CLOSE AD
MARKET DATA

Gen Z Ramai-Ramai Nikah di KUA, Efeknya Terasa Sampai ke Pengusaha WO

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
21 July 2026 16:00
Sepasang calon pengantin Azril 24 tahun dan Julia 23 tahun menjalani prosesi akad nikah di KUA Tebet, Jakarta, Jumat, (17/7/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ramainya Gen Z memilih menikah di KUA atau menggelar intimate wedding mulai mengubah peta industri pernikahan. Di satu sisi, tren ini dianggap sebagai bentuk efisiensi pasangan muda yang enggan menghamburkan dana untuk pesta besar. Namun di sisi lain, pelaku usaha wedding organizer (WO), dekorasi, hingga catering dipaksa memutar strategi agar tetap bertahan di tengah pergeseran selera pasar.

Ketua Asosiasi Pengusaha Jasa Dekorasi Indonesia (Aspedi) DKI Jakarta sekaligus owner Garda Dekorasi, Warsono, mengatakan perlambatan di bisnis wedding memang mulai terasa jika dibandingkan masa pemulihan pasca pandemi pada 2022-2023. Menurut dia, calon pengantin kini lebih selektif, menekan anggaran, dan mengambil keputusan dalam waktu yang jauh lebih singkat.

"Terkait dengan kondisi bisnis di bidang Wedding Organization (WO), dekorasi, dan pendukung lainnya secara umum saat ini ada perlambatan dibanding sebelumnya pasca pandemi 2022-2023. Calon pengantin sekarang sudah bergeser, mereka lebih selektif dan tekan budget, serta mepet waktu untuk ambil keputusan di H-4 bulan. Beda banget sama sebelumnya, mereka sudah booking (pesan) di satu tahun sebelum hari H," kata Warsono kepada CNBC Indonesia.

Ia memperkirakan, dibanding tahun lalu penurunan permintaan berada di kisaran 25%-35%, terutama untuk pesta pernikahan skala besar.

"Kalau berbanding di tahun lalu untuk penurunan permintaan kisaran 25%-35%, hampir di semua industri wedding. Hanya saja ini bukan angka pasti," ujarnya.

Menurut Warsono, penurunan paling terasa di segmen menengah atas, khususnya pesta besar dengan tamu 800-1.000 orang. Sebaliknya, pernikahan intimate justru tumbuh.

"Penurunan order paling terasa di segmen menengah atas untuk pesta besar 800-1.000 tamu ke atas. Untuk yang intimate justru sangat tumbuh berkembang," ungkap dia.

Owner SatSet Wedding Organizer Adi Rahzalafna juga melihat gejala serupa. Ia menyebut tren nikah di KUA dan intimate wedding telah mengubah permintaan di berbagai lini bisnis wedding. Ada sektor yang turun, ada pula yang tetap, bahkan menguat.

Sejumlah warga mendatangi Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tebet, Jakarta, Rabu (15/7/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)Sejumlah warga mendatangi Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tebet, Jakarta, Rabu (15/7/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Sejumlah warga mendatangi Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tebet, Jakarta, Rabu (15/7/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

"Timbul berbagai dampak karena tren Nikah di KUA ini. Penurunan order umumnya terjadi pada acara berskala besar dan pada berbagai bidang seperti dekorasi, katering, MC dan Crew WO on the Day, entertainment. Tapi cenderung tetap di fotografer, videografer, dan MUA (make-up artist). Dan terjadi peningkatan pada bidang pendukung, yang mana ini pendatang baru, seperti jasa asisten pengantin, stand stall/jajanan kekinian," ujar Adi.

Menurut dia, pergeseran itu tidak berarti industri wedding kehilangan pasar sepenuhnya. Permintaan tetap ada, hanya bentuknya berubah.

"Permintaan layanan tetap ada, hanya lebih kepada perubahan gaya dan jumlah pesanan," katanya.

Di tengah perubahan itu, lanjut dia, sektor dokumentasi seperti foto dan video justru relatif bertahan.

"Fotografer atau videografer yang gaya baru itu terus berkembang, order cenderung tetap. Bisa paket bundling prewed, akad, resepsi. Sehingga lebih hemat," jelas dia.

Kenapa Banyak Gen Z Pilih Nikah di KUA?

Warsono menilai pergeseran ini tak bisa dilepaskan dari dua faktor sekaligus, yakni tekanan ekonomi dan perubahan karakter generasi muda. Menurut dia, calon pengantin sekarang, terutama di segmen menengah, lebih memilih paket efisien dan venue yang lebih sederhana.

"Ini benar banget, terlepas mereka di KUA atau venue kecil, memang sekarang mereka lebih ke efisiensi untuk menekan budget, dan pemain yang di segmen itu semakin ramai. Sebaliknya, segmen menengah atas sangat berdampak," kata Warsono.

Ia juga menekankan, tren ini bukan sekadar efek sesaat. Warsono menilai, jangka pendek dari fenomena ini karena dampak ekonomi dan daya beli masyarakat yang menurun. Tetapi untuk jangka panjangnya, karena terjadi perubahan pola pikir di kalangan masyarakat generasi Z.

