MARKET DATA

Bea Cukai China Mau Datang, Bakal Langsung Sidak 19 Perusahaan RI?

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
02 July 2026 19:55
Kepala Barantin Abdul Kadir Karding bersama Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (1/7/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Foto: Kepala Barantin Abdul Kadir Karding bersama Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (1/7/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding optimistis prospek perdagangan ekspor-impor Indonesia dengan China bakal semakin terbuka. Keyakinan itu muncul seiring rencana kedatangan otoritas bea cukai China, General Administration of Customs China (GACC), ke Indonesia pada pertengahan Juli 2026.

Karding mengatakan, kunjungan GACC akan membahas berbagai peluang ekspor komoditas RI ke pasar China, mulai dari sektor tumbuhan hingga perikanan.

Namun, salah satu agenda penting dalam pertemuan itu adalah penyelesaian persoalan kandungan aluminium pada sarang burung walet, yang sempat memicu penghentian sementara ekspor dari sejumlah perusahaan Indonesia.

"Barantin secara aktif terus melakukan langkah pembenahan, mulai dari memperkuat komunikasi dengan China, (hingga) membenahi regulasi," kata Karding dalam keterangannya, dikutip Kamis (2/7/2026).

Ia menegaskan, persoalan kadar aluminium pada sarang burung walet yang saat ini ditangani hanya bersifat sementara, dan kini sudah memasuki tahap akhir penyelesaian. Menurut dia, kehadiran GACC justru bisa menjadi momentum untuk memperluas akses ekspor Indonesia ke Negeri Tirai Bambu.

"Kedatangan GACC ke Indonesia justru akan semakin bisa membuka lebarnya ekspor ke China," ucapnya.

Sebelumnya, isu kadar aluminium pada sarang burung walet membuat 19 perusahaan eksportir Indonesia terkena penangguhan atau pembekuan izin sementara ke China.

Adapun data Barantin menunjukkan, saat ini terdapat 75 perusahaan sarang burung walet yang terdaftar di Barantin. Dari jumlah itu, 50 perusahaan telah terdaftar di China Import Food Enterprises Registration (CIFER), sementara 25 perusahaan lainnya masih dalam proses pendaftaran.

Selain itu, hingga Juni 2026 tercatat sudah ada 4.204 rumah walet yang teregistrasi, dengan 104 rumah walet lainnya masih dalam proses registrasi.

Dari sisi kinerja ekspor, sektor tumbuhan masih menjadi penyumbang terbesar. Komoditas sawit dan turunannya mencatatkan nilai ekspor lebih dari Rp32,03 triliun. Setelah itu, ekspor kopi biji mencapai Rp6,9 triliun, dan pinang biji sebesar Rp2,9 triliun.

Sementara dari sektor hewan, sarang burung walet menjadi salah satu komoditas andalan dengan nilai ekonomi mencapai Rp3,6 triliun.

Tenaga Ahli Barantin Bidang Komunikasi, Moksa Hutasoit mengatakan pihaknya terus membuka ruang komunikasi dengan pelaku usaha guna memaksimalkan ekspor-impor ke negara mitra. Menurut dia, masukan dari pelaku usaha diperlukan agar persoalan tata kelola maupun hambatan di lapangan bisa langsung ditangani.

"Tujuan Kepala Badan Karantina membuka ruang komunikasi memang untuk menyerap masukan langsung dari pelaku usaha sehingga tata kelola bisa diperbaiki yang bisa meningkatkan perekonomian negara," kata Moksa.

(dce) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Badan Karantina RI Mau Rombak 22 Aturan, Gandeng Apindo Lakukan Ini


Most Popular
Features