Dolar Rp 18.000, Airlangga Tegaskan Fundamental Ekonomi RI Masih Kuat

chd, CNBC Indonesia
Jumat, 10/07/2026 14:35 WIB
Foto: (CNBC Indonesia/Robertus Andrianto Serin)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih mengalami tekanan. Rupiah menyentuh Rp 18.000-an pada minggu ini. Merujuk data Refinitiv, nilai tukar rupiah dibuka menguat ke posisi Rp18.060/US$ atau terapresiasi tipis 0,06%.

Terkait dengan perkembangan ini, Airlangga menilai fundamental perekonomian Indonesia tetap kuat meski nilai tukar rupiah melemah hingga menyentuh level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Terbukti, sejumlah indikator utama ekonomi masih menunjukkan kinerja yang terjaga.


"Kalau kita lihat, pertumbuhan ekonomi kemarin masih baik di 5,61%. Kemudian, neraca perdagangan year to date juga masih positif," kata Airlangga di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat (10/7).

Sementara itu, terkait dengan defisit neraca perdagangan di bulan Juni, Airlangga menjelaskan kondisi ini dipengaruhi lonjakan harga impor bahan bakar minyak (BBM) di pasar global. Dia membantah defisit neraca perdagangan disebabkan daya saing ekspor Indonesia.

"Kemarin satu bulan memang negatif karena memang dari segi impor BBM itu memang harganya spike, harganya naik," paparnya.

Sedangkan ekspor daripada kelapa sawit, batu bara dan juga ferro alloy, Airlangga menegaskan tidak ada perubahan drastis. Angka ekspor dari tiga komoditas yang akan diurus oleh PT DSI ini, relatif sama dengan bulan Mei.

Airlangga pun menegaskan pemerintah akan berupaya menjaga inflasi tetap terjaga di kisaran 2,5% plus minus 1%.

"Dan ini terus kita jaga dan juga pemerintah mendorong beberapa insentif termasuk insentif untuk industri chemicals dimana impor bahan baku plastik akan dinolkan dan ini PMK-nya sedang dibuat," katanya.

Kemudian, Airlangga mengatakan pemerintah juga sudah mengatasi masalah industri petrochemical. Pemerintah menetapkan Bea Masuk (BM) 0% untuk impor LPG bagi industri petrokimia untuk enam bulan ke depan. Lalu, program-program pemerintah juga berjalan dengan baik. Contohnya, KUR dan subsidi KPR, yang capaiannya dinilai relatif baik dan aman.

"Dari segi perbankan relatif aman memang dana pihak ketiga juga di perbankan double digit dan kita melihat kredit juga udah mulai berjalan sudah meningkat dibandingkan kuartal yang lalu," ujarnya.

Selain itu, Airlangga menegaskan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di dalam kisaran 5%. "Jadi relatif semua menilai perekonomian kita relatif aman dan solid," paparnya.


(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Deretan Mata Uang Terlemah Di Dunia Sepanjang Semester I 2026