RI Bisa Saja Punya Nuklir Hanya dalam Waktu 3 Tahun, Ini Buktinya
Jakarta, CNBC Indonesia - Pengembangan energi nuklir di Indonesia dinilai bisa berjalan lebih cepat dari yang selama ini dibayangkan. Hal ini terutama didorong oleh hadirnya teknologi reaktor kecil seperti Small Modular Reactor (SMR) yang mulai banyak dikembangkan di dunia.
Hal itu disampaikan oleh Nuclear Stakeholder Engagement Consultant, Kelle Barfield. Ia mencontohkan proyek Darlington Nuclear Generating Station dengan teknologi BWRX-300 di Kanada, yang saat ini sudah memasuki tahap konstruksi.
"Mereka menargetkan bisa beroperasi dalam sekitar tiga tahun," ujarnya dalam diskusi Powering the Future: American Leadership in Clean Nuclear Energy dikutip Rabu (24/6/2026).
Menurut Barfield, capaian tersebut menunjukkan bahwa pembangunan reaktor nuklir skala kecil bisa jauh lebih cepat dibandingkan pembangkit besar berkapasitas 1.000-1.500 megawatt (MW).
"Ini jauh lebih cepat dibanding membangun reaktor besar," tambahnya.
Dalam konteks Indonesia yang memiliki ribuan pulau, Barfield menilai SMR dapat menjadi solusi penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Teknologi ini bersifat lebih ringkas sehingga dapat ditempatkan di wilayah terpencil atau lokasi dengan kebutuhan listrik tinggi seperti kawasan industri atau pertambangan.
"Ini membantu karena listrik tidak hanya harus diproduksi, tetapi juga disalurkan ke wilayah yang membutuhkan," jelasnya, menyoroti tantangan sistem kelistrikan di negara kepulauan seperti Indonesia.
Ia juga menyinggung pentingnya kerja sama internasional, termasuk dalam kerangka perdagangan timbal balik dengan Amerika Serikat. Menurutnya, kerja sama tersebut dapat mempercepat proses karena desain reaktor yang digunakan sudah melalui proses perizinan di negara asal, sehingga mengurangi hambatan teknis di tahap awal.
Selain itu, Barfield menekankan bahwa rantai pasok industri nuklir jauh lebih luas daripada sekadar desain reaktor. Keterhubungan dengan vendor, teknologi, hingga standar keselamatan membuka peluang besar bagi Indonesia untuk mempercepat adopsi teknologi nuklir.
Terkait peluang investasi, ia menilai keterlibatan perusahaan seperti ThorCon dapat menjadi model awal yang kemudian diikuti lebih banyak pelaku industri nuklir asal Amerika Serikat. "Jika satu kerja sama berhasil, itu bisa direplikasi oleh perusahaan lain," ujarnya.
Dari sisi kapasitas sumber daya manusia, Barfield menegaskan pentingnya pendidikan dan pelatihan. Program pertukaran pelajar hingga pelatihan teknis disebutnya sudah berjalan melalui berbagai kerja sama universitas, termasuk dengan Texas A&M University, yang aktif mengirim mahasiswa dan menjalin kolaborasi riset lintas negara.
Ia juga menyebut dukungan teknis dari Amerika Serikat tersedia melalui program FIRST atau Foundational Infrastructure for Responsible Use of SMR Technology, yang membantu pemilihan teknologi, lokasi, hingga pengembangan infrastruktur dasar.
Dengan berbagai contoh proyek yang sudah berjalan dan dukungan internasional yang terus berkembang, peluang Indonesia untuk mengembangkan pembangkit nuklir skala kecil dinilai semakin terbuka, bahkan dengan potensi waktu implementasi yang relatif cepat dalam hitungan beberapa tahun saja.
(tfa/sef) Add
source on Google