MARKET DATA
Internasional

Piala Dunia 2026 Terancam "Zonk"-Gagal Jadi Mesin Uang AS

tfa,  CNBC Indonesia
09 June 2026 21:58
Presiden AS Donald Trump mengambil undian untuk tim Amerika Serikat selama proses pengundian Piala Dunia FIFA 2026, yang berlangsung di John F. Kennedy Center for the Performing Arts, Washington, D.C., AS, pada 5 Desember 2025. (Pool via REUTERS/Step
Foto: Presiden AS Donald Trump mengambil undian untuk tim Amerika Serikat selama proses pengundian Piala Dunia FIFA 2026, yang berlangsung di John F. Kennedy Center for the Performing Arts, Washington, D.C., AS, pada 5 Desember 2025. (Pool via REUTERS/STEPHANIE SCARBROUGH)

Jakarta, CNBC Indonesia - Piala Dunia FIFA 2026 selama ini dipromosikan sebagai mesin penggerak ekonomi bagi kota-kota tuan rumah di Amerika Serikat (AS). Turnamen sepak bola terbesar di dunia itu diharapkan mendatangkan jutaan wisatawan, meningkatkan okupansi hotel, menciptakan lapangan kerja baru, serta mendorong miliaran dolar belanja konsumen.

Namun, menjelang bergulirnya pertandingan, sejumlah indikator justru memunculkan keraguan terhadap besarnya dampak ekonomi yang dijanjikan. Tingginya harga tiket, lemahnya pemesanan hotel, serta ketidakpastian ekonomi dan geopolitik dinilai dapat membatasi jumlah wisatawan yang datang ke AS.

"Minat untuk bepergian dan membayar harga tiket yang tinggi semakin berkurang. Saya pikir ada juga beberapa isu geopolitik yang tentu saja membuat orang lebih waspada untuk bepergian ke AS dan menghabiskan uang di AS," kata Profesor Manajemen Olahraga North Carolina State University, Mike Edwards, seperti dikutip Al Jazeera, Selasa (9/6/2026).

Kekhawatiran juga datang dari wisatawan internasional. Kebijakan imigrasi Presiden AS Donald Trump disebut menjadi salah satu faktor yang mengurangi minat berkunjung. Pada April lalu, sejumlah organisasi termasuk American Civil Liberties Union (ACLU) bahkan mengeluarkan peringatan bagi warga asing yang hendak bepergian ke AS untuk menyaksikan Piala Dunia.

Selain itu, kebingungan terkait aturan visa dan laporan keterlambatan proses penerbitan visa turut menimbulkan ketidakpastian bagi para penggemar sepak bola dari luar negeri. Situasi ini berpotensi mengurangi jumlah wisatawan internasional yang biasanya menjadi penyumbang belanja terbesar selama ajang olahraga global berlangsung.

Di sisi domestik, masyarakat AS juga menghadapi tekanan ekonomi. Harga bensin tercatat mencapai US$4,16 (sekitar Rp75.275) per galon, naik dari US$2,98 (Rp53.923) per galon pada akhir Februari. Kenaikan biaya hidup dan pasar tenaga kerja yang melambat membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang untuk perjalanan dan hiburan.

Dampaknya mulai terlihat pada sektor perhotelan. Berdasarkan survei American Hotel and Lodging Association, sekitar 80% hotel melaporkan tingkat pemesanan yang masih di bawah ekspektasi hanya beberapa hari sebelum turnamen dimulai. Sebanyak 70% responden menyebut hambatan visa dan gejolak geopolitik sebagai penyebab utama lemahnya permintaan.

Di New York City yang akan menjadi lokasi partai final, pemesanan hotel baru mencapai sekitar 65% dari target yang diharapkan. Sementara di Seattle, sekitar 80% hotel tercatat masih tertinggal dibandingkan tingkat pemesanan musim panas normal. Kondisi serupa juga terjadi di Vancouver, Kanada, yang turut menjadi salah satu kota penyelenggara.

Meski demikian, sebagian pelaku industri masih optimistis. CEO Airbnb Brian Chesky mengatakan perusahaan memperkirakan jumlah pemesanan selama Piala Dunia akan menjadi yang terbesar sepanjang hampir 18 tahun sejarah Airbnb.

Optimisme tersebut terlihat dari tingginya harga akomodasi di sejumlah kota tuan rumah. Di sekitar stadion Dallas, tarif penginapan untuk dua malam menjelang pertandingan 14 Juni mencapai hampir US$700 (Rp12,67 juta). Di Philadelphia, harga terendah untuk dua malam mendekati US$300 (Rp5,43 juta).

Sementara itu, menjelang laga final 19 Juli di kawasan Stadion MetLife, New Jersey, sejumlah akomodasi Airbnb dipasarkan dengan harga lebih dari US$5.600 (Rp101,33 juta) untuk masa menginap tertentu.

Permintaan perjalanan udara juga menunjukkan tren positif. Data perusahaan analitik perjalanan Sojern mencatat pemesanan penerbangan ke Houston melonjak 38% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sedangkan Dallas naik 42%. Namun, sekitar 70% pemesanan tersebut berasal dari wisatawan domestik, sementara kontribusi wisatawan internasional masih relatif rendah.

Menurut United States Travel Association, wisatawan asing sebenarnya memiliki nilai ekonomi lebih besar karena rata-rata menghabiskan lebih dari US$5.000 (Rp90,48 juta) per orang selama berkunjung. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata pengeluaran wisatawan domestik.

Di sisi lain, tingginya harga tiket pertandingan juga menjadi sorotan. Harga tiket kategori tribun atas untuk laga awal di Dallas dilaporkan berada di atas US$800 (Rp14,48 juta) per lembar. Untuk partai final, tiket di pasar sekunder dijual mulai US$9.200 (Rp166,47 juta) hingga mencapai US$43.553 (Rp787,84 juta) per tiket.

FIFA membela strategi penetapan harga dinamis yang membuat harga tiket naik mengikuti permintaan pasar. Namun, kebijakan tersebut menuai kritik dari kelompok suporter yang menilai turnamen semakin sulit diakses oleh penggemar biasa.

Di tengah mahalnya tiket dan ketidakpastian jumlah wisatawan asing, sejumlah analis menilai dampak ekonomi Piala Dunia 2026 kemungkinan tidak akan sebesar proyeksi awal yang selama ini dijanjikan kepada kota-kota tuan rumah.

(tfa/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Pengusaha Ingatkan Bahaya Mengintai, Sentil Data Ramai Wisman ke RI


Most Popular
Features