Purbaya Atur Skema Beli Panda Bond, Bisa Tambah Cadev US$50 M!

Robertus Adrianto, CNBC Indonesia
Jumat, 26/06/2026 16:38 WIB
Foto: Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa melakukan pertemuan bilateral dengan Menkeu Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Lan Fo’an, di Kantor Kementerian Keuangan Tiongkok, Beijing, pada Rabu (17/6/2026). (Dok. Biro KLI Kemenkeu)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berencana untuk menggunakan skema Local Currency Transaction (LCT) dengan investor China dalam pembelian surat utang negara berdenominasi renminbi, Panda Bond.

Rencana itu dilakukan untuk semakin menegaskan upaya pemerintah dalam mengurangi ketergantungan dengan dolar Amerika Serikat dan mengurangi tekanan ke nilai tukar rupiah.


"Saya punya rencana begini, begitu dijual (Panda Bond) nanti saya akan aktifkan atau pakai jalur, Local Currency Transaction (LCT), di mana mereka bayar renminbi nanti biar bank sentralnya melalui mekanisme tertentu dengan bank sentral kita, saya langsung terima rupiah," ujarnya saat Media Briefing di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (26/6/2026).

"Jadi ketergantungan kita terhadap dolar akan semakin sedikit dan akan mengurangi tekanan ke rupiah," sambungnya.

Purbaya mengatakan, melalui skema transaksi itu, sebetulnya cadangan devisa atau cadev Indonesia bisa bertambah hingga US$ 50 miliar, karena adanya kesepakatan antara Bank Indonesia dengan Bank Sentral China (PBoC) untuk transaksi tanpa perlu konversi ke dolar AS.

"Perjanjian dengan bank sentral kita kan sekitar US$ 50 miliar. Kalau itu dipakai dengan betul dan cepat, sehingga seolah-olah cadangan devisa kita naik US$ 50 miliar, walaupun secara de jure nya gak tercatat," ungkap Purbaya.

Dengan makin meredupnya ketergantungan transaksi tanpa dolar AS, ia memastikan dengan sendirinya juga akan turut memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah nantinya.

"Tapi saya bisa bilang cadangan devisa kita naik seperti itu, karena kita bisa akses ke sana dengan gampang, artinya ketergantungan kita harap dolar akan lebih bisa ditekan, rupiah akan lebih stabil," tegasnya.

Plt. Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan (DJSPSK) Herman Saheruddin sebelumnya juga telah mengatakan alasan diterbitkannya Panda Bond. Salah satunya ialah bentuk diversifikasi pembiayaan.

"Alasan penerbitan Panda Bond ya untuk mencari sumber pembiayaan yang lain atau dapat dikatakan diversifikasi. Jadi dengan adanya diversifikasi ini, harapannya adalah risiko beban APBN kita dari pembiayaan utang yang bersumber dari risiko nilai tukar itu dapat didiversifikasi, dan kita bisa mengurangi dampak dari ketergantungan dolar AS," kata Herman saat ditemui wartawan di kantornya, Kamis (26/6/2026).

Dengan adanya sumber pembiayaan lain, menurutnya, fluktuasi dolar yang signifikan itu dampaknya kepada APBN tidak sebesar tahun-tahun, seperti 1998 silam.

"Salah satu upaya diversifikasi ini kita masuk ke negara-negara yang demandnya ada, istilahnya yang punya uang dan mau menghargai reputasi Indonesia seperti fundamentalnya, salah satunya ya China," lanjutnya.

Herman memandang China menjadi salah satu negara yang dapat membantu diversifikasi pembiayaan, karena peringkat surat utang ini masih mencerminkan fundamental Indonesia.

"China itu adalah salah satu dari beberapa negara yang tertarik untuk melakukan pembiayaan ke Indonesia dengan membeli surat utang kita dengan pricing yang make sense, artinya tidak jauh dari fundamental kita," ucap Herman.

Selain itu, alasan penerbitan surat utang ini tak lain agar diversifikasi mata uang lainnya bisa dilakukan, sehingga meminimalisir dampak dari penguatan dolar AS.

"Sekarang kita melakukan diversifikasi. Kalau kita terlalu banyak tergantung dari dolar AS, saya pikir akan menjadi kurang stabil, APBN akan terus tekor jika kita hanya mengandalkan dolar AS," paparnya.


(arj/arj) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Kemenkeu Pastikan Penerbitan Panda Bond Sesuai Jadwal di Juli 2026