CLOSE AD
MARKET DATA

Bea Keluar Batu Bara Tak Kunjung Jadi, Purbaya Blak-blakan Ungkap Ini

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia
24 July 2026 14:41
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa saat menyampaikan pemaparan dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Juli 2026 di kantor pusat Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (21/7/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, penerapan bea keluar batu bara masih terus dibahas antara Kementerian Keuangan dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Meski penerapan bea keluar batu bara tak kunjung jadi, Purbaya menilai, efeknya ke penerimaan negara tidak akan mengalami gangguan. Sebab, harga batu bara ia anggap masih cukup bagus untuk mendongkrak penerimaan perpajakan dari sisi bea keluar.

Selain itu, Kementerian ESDM juga ia tegaskan telah memutuskan untuk menambah produksi batu bara tahun ini dalam revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

"Masih diskusikan. Yang jelas itu RKAB-nya kan udah diatur. Jadi saya masih dapet pendapatan tambahan dari situ," kata Purbaya di kantornya, Jakarta, Jumat (24/7/2026).

"Apalagi harga batu bara naik kemarin, saya masih untung. Yang penting kan untuk saya gini, mengamankan anggaran," tegasnya.

Dengan adanya penyesuaian RKAB yang dilakukan Kementerian ESDM demi mendorong produksi industri batu bara di dalam negeri, Purbaya memastikan setoran penerimaan negara dari sisi bea keluar tidak akan mengalami tekanan meski pengenaan bea keluar batu bara belum dilakukan.

"Kalau RKAB-nya diadjust, aman sih. Kayaknya kalau perintah presiden sudah saya lihat RKAB diadjust," paparnya.

Sebagaimana diketahui, pemerintah memberikan kesempatan bagi para pelaku usaha pertambangan untuk mengajukan permohonan revisi RKAB 2026.

Batas waktu pengajuan tersebut ditetapkan paling lambat hingga akhir Juli 2026 guna mempercepat kepastian volume produksi nasional di semester kedua tahun ini.

(arj/arj) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Kantor Purbaya Ungkap Potensi 'Durian Runtuh RI' dari Krisis TimTeng


Most Popular
Features