Internasional

7 Update AS-Iran: Iran Serang Negara Arab sampai Rusia Kena

tfa, CNBC Indonesia
Jumat, 10/07/2026 22:00 WIB
Foto: Social Media via REUTERS/Social Media

Jakarta, CNBC Indonesia - Eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah Teheran melancarkan serangan ke sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Serangan itu disebut sebagai balasan atas operasi militer Washington terhadap pelabuhan dan pulau-pulau Iran di Selat Hormuz.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang Armada Kelima AS di Bahrain, pangkalan udara Ali Al Salem di Kuwait, serta pangkalan udara Azraq di Yordania menggunakan drone dan rudal jarak jauh. IRGC menyebut pihaknya menargetkan 21 fasilitas militer AS dan menghancurkan empat di antaranya, termasuk hanggar jet tempur F-35 di Yordania.


Namun, otoritas Bahrain, Kuwait, dan Yordania menyatakan seluruh proyektil berhasil dicegat sehingga tidak menimbulkan korban jiwa. Berikut tujuh perkembangan terbaru konflik AS-Iran, seperti dikutip Al Jazeera, Jumat (10/7/2026).

1. Iran Balas Serangan AS dengan Menyerang Negara Arab

Iran menyatakan serangan ke Bahrain, Kuwait, dan Yordania dilakukan sebagai respons atas operasi militer AS terhadap Pulau Qeshm serta sejumlah pelabuhan di pesisir Selat Hormuz. Washington sebelumnya menuduh Teheran bertanggung jawab atas jatuhnya sebuah helikopter Apache AS.

IRGC juga memperingatkan bahwa pasukannya siap memberikan respons yang lebih besar apabila AS kembali melakukan serangan. "Pasukan kami sepenuhnya siap memberikan respons yang menghancurkan dan menentukan terhadap tindakan militer AS," demikian pernyataan IRGC.

2. Trump Ancam Iran Akan 'Membayar Harganya'

Presiden AS Donald Trump menegaskan Iran akan menghadapi konsekuensi atas serangan tersebut. Dalam unggahan di media sosial, Trump menuduh Teheran sengaja memperlambat proses negosiasi damai.

"Mereka terlalu lama bernegosiasi untuk kesepakatan yang akan sangat menguntungkan mereka. Sekarang mereka harus membayar harganya," tulis Trump berbanding terbalik dengan komentarnya sehari sebelumnya yang menyebut kedua pihak hanya tinggal dua hingga tiga hari lagi mencapai kesepakatan.

3. Palestina Kutuk Serangan ke Bahrain, Kuwait, dan Yordania

Kantor Presiden Palestina Mahmoud Abbas turut mengecam serangan Iran terhadap Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Dalam pernyataan resminya, Palestina menyampaikan solidaritas kepada ketiga negara tersebut dan menegaskan dukungannya terhadap setiap langkah yang diambil untuk mempertahankan kedaulatan masing-masing.

4. Netanyahu dan Trump Bahas Situasi Teluk

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Trump melakukan pembicaraan melalui telepon untuk membahas perkembangan terbaru di kawasan Teluk. Menurut kantor Netanyahu, kedua pemimpin sepakat melanjutkan koordinasi di berbagai sektor. Trump juga memberikan pembaruan mengenai langkah-langkah militer AS di kawasan sementara Netanyahu menyoroti meningkatnya ancaman terhadap Israel serta pentingnya menjaga zona keamanan di sepanjang perbatasan negaranya.

5. Wilayah Militer Iran Kembali Diserang

Ketegangan juga berlanjut di dalam wilayah Iran. Gubernur Konarak, Mohammad Younes Haqqani, mengatakan kawasan militer angkatan laut di kota Konarak, Iran selatan, menjadi sasaran serangan jet tempur dalam dua gelombang.

"Dua ledakan terdengar di area militer angkatan laut dan wilayah tersebut menjadi sasaran jet tempur musuh dalam dua tahap," ujar Haqqani. Ia menambahkan tim penyelamat dan aparat keamanan telah dikerahkan, sementara investigasi atas serangan tersebut masih berlangsung.

6. AS Klaim Selat Hormuz Tetap Aman

Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) membantah klaim Iran yang menyebut Teheran mengendalikan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Dalam pernyataannya, CENTCOM menegaskan Iran tidak menguasai jalur pelayaran strategis tersebut.

Sejak awal Mei, militer AS mengklaim telah membantu kelancaran pelayaran lebih dari 800 kapal dagang serta pengiriman sekitar 380 juta barel minyak mentah melalui koridor perdagangan internasional itu.

7. Pasar dan Rusia Ikut Terdampak Konflik

Di tengah meningkatnya ketegangan, indeks NASDAQ justru ditutup menguat berkat reli saham perusahaan semikonduktor, meski pelaku pasar tetap mencermati risiko konflik yang lebih luas.

Sementara itu, Rusia mencatat surplus anggaran bulanan pertama tahun ini sebesar 279 miliar rubel atau sekitar US$3,7 miliar (setara sekitar Rp66,2 triliun dengan kurs Rp17.900 per US$). Kenaikan pendapatan tersebut didorong lonjakan penerimaan minyak dan gas selama konflik berlangsung.

Namun, Bloomberg memperkirakan keuntungan itu hanya bersifat sementara karena harga minyak Rusia kembali turun setelah Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada bulan sebelumnya.

Di sisi lain, pengeluaran pemerintah Rusia sepanjang enam bulan pertama tahun ini mencapai US$320 miliar, atau sekitar Rp5.728 triliun, seiring tingginya biaya perang yang masih berlangsung di Ukraina.


(tfa/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Trump Akhiri MoU Damai, AS Kembali Serang Iran