MARKET DATA
ENERGY FORUM

Pertamina Bangun PLTS di Pulau Kecil RI, 1 Jam dari Singapura

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
01 July 2026 20:50
Direktur Utama Pertamina NRE, John Anis saat menyampaikan pemaparan dalam Energy Forum di Singosari Ballroom-Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (25/6/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pertamina New and Renewable Energy (NRE) membangun infrastruktur Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Pulau Sembur, Batam, Kepulauan Riau yang berlokasi hanya satu jam dari Singapura. Proyek percontohan tersebut akan memiliki kapasitas daya sebesar 1 Mega Watt (MW).

Direktur Utama Pertamina NRE John Anis menyebutkan proyek tersebut ditujukan untuk memutus ketergantungan warga terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang selama ini hanya beroperasi secara terbatas selama puluhan tahun.

"Solar panel tadi Bu Dirjen (Dirjen EBTKE Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi) bilang untuk desa-desa kita akan masuk untuk daerah-daerah yang off-grid, kami bikin pilot untuk 1 MW di Pulau Sembur. Pulau Sembur itu di Batam, sekitar 1 jam dari Singapura," ungkapnya dalam acara Energy Forum CNBC Indonesia di Jakarta, pekan lalu.

Dia menyebut, PLTS tersebut ditargetkan bisa mulai beroperasi pada Juli atau paling lambat awal Agustus 2026 mendatang. Selama ini, menurutnya warga di wilayah tersebut hanya bisa menikmati aliran listrik selama empat hingga lima jam per hari karena keterbatasan operasional pembangkit berbasis diesel.

"Kita bangun di situ, mudah-mudahan bulan Juli atau awal Agustus ini 1 Mega Watt bisa jalan. Tujuannya apa? Untuk meningkatkan taraf hidup mereka, karena mereka kebanyakan nelayan, untuk jual ikannya karena nggak ada cold storage, nggak ada ice maker, ya murah," tambahnya.

Pembangunan pembangkit basis energi terbarukan diharapkan mampu mendongkrak kesejahteraan ekonomi lokal, terutama pada sektor perikanan yang menjadi mata pencaharian utama penduduk.

Dengan adanya daya listrik 24 jam, para nelayan nantinya dapat mengoperasikan fasilitas penyimpanan dingin guna menjaga kualitas hasil tangkapan mereka sebelum dijual ke pasar.

"Nah, itu harapannya meningkat dan bisa hibridisasikan. Jadi banyak sekali inisiatif yang kita lakukan," tandasnya.

Di lain sisi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyiapkan berbagai strategi agar rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 Giga Watt (GW) tidak membebani kebutuhan lahan.

Salah satu upaya yang ditempuh yakni memanfaatkan bendungan, lahan bekas tambang, hingga atap bangunan sebagai lokasi pembangunan PLTS.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi membeberkan pemerintah saat ini tengah mengidentifikasi berbagai lokasi potensial untuk mendukung target pembangunan PLTS skala besar tersebut.

"Nah, konsep energi baru terbarukan ini menjangkau semuanya. Kalau kita bicara 100 Giga Watt, ini kayak membangun pembangkit yang selama ini sudah ada, kita itu kapasitas pembangkitnya sekarang kan 107 Giga Watt. Ini digelontorkan lagi 100 Giga seperti membangun sesuatu yang besar sekali," kata Eniya dalam acara Energy Forum CNBC Indonesia, Kamis (25/6/2026).

Adapun, guna mengurangi kebutuhan lahan baru, Kementerian ESDM bakal menggandeng Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dalam memanfaatkan bendungan dan permukaan waduk sebagai lokasi pembangunan PLTS terapung.

Selain itu, pihaknya juga membuka peluang pemanfaatan lahan pascatambang, serta pemasangan PLTS di atap gedung, kawasan industri, gudang (warehouse), dan bangunan komersial.

"Nah, ini upaya untuk peningkatan energi baru terbarukan cukup masif dan kita ingin mendorong investasi untuk masuk ke Indonesia tentunya. Dibutuhkan sekitar 1.600 triliunan untuk membangun energi baru terbarukan yang kita rencanakan sampai dengan 10 tahun ke depan," kata dia.

(wia) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bos Pertamina NRE Beberkan 3 Jurus Kembangkan Bahan Bakar Hijau


Most Popular
Features