MARKET DATA
ENERGY FORUM

Bos Pertamina NRE Beberkan 3 Jurus Kembangkan Bahan Bakar Hijau

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
30 June 2026 13:50
Direktur Utama Pertamina NRE, John Anis saat menyampaikan pemaparan dalam Energy Forum di Singosari Ballroom-Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (25/6/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina New and Renewable Energy (NRE) punya tiga jurus dalam mendorong pengembangan bahan bakar hijau dalam negeri. Cara ini dijalankan demi RI mencapai kemandirian energi sekaligus menekan biaya produksi energi terbarukan agar lebih kompetitif untuk masyarakat.

Direktur Utama Pertamina NRE John Anis menjelaskan berupaya melakukan diversifikasi sumber energi dalam memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global. Menurutnya, pengembangan energi baru tidak boleh hanya terpaku pada satu metode, melainkan harus melibatkan berbagai inovasi terintegrasi dari hulu hingga hilir.

"Strategi kami di sini adalah ada tiga strategi: satu adalah multi-feedstock, yang kedua adalah multi-generation, yang ketiga adalah multi-region," katanya dalam acara Energy Forum CNBC Indonesia, Jakarta dikutip Selasa (30/6/2026).

Strategi pertama yang dilakukan melalui multi-feedstock, hal itu dilakukan dengan memanfaatkan berbagai jenis bahan baku nabati agar tidak terjadi persaingan dengan kebutuhan pangan nasional. Saat ini, Pertamina mengoptimalkan tetes tebu atau molase sebagai bahan baku etanol dan mulai menjajaki penggunaan singkong hingga sorgum manis di wilayah Lampung.

"Kenapa multi-feedstock? Karena yang paling mature dan mungkin tidak terlalu bersaing dengan food sekarang adalah tebu. Jadi tetes tebu itu adalah disebut side product yang sudah tidak bisa jadi gula, molasses. Nah ini ya nggak bersaing dengan gula gitu kan," ujarnya.

Strategi kedua adalah pengembangan teknologi lintas generasi atau multi-generation dengan merambah pengolahan limbah menjadi bahan bakar nabati generasi kedua. Inovasi tersebut menyasar pemanfaatan sisa batang sorgum serta limbah kelapa sawit (POME) yang ketersediaannya sangat melimpah untuk dikonversi menjadi biometanol dengan harga yang lebih murah.

"Kenapa kita lari ke second generation? Karena yang di first generation kan harga feedstock-nya bersaing dengan makanan kadang-kadang dan itu mahal. Itu yang membuat tidak ekonomis. Nah, sedangkan kalau second generation itu dari waste. Sehingga feedstock-nya bisa murah," paparnya.

Strategi terakhir adalah strategi multi-region yang difokuskan pada pembangunan fasilitas produksi di lokasi yang dekat dengan sumber bahan baku. Pertamina berencana menambah minimal lima pabrik pengolahan baru yang tersebar di Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, hingga Sulawesi guna menjamin efisiensi rantai pasok dan logistik.

"Multi-region kenapa? Karena tiap daerah itu berbeda-beda potensinya. Jadi ada yang potensi jagung, ada potensi tebu, jadi kita akan ke sana," tandasnya.

Melalui ketiga strategi tersebut, perusahaan berkomitmen untuk terus menghadirkan keberagaman energi melalui berbagai proyek percontohan yang terukur keekonomiannya.

(pgr/pgr) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Tak Cuma Minyak, Pertamina Punya Sederet Proyek Energi Hijau


Most Popular
Features