perusahaan hanya mampu memproduksi 1,1 juta ounces setara 33 ton atau 49% dari target sebelumnya 2,2 juta ounces atau 67 ton.

(wia) [Gambas:Video CNBC]
Next Article 2 Tambang Ini Jadi Andalan Produksi Tembaga & Emas Freeport


Most Popular
Features