Perang AS-Iran Ancam Pasokan Pupuk Dunia, Harga Pangan Bisa Melonjak

Romys Binekasri, CNBC Indonesia
Sabtu, 13/06/2026 20:00 WIB
Foto: dok Pupuk Indonesia

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang masih berlangsung hingga saat ini memberikan efek domino bagi sejumlah industri. Tak hanya menghambat distribusi minyak, tapi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran tersebut juga mengganggu distribusi pupuk melalui Selat Hormuz yang dikhawatirkan dapat memicu lonjakan harga pangan dunia.

Chief Executive Officer Fertiglobe, Ahmed El-Hoshy, memperingatkan bahwa pemerintah di berbagai negara perlu segera mengambil langkah untuk memastikan arus perdagangan pupuk tetap berjalan. Sebab, konflik di Timur Tengah akan memicu lonjakan harga biji-bijian dan memperparah kelaparan di kalangan masyarakat miskin dunia.


Selain itu, dukungan finansial kepada petani juga dinilai penting agar mereka tetap mampu membeli pupuk di tengah kenaikan harga yang tajam.

Fertiglobe, produsen pupuk yang mayoritas sahamnya dimiliki perusahaan minyak nasional Abu Dhabi, Adnoc, memanfaatkan gas alam sebagai bahan baku utama produksi pupuk. Sejak konflik memanas di kawasan Teluk, harga pupuk nitrogen seperti amonia dan urea mengalami kenaikan signifikan. Kondisi tersebut dipicu oleh terganggunya pasokan dari Timur Tengah serta melonjaknya harga gas dunia akibat gangguan pada infrastruktur energi di kawasan tersebut.

El-Hoshy mencatat, sekitar 30% ekspor urea dari wilayah Teluk saat ini tidak dapat dikirim keluar kawasan. Meskipun Fertiglobe telah mengalihkan sebagian distribusi melalui jalur darat menuju pelabuhan alternatif, kapasitas tersebut belum cukup untuk menutupi hambatan yang muncul akibat terbatasnya akses melalui Selat Hormuz.

Namun, Fertiglobe terus memproduksi pupuk di fasilitas di Abu Dhabi dan menyimpannya di berbagai lokasi. Perusahaan ini juga memiliki fasilitas produksi besar di luar Selat yang tetap beroperasi.

"Kegagalan dalam menggerakkan pasokan pupuk atau memberikan dukungan finansial berisiko memperburuk kekurangan pangan dan memicu kenaikan harga biji-bijian yang mungkin membutuhkan waktu lama untuk turun," kata El-Hoshy mengutip Wall Street Journal, Minggu (13/6/2026).

Menurutnya, produk pupuk memiliki peran yang sangat vital dalam sistem pangan global. El-Hoshy memperkirakan bahwa sekitar separuh kebutuhan kalori bagi lebih dari 8 miliar penduduk dunia bergantung pada penggunaan pupuk. Ketika harga pupuk meningkat dan pasokan terbatas, petani cenderung mengurangi penggunaannya, yang pada akhirnya dapat menekan produktivitas pertanian.

Pendapatnya sejalan dengan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), yang juga memberi peringatan serupa bahwa guncangan sistemik di bidang pertanian dan pangan dapat memicu krisis harga pangan global yang parah.

Sebagai langkah antisipasi, Uni Eropa telah menyiapkan bantuan keuangan sebesar 540 juta euro atau sekitar US$625 juta bagi para petani untuk membantu pembelian pupuk. Kebijakan tersebut diambil demi menjaga ketahanan pangan di tengah lonjakan biaya produksi pertanian.

Meski demikian, para analis menilai dampak konflik terhadap sektor pupuk dan pertanian merupakan tragedi yang berlangsung secara perlahan. Ancaman terbesar justru dirasakan negara-negara di Belahan Bumi Selatan yang saat ini tengah memasuki musim tanam. Keterbatasan akses pembiayaan membuat petani di wilayah tersebut lebih rentan terhadap kenaikan harga pupuk.

"Efek keterlambatan waktu membuat situasi ini berbahaya karena bisa memakan waktu berbulan-bulan bagi pasokan yang meninggalkan wilayah tersebut untuk sampai ke petani, dan melewatkan musim tanam utama di Belahan Bumi Selatan berisiko memengaruhi hasil panen berbulan-bulan ke depan," kata El-Hoshy.

"Petani di Afrika Sub-Sahara, Amerika Latin, dan India sangat bergantung pada impor dan mungkin harus berjuang tanpa pupuk nitrogen," ungkapnya.

Di beberapa negara dengan tingkat ekonomi dan sosial yang lebih rendah, produksi pangan bisa menurun. "Dan itu, dengan populasi yang terus bertambah, bisa menjadi masalah yang sangat serius," kata El-Hoshy.

Di sisi lain, pasar masih menyimpan harapan terhadap tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Prospek dibukanya kembali Selat Hormuz sempat mendorong penurunan harga minyak mentah Brent ke bawah level US$90 per barel. Namun, pelaku pasar tetap berhati-hati mengingat sejumlah perundingan sebelumnya gagal mencapai hasil meskipun optimisme sempat menguat.


(fsd/fsd) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Harga Pangan & BBM Naik, Inflasi Mei 2026 Capai 3,08% (yoy)