"Kita akui generasi Z sudah berubah, mereka mengutamakan medsos dan melihat lebih efisien dibanding kemewahan. Jadi kita sebagai pelaku industri harus adaptif dan kreatif. Yang nggak mau ikut perkembangan akan cukup berat," ujarnya.

Sementara itu, Staf Wedding Organizer, Arini punya pandangan yang sedikit lebih moderat. Menurut dia, memang ada penurunan order dalam dua tahun terakhir, tetapi belum tentu sepenuhnya dipicu oleh tren nikah di KUA. Meski begitu, ia mengakui pesta besar memang lebih terdampak dibanding intimate wedding.

"Memang kalau dibanding beberapa tahun lalu ada penurunan sedikit, tapi belum bisa dipastikan penyebabnya karena orang memilih menikah di KUA atau ada faktor lainnya," kata Arini.

"Kalau yang saya lihat dari lingkup klien saya sekitar 2 tahun terakhir ya. Persentasenya nggak terlalu banyak sebenarnya," tambahnya.

Meski begitu, ia mengakui booking tahun ini memang lebih lemah dibanding tahun lalu.

"Kalau saya melihatnya agak turun jika dibandingkan tahun lalu khususnya. Misalkan diberi skala 1-10, tahun ini bisa disebut 7, sedangkan tahun lalu 8," ujar dia.

Arini juga melihat tren pasangan yang memilih akad sederhana atau intimate wedding makin nyata.

"Menurut saya, masih banyak yang memilih untuk melangsungkan intimate wedding sebagai salah satu solusinya, di mana masih bisa menyelenggarakan pesta namun dengan jumlah tamu minim dan budget yang lebih ramah di kantong. Tapi memang kalau melihat tren secara keseluruhan di lapangan, terlihat ada pergeseran sehingga makin banyak pasangan memilih menikah di KUA saja," kata Arini.

Menurut dia, dana yang tadinya disiapkan untuk resepsi besar kini kerap dialihkan ke kebutuhan lain.

"Tidak sedikit yang demikian, karena memilih mengalokasikan modal besar untuk pesta pernikahan tersebut ke hal lain seperti bulan madu di luar negeri, membeli rumah, atau hal lainnya untuk masa depan pernikahan," ujarnya.

Terjadi PHK?

Meski begitu, belum semua pelaku usaha sampai melakukan pemutusan hubungan kerja. Adi mengaku di bisnisnya justru menambah tenaga kerja. Sementara Warsono menyebut efisiensi dilakukan lewat pengurangan kontrak pekerja freelance musiman, bukan memangkas tim inti.

"Tetap ada, hanya belum signifikan seperti saat pandemi kita ubah pola kerja, salah satunya tidak perpanjang kontrak freelance musiman, staf yang ada di maksimalkan untuk efisiensi tanpa mengorbankan SDM yang terampil dan inti, karena mereka adalah aset perusahaan," kata Warsono.

Bagaimana Pengusaha Bertahan?

Untuk bertahan, para pelaku usaha kini dipaksa beradaptasi. Adi menyebut pihaknya terus mengembangkan kreativitas, menyesuaikan paket, dan menata ulang struktur biaya tanpa mengurangi kualitas layanan.

"Berupaya terus mengikuti tren dan mengembangkan kreativitas. Memperhitungkan dan menyesuaikan kembali paket yang ditawarkan, cost, tanpa mengurangi value," ujarnya.

Arini menyebut langkah serupa dilakukan banyak WO, yakni menawarkan paket all-in yang lebih murah, bekerja sama dengan vendor lain, hingga masuk ke bisnis event organizer.

"Menawarkan paket all in dengan harga lebih murah, bekerjasama dengan vendor lain, diversifikasi ke acara lain juga termasuk. Karena kebetulan kami tidak hanya ada WO, tetapi juga menjalankan EO (event organization) sejak beberapa tahun terakhir sebagai upaya pengembangan bisnis," kata Arini.

Sementara Warsono menilai industri wedding ke depan tak bisa lagi bertumpu pada pola lama. Selain menyesuaikan harga, pelaku usaha juga harus mengedukasi klien dan memperluas pasar ke event lain.

"Untuk bisa bertahan, bikin harga yang bisa menyesuaikan dengan permintaan, masuk event-event lain yang masih berkaitan, edukasi ke client agar budaya silaturahmi di Indonesia tetap terjaga," ujar Warsono.

Di mata pelaku usaha, tren nikah di KUA dan intimate wedding bukan semata ancaman, melainkan sinyal bahwa industri wedding sedang masuk fase baru. Pesta besar mungkin tak lagi dominan, tetapi kebutuhan akan jasa pernikahan tak benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk: lebih ringkas, lebih hemat, dan lebih dekat dengan selera generasi yang tak lagi memandang kemewahan sebagai ukuran utama sebuah pernikahan.

(wur) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bukan Pelit, Terungkap Ini Alasan Gen Z Pilih Nikah di KUA


Most Popular
Features