Amran Kasih Wanti-Wanti, Perkebunanan Salah Bibit Berujung Sengsara

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Rabu, 17/06/2026 13:55 WIB
Foto: Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman, bersama Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (17/6/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengingatkan pentingnya kualitas bibit dalam program pengembangan perkebunan nasional. Menurutnya, kesalahan pada tahap awal pembibitan dapat menimbulkan dampak jangka panjang terhadap produktivitas tanaman, bahkan hingga puluhan tahun.

Peringatan tersebut disampaikan Amran saat mengumpulkan para penyedia bibit tanaman perkebunan dari seluruh Indonesia. Langkah itu dilakukan untuk mendukung program pengembangan perkebunan seluas 870 ribu hektare yang mencakup komoditas unggulan seperti kelapa, kopi, kakao, tebu, pala, lada, dan mete.

Amran pun mencontohkan tanaman kelapa yang memiliki masa produktif sangat panjang. Karena itu, kualitas bibit menjadi faktor krusial yang tidak boleh diabaikan.


"Satu kali tanam, seperti kelapa itu bisa panen sampai 30 sampai 60 tahun. Jadi ini kita kawal betul. Kalau salah di pembibitan, akan salah 30 tahun. Salah di pembibitan, akan salah 60 tahun," kata Amran dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (17/6/2026).

Ia menilai program tersebut bukan sekadar proyek jangka pendek, melainkan investasi untuk meningkatkan kesejahteraan petani, dan memperkuat produksi komoditas perkebunan Indonesia di masa mendatang. Oleh sebab itu, pemerintah melibatkan sejumlah lembaga untuk mengawal pelaksanaannya agar berjalan transparan dan tepat sasaran.

Pengawasan dilakukan dengan melibatkan Satgas Pangan, TNI, Polri, Kejaksaan Agung, hingga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Langkah itu diambil untuk meminimalkan potensi penyelewengan dalam proses pengadaan maupun distribusi bibit.

"Kami koordinasi bukan saja dengan KPK, ada kepolisian, ada kejaksaan, semua kita bahu-membahu mencegah penyalahgunaan wewenang," ujarnya.

Adapun program pengembangan perkebunan tersebut memiliki alokasi anggaran sekitar Rp9,95 triliun selama tiga tahun. Anggaran itu digunakan untuk mendukung perluasan dan peremajaan perkebunan pada total areal mencapai 870 ribu hektare di berbagai wilayah Indonesia.

Amran mengatakan, sebagian bibit telah mulai disalurkan pada tahun lalu. Sementara untuk program tahun ini, proses pembibitan masih berlangsung dan ditargetkan memasuki tahap penanaman pada akhir tahun.

"Yang tahun lalu sudah jalan. Yang tahun ini pembibitan, mudah-mudahan akhir tahun kita tanam lagi," ucap dia.

Menurut Amran, hasil program tersebut tidak akan terlihat dalam waktu singkat. Namun, ketika tanaman mulai memasuki fase produksi dalam tiga hingga empat tahun mendatang, peningkatan hasil panen diperkirakan akan cukup besar mengingat tingginya permintaan global terhadap komoditas perkebunan Indonesia.

Dalam pelaksanaannya, pemerintah juga menerapkan pendekatan berbasis potensi daerah. Pemilihan komoditas disesuaikan dengan kondisi agroklimat dan kebiasaan masyarakat setempat agar peluang keberhasilan lebih tinggi.

"Jangan yang tidak biasa tanam kelapa diberi kelapa. Jangan yang tidak biasa tanam kakao diberi kakao," ujar Amran.

Selain itu, pemerintah memilih membangun sentra pembibitan di wilayah yang menjadi lokasi pengembangan komoditas. Strategi tersebut ditempuh untuk memangkas biaya logistik sekaligus meningkatkan efisiensi distribusi.

"Cara distribusi pembibitannya di tempat situ, supaya tidak diangkut dari Jawa ke Sulawesi Selatan atau dari Sulawesi Selatan ke Papua. Ahlinya yang kita datangkan. Jadi lebih hemat dan efisien," pungkasnya.


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Menteri Amran: RI Aman Saat El Nino, Stok Beras Cukup 15 Bulan