Internasional

Trump Diam-Diam Bantu Iran Lawan Rencana Kotor Israel

tps, CNBC Indonesia
Minggu, 05/07/2026 09:45 WIB
Foto: Foto kolase Presiden AS, Donald Trump, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. (Reuters)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saluran komunikasi diplomatik rahasia dilaporkan sempat diaktifkan oleh jajaran petinggi keamanan Amerika Serikat (AS) guna meneruskan "pesan peringatan tertutup" bagi Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, serta Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf.

Intervensi darurat ini terpaksa ditempuh Washington menyusul adanya deteksi intelijen mengenai rencana operasi pembunuhan terhadap kedua negosiator inti tersebut oleh pihak militer Israel demi memutus jalan rekonsiliasi.

Melansir pemberitaan New York Times yang dirilis ulang oleh Times of Israel pada Minggu (5/7/2026), ancaman likuidasi fisik terhadap elemen elite Teheran ini mulai berembus kencang hanya selang beberapa pekan semenjak kesepakatan damai sementara diteken pada 8 April, sebuah pakta krusial yang sejauh ini berhasil menekan laju eskalasi konfrontasi bersenjata antara koalisi AS-Israel melawan Iran.


"Washington khawatir jika Israel benar-benar menghabisi Araghchi dan Ghalibaf, seluruh proses meja perundingan yang sedang berjalan akan hancur berantakan dan memicu pertempuran bersenjata baru yang jauh lebih masif," ujar seorang sumber.

Ghalibaf sendiri dilaporkan baru saja lolos dari maut setelah pesawat yang ditumpanginya terpaksa melakukan pendaratan darurat di Mashhad, wilayah timur laut Iran. Insiden ini terjadi saat ia dalam perjalanan pulang dari Islamabad, Pakistan, usai menggelar dialog intensif dengan Wakil Presiden AS JD Vance pada 12 April.

Pasukan keamanan Iran dilaporkan mendeteksi ada dua jet tempur Israel yang nekat menerobos wilayah udara mereka melalui rute Irak. Keduanya diindikasikan hendak menyergap pesawat sang ketua parlemen.

Akibat situasi darurat tersebut, Ghalibaf dan seluruh delegasi Iran terpaksa dievakuasi. Ia harus menempuh jalur darat selama delapan jam demi bisa kembali ke ibu kota Teheran.

Mengingat risikonya yang sangat fatal bagi stabilitas global, otoritas AS sampai harus meminta bantuan dari para pejabat di beberapa negara sekutu kawasan Timur Tengah untuk meneruskan pesan peringatan rahasia ini langsung ke Teheran.

Langkah preventif ini diambil karena sejak awal perang pecah pada 28 Februari, militer Israel terus secara sistematis menargetkan dan membunuh jajaran kepemimpinan senior Iran, termasuk kepala keamanan nasional Ali Larijani dan mantan menteri luar negeri Kamal Kharazi, yang sebenarnya merupakan figur potensial untuk bernegosiasi dengan AS.

Sebelumnya pada bulan Maret, saat pertempuran masih berlangsung sengit, pemerintah Pakistan telah melakukan intervensi diplomatik dengan mendesak Washington agar menekan Israel untuk menghapus nama Araghchi dan Ghalibaf dari daftar target pembunuhan mereka.

Mengingat tingginya risiko keamanan, delegasi Iran bahkan sempat meminta jaminan internasional serta pengawalan ketat dari jet-jet tempur angkatan udara Pakistan saat mendarat di Islamabad untuk memastikan keselamatan mereka dari buruan intelijen Israel.

"AS meminta Israel untuk mundur," ungkap seorang pejabat Pakistan kepada Reuters, seraya menjelaskan bahwa Islamabad telah memperingatkan pihak Washington jika kedua tokoh tersebut sampai tewas, maka tidak akan ada lagi orang yang tersisa di Teheran untuk diajak bicara mengenai negosiasi gencatan senjata.

 


(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Trump Klaim Pertemuan AS-Iran di Qatar Berjalan Lancar