Mengapa Ayatollah Ali Khamenei Baru Dimakamkan Setelah 4 Bulan Wafat?
Jakarta, CNBC Indonesia - Iran menggelar prosesi pemakaman besar untuk pemimpin tertinggi sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei, lebih dari empat bulan setelah ia tewas dalam serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari lalu.
Melansir dari NDTV, rangkaian upacara dimulai di Teheran pada Jumat waktu setempat dan akan berlanjut ke sejumlah kota di Iran serta Irak sebelum pemakaman dijadwalkan berlangsung pada 9 Juli di Mashhad, kota kelahirannya.
Pemerintah Iran memperkirakan puluhan juta orang akan menghadiri prosesi tersebut. Sejumlah kepala negara, pejabat asing, dan tokoh politik dari berbagai negara juga dijadwalkan hadir. Pakistan mengirim Perdana Menteri Shehbaz Sharif, sementara India diwakili Gubernur Bihar Syed Ata Hasnain dan Menteri Negara Urusan Luar Negeri Pabitra Margherita. Perwakilan dari China, Afghanistan, serta negara-negara kawasan Kaukasus turut mengonfirmasi kehadiran mereka.
Jenazah Khamenei disemayamkan selama tiga hari di Grand Mosalla, salah satu kompleks seremonial terbesar di Teheran. Media Iran menampilkan peti jenazah yang dibalut bendera nasional Iran, diiringi ribuan pelayat berpakaian hitam.
Jenazah sejumlah anggota keluarganya yang turut meninggal juga disertakan dalam prosesi tersebut sehingga menjadi upacara kenegaraan terbesar sepanjang sejarah Republik Islam Iran.
Pemakaman ini memiliki arti politik yang besar bagi pemerintahan Iran. Di tengah gencatan senjata yang masih rapuh antara Iran dan AS setelah tercapainya kesepakatan awal penghentian konflik, pemerintah berupaya memperlihatkan bahwa dukungan publik terhadap Republik Islam tetap kuat.
Pemimpin salat Jumat di Qom, Ayatollah Mohammad Saidi, bahkan menyebut kehadiran masyarakat dalam prosesi pemakaman sebagai "referendum" bagi Republik Islam.
Pemerintah Iran disebut menargetkan mobilisasi sekitar 15-20 juta pendukung dengan menyediakan transportasi, akomodasi, hingga makanan gratis agar masyarakat menghadiri rangkaian acara. Seruan serupa datang dari Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dan Presiden Masoud Pezeshkian yang mengajak seluruh warga, tanpa memandang latar belakang politik maupun etnis, untuk memenuhi jalan-jalan kota selama prosesi berlangsung.
Di sisi lain, sejumlah analis menilai pemerintah menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan legitimasi politiknya. Kepercayaan sebagian masyarakat terhadap Republik Islam terus menurun setelah bertahun-tahun menghadapi tekanan ekonomi akibat sanksi internasional dan tindakan represif terhadap demonstrasi.
Pada aksi protes yang dipicu lonjakan inflasi beberapa bulan sebelum perang pecah, sebagian demonstran bahkan meneriakkan tuntutan agar Khamenei lengser. Ketika kabar kematiannya mulai beredar pada awal konflik, sejumlah warga Teheran dilaporkan menyambutnya dengan sorak-sorai dari dalam rumah mereka.
Meski demikian, pengaruh Khamenei tidak terbatas di Iran. Sebagai ulama Syiah dengan status marja, pandangan keagamaannya menjadi rujukan bagi banyak penganut Syiah di Irak, Pakistan, Lebanon, dan sejumlah negara lain. Selama memimpin Iran, ia juga memiliki pengaruh politik besar melalui jaringan kelompok-kelompok Syiah di kawasan, termasuk hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan sekutunya seperti Hizbullah di Lebanon.
Salah satu hal yang paling menyita perhatian adalah lamanya jeda antara kematian dan pemakamannya. Dalam tradisi Islam, jenazah umumnya dimakamkan sesegera mungkin. Pemerintah Iran membantah kabar bahwa jenazah Khamenei sempat dimakamkan sementara. Otoritas menegaskan penundaan terjadi karena situasi perang yang masih berlangsung sehingga prosesi publik tidak memungkinkan untuk dilaksanakan.
Pakar kontraterorisme Dr. Mohammed Omar kepada Fox News Digital mengatakan jenazah Khamenei hampir pasti disimpan dalam ruang pendingin, bukan diawetkan dengan bahan kimia karena praktik pembalseman bertentangan dengan ajaran Islam.
Menurutnya, hukum Syiah memperbolehkan penundaan pemakaman dalam kondisi luar biasa, sementara penyimpanan dingin sudah lazim digunakan di fasilitas forensik Iran untuk menjaga kondisi jenazah selama berbulan-bulan apabila diperlukan.
CNBC Indonesia Research
(emb/luc) Addsource on Google