Gen Z Blak-blakan Pilih Nikah di KUA, Tolak Pesta Mewah demi Ini

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Selasa, 21/07/2026 15:20 WIB
Foto: (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bagi banyak orang, pesta pernikahan masih dianggap sebagai momen sekali seumur hidup yang layak dirayakan semeriah mungkin. Gedung megah, ratusan tamu, hingga dekorasi mewah kerap menjadi gambaran ideal sebuah resepsi. Namun, cara pandang itu perlahan mulai bergeser di kalangan generasi Z.

Alih-alih menghabiskan ratusan juta rupiah untuk pesta, sebagian anak muda kini justru memilih menggelar akad nikah sederhana di Kantor Urusan Agama (KUA). Uang yang semula disiapkan untuk resepsi lebih dipilih dialihkan untuk kehidupan setelah menikah, mulai dari membeli rumah, melanjutkan cicilan, hingga menyiapkan masa depan keluarga kecil.

Cerita itu dialami Seruni Cantika. Perempuan yang memutuskan menikah di KUA itu mengaku pilihannya bukan semata-mata karena ingin berhemat, tetapi karena merasa pernikahan hanyalah awal dari perjalanan panjang bersama pasangan.


"Alasan utamanya simpel, dan mungkin banyak ya yang sudah berpikiran sama kayak saya: mending uangnya dipakai untuk kehidupan setelah pernikahan," kata Seruni kepada CNBC Indonesia.

"Karena pernikahan itu bukan suatu akhir ya, tapi awal dari perjalanan," sambungnya.

Keputusan itu juga dipengaruhi pengalaman yang ia lihat di lingkungan keluarga. Seruni mengaku sempat menyaksikan salah satu sepupunya menggelar pesta mewah, tetapi harus dibayar dengan beban utang keluarga.

"Mulanya saya berpikiran untuk menikah di KUA saja itu karena saya melihat sepupu saya yang bela-belain gelar pesta mewah tapi orang tuanya harus terlilit utang. Amit-amit saya, pas tahu itu saya langsung komitmen, nggak deh bikin pesta kalau cuma bikin pusing sama utang. In this economy ya," tutur dia.

Bahkan ketika kondisi tabungannya sebenarnya sudah cukup untuk menggelar pesta, Seruni mengaku tetap tak tergoda. Mendengar cerita teman-temannya yang harus direpotkan dengan berbagai urusan persiapan resepsi justru membuatnya semakin mantap memilih akad sederhana.

"Lagipula, meski tabungan sudah aman ya, maksudnya kita sudah ada pegangan dan itungan untuk gelar pesta, saya dengar dari teman-teman saya sebelumnya itu, pusing juga mereka ngurusin tetek-bengek persiapan pestanya. Buat saya yang memang nggak mau ribet, udahlah mending KUA saja," katanya.

Sejumlah warga mendatangi Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tebet, Jakarta, Rabu (15/7/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Sejumlah warga mendatangi Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tebet, Jakarta, Rabu (15/7/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Meski memilih menikah di KUA, Seruni tetap ingin mengabadikan momen bahagianya. Ia menyewa fotografer dan menggunakan jasa perias agar hari spesialnya tetap terasa istimewa.

"Untungnya pasangan saya juga sependapat. Akhirnya saya pilih sewa fotografer yang mau diajak ke KUA, terus saya sudah makeup rapih ya, jadi selesai akad di balai nikah, saya langsung foto-foto dengan fotografer yang disewa itu. Bagaimanapun kita tetap butuh dokumentasi," ucap dia.

Usai akad, Seruni dan keluarga tetap menggelar syukuran sederhana. Namun, tamu yang diundang benar-benar dibatasi.

"Tetap ada (dirayakan), tapi saya cuma order 30 pax di salah satu restoran keluarga. Benar-benar keluarga inti saja," kata Seruni.

Dengan konsep tersebut, ia menuturkan biaya yang dikeluarkan pun jauh lebih ringan dibanding pesta pernikahan pada umumnya.

"Kayaknya waktu itu sekitar Rp6 juta atau Rp7 juta ya, soalnya rumah makan Sunda-an aja sih, yang per pax nya nggak sampai Rp200 ribu," ucapnya.

"Dan KUA nya gratis, paling saya bayar tukang rias, sewa baju dan fotografer saja. Hemat banget pokoknya," lanjut dia.

Cerita berbeda datang dari Juna. Keputusannya menikah di KUA lebih banyak dipengaruhi kondisi keuangan. Saat itu, ia dan pasangannya tengah mencicil rumah sehingga ruang untuk menyiapkan pesta nyaris tidak ada.

