PT Timah Kaji Impor Bijih dari Myanmar & Amerika Latin

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Kamis, 11/06/2026 18:50 WIB
Foto: Ilustrasi: Sebuah excavator memuat tanah ke sebuah truk di tambang terbuka PT Timah di Pemali, Pulau Bangka, Indonesia, 25 Juli 2019. REUTERS / Fransiska Nangoy

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Timah Tbk (TINS) membeberkan bahwa saat ini perusahaan tengah menjajaki potensi impor bijih timah dari berbagai negara. Dua negara yang saat ini dibidik adalah Myanmar dan Amerika Latin.

Mengingat, cadangan timah domestik yang dikelola perusahaan saat ini terhitung hanya bisa bertahan hingga 15 tahun ke depan.

Wakil Direktur Utama TINS Harry Budi Sidharta menjelaskan bahwa perusahaan harus mulai mencari sumber pasokan baru dari luar negeri agar tidak hanya bergantung pada cadangan di Bangka Belitung.


Ia menyebutkan perusahaan kini mulai membuka komunikasi diplomatik untuk memetakan potensi pengadaan bahan baku dari negara produsen lain.

"Untuk luar negeri kita memang lagi penjajakan, salah satunya itu dari Myanmar karena Myanmar ini punya dia ekspor terbesar bijih, jadi belum ada smelter. Kemudian, beberapa yang menawarkan kemarin memang dari Amerika Latin ada yang menawarkan," katanya saat diskusi dengan sejumlah media di Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Penjajakan sumber bijih timah dari global tersebut dilakukan karena perusahaan melihat adanya peluang untuk menyerap hasil tambang dari negara yang belum memiliki fasilitas pemurnian sendiri.

Melalui rencana impor bijih tersebut, perusahaan berharap dapat mengoptimalkan kapasitas smelter di dalam negeri yang saat ini masih memiliki ruang untuk meningkatkan volume produksi.

"Memang itu 15 tahun mungkin posisi hari ini ya, tapi kita terus melakukan eksplorasi terus. Kalau kita memang kita bicara kelangsungan bisnis kayaknya kita memang harus ke luar mencari, kita nggak bisa terus mengandalkan Bangka Belitung, pasti pada satu saat akan habis," lanjut Harry.

Soal model investasinya, perusahaan cenderung memilih skema pembelian bijih ketimbang melakukan aktivitas penambangan langsung di negara lain. Strategi tersebut dinilai lebih aman dari sisi kepastian hukum dan risiko operasional dibandingkan harus mengelola tambang secara mandiri di wilayah yang memiliki dinamika politik kompleks.

"Kita (rencana) membeli saja, karena mungkin lebih keamanan lebih ada. Kita dulu pernah punya pengalaman ingin menambang di Myanmar, di Nigeria gitu, secara hukum dan lain-lain itu terlalu banyak risikonya, mending lebih baik kita menggandeng penambang lokal sana kemudian kita bawa atau kita di smelternya," tambahnya.

Kendati begitu, Harry mengakui bahwa rencana impor bijih timah ini masih memerlukan kajian mendalam terkait regulasi perdagangan di Indonesia.

Menurutnya, saat ini belum ada aturan yang secara spesifik membolehkan impor mineral mentah untuk diolah di dalam negeri, sehingga diperlukan koordinasi lebih lanjut dengan kementerian terkait.

"Belum boleh, makanya ini kan penjajakan dulu ya kita mau lihat dulu berapa sih volumenya ada nggak. Memang masih penjajakan tetapi kalau kita bicara kelangsungan bisnis kayaknya kita memang harus ke luar," tandasnya.

Sebelumnya, PT Timah Tbk (TINS) mencatatkan total sumber daya timah saat ini sebesar 800.000 ton dengan jumlah cadangan sebesar 300.000 ton. Namun, volume cadangan tersebut diproyeksikan hanya mampu menopang kebutuhan operasional produksi perusahaan untuk jangka waktu 10 hingga 15 tahun ke depan.

Direktur Produksi dan Komersial TINS Ilhamsyah Mahendra menjelaskan bahwa perusahaan tengah mendorong kegiatan eksplorasi untuk mengamankan ketersediaan sumber daya jangka panjang. Ia menegaskan bahwa penambahan cadangan baru menjadi prioritas untuk memastikan keberlanjutan bisnis perusahaan.

"Mulai dari eksplorasi, sekarang kami benar-benar melakukan eksplorasi yang agresif. Itu salah satu fokus utama PT Timah. Kita perlu mengamankan deposit sumber daya dan cadangan. Saat ini kami memiliki sekitar 800.000 untuk sumber daya dan sekitar 300.000 untuk cadangan. Dan kita butuh usia tambang yang lebih lama," ujarnya dalam acara Indonesia Critical Minerals Conference & Expo 2026, Jakarta, dikutip Kamis (4/6/2026).

Pihaknya menilai ketersediaan cadangan saat ini belum cukup ideal jika dibandingkan dengan visi perusahaan untuk mendominasi pasar global dalam waktu lama. Guna mempercepat penemuan titik cadangan baru, emiten anggota holding industri pertambangan MIND ID ini mulai mengandalkan teknologi pemetaan digital dan pemantauan udara di wilayah konsesi.

"Saya rasa angka-angka itu hanya untuk 10-15 tahun. Kita butuh jauh lebih banyak deposit untuk lebih dari seratus tahun. Jadi kami juga didukung oleh banyak teknologi untuk kegiatan eksplorasi, kami menggunakan platform GIS dan juga pemanduan drone untuk meningkatkan akurasi eksplorasi serta kecepatan waktu," tambahnya.

Di sisi lain, perusahaan juga mulai melirik peluang ekspansi ke luar negeri untuk mencari aset pertambangan yang strategis. Strategi ini diambil agar perusahaan tidak hanya bergantung pada sumber daya domestik, sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia dalam rantai pasok mineral kritis dunia.

"Kami sekarang mencari ekspansi global, tidak hanya memperluas kapasitas di sisi pemurnian, tetapi kami mencari aset pertambangan di luar Indonesia dan kami sangat terbuka mencari peluang untuk melakukan kemitraan, kolaborasi dengan perusahaan timah global," tandasnya.


(wia) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Surplus Neraca Dagang RI Turun Jadi USD 90 Juta di April 2026