"Kebetulan budgetnya tipis, karena udah sambil berjalan KPR rumah, sedangkan gaji juga belum 2 digit. Nggak ke-cover kalau kita nabung nikah sekaligus KPR rumah," kata Juna.

"Memang sudah di atas UMR (gajinya), tapi masih jauh dari kata nutup sih buat bikin pesta gitu. Apalagi saya termasuk sandwich generation ya," sambungnya.

Juna mengaku biaya pernikahannya bahkan jauh lebih kecil. Karena menikah pada hari kerja, akad di KUA tidak dipungut biaya. Dokumentasi pun dibantu oleh sang kakak.

"Jujur, kemarin saya minim banget sih. Kayaknya cuma Rp1 jutaan, itu sudah sama sewa baju. Jasa foto gitu saya minta tolong kakak saya, dia lumayan bisa foto ala-ala. KUA saya di hari kerja makanya gratis, kayaknya kemarin bayar itu cuma bayar buat calo ngurusin ke RT/RW kelurahan gitu ya," ungkap dia.

Bagi Juna, tren menikah sederhana justru sangat membantu pasangan muda yang sedang berjuang membangun kehidupan rumah tangga.

"Jujur ya, saya sangat terbantu dengan adanya tren gini. Bukan saya nggak ngehargai pasangan, justru ini cara saya menghargai pasangan saya. Saya mau memastikan keluarga kecil kami nanti ke depannya berkecukupan, maksudnya sudah nggak pusing mikir gimana uang sudah habis buat pesta," ujarnya.

Ia mengakui sempat mempertimbangkan potensi uang amplop dari tamu apabila menggelar resepsi pernikahan. Namun setelah dihitung, menurutnya pemasukan tersebut tetap tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan.

"Iya itu lumayan ya. Tapi menurut saya nggak sebanding dengan biaya yang kita keluarin. Kebetulan saya sudah coba hitung-hitung, ternyata tetap ngepres banget, nggak masuk di budget kami yang memang gaji kantoran Jakarta, mepet UMR gini kan," kata Juna.

Sementara itu, Anisa Rayu memiliki alasan berbeda. Ia menikah di KUA bukan semata karena pertimbangan biaya, melainkan karena permintaan orang tua yang ingin pernikahan segera dilangsungkan.

"Kebetulan kemarin orang tua saya minta segera nikah saja, untuk resepsinya menyusul. Karena kebetulan adik saya sudah mau nikah, takut kelangkahan, ada budaya itu pamali, katanya nggak boleh adik nikahnya ngeduluin kakak. Jadi saya diminta buru-buru nikah duluan, untungnya pacar saya kemarin (sekarang sudah suami) bersedia," kisah Anisa.

Meski begitu, Anisa tidak menutup kemungkinan tetap menggelar resepsi pada waktu mendatang. Hanya saja, konsep yang dipilih kemungkinan jauh lebih sederhana dibanding pesta pernikahan pada umumnya.

"Kayaknya tetap ada, tapi belakangan mempertimbangkan buat acara kecil-kecil intimate wedding saja sih. Tapi itu belum, masih coba kami atur waktu resepsinya," ucapnya.

pasangan Gen Z lainnya Ade bersama Intan juga mengatakan hal yang sama. Pasangan Gen Z yang menikah di KUA Tanjung Priok ini mengungkapkan pilih nikah di KUA karena simpel dan tak menghamburkan banyak uang. Mereka berdua sepakat uang mahar pernikahan akan disimpan untuk kebutuhan di kemudian hari.

"Kami sepakat nikah di KUA dan gelar syukuran kecil-kecilan dengan keluarga di rumah," ucap Ade.

"Makan ala kadarnya. Uang lebihnya disimpan buat kebutuhan masa depan. Masih mikir buat nanti kebutuhan anak, uang kontrakan dan lain-lain," timpal Intan.

Ade dan Intan menghilangkan kata gengsi dan omongan tetangga soal tak gelar pesta pada pernikahannya.

"Omongan tetangga biasanya muncul kayak kok gak ada undangan pernikahan, jangan-jangan apa nih. Ya cuekin aja," bebernya.

Pengakuan Gen Z ini menunjukkan bahwa keputusan menikah di KUA lahir dari beragam pertimbangan. Ada yang ingin mengalokasikan dana untuk masa depan rumah tangga, ada yang harus menyesuaikan kemampuan finansial, ada pula yang didorong situasi keluarga. Namun benang merahnya sama: bagi mereka, kemewahan pesta tak lagi menjadi ukuran utama sebuah pernikahan. Yang terpenting adalah memulai kehidupan baru tanpa terbebani persoalan yang sebenarnya masih bisa dihindari.


(wur) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Gen Z Jogja Panen Ilmu Bos OJK, Jurus Capai "Financial Health"