MARKET DATA
Internasional

5 Fakta Piala Dunia Chaos, Kebijakan Trump Cekik Suporter-Wasit Dunia

tps,  CNBC Indonesia
12 June 2026 15:41
5 Fakta Piala Dunia Chaos, Kebijakan Trump Cekik Suporter-Wasit Dunia
Foto: (REUTERS/Kai Pfaffenbach)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelaran akbar Piala Dunia 2026 yang dijadwalkan mulai bergulir pada Kamis diwarnai oleh gelombang kekacauan serta ketegangan politik yang masif. Kebijakan pembatasan perjalanan yang super ketat dari pemerintah Amerika Serikat (AS), lonjakan harga tiket yang gila-gilaan, hingga diskriminasi imigrasi dilaporkan telah merusak reputasi pesta sepak bola terbesar sejagat tersebut.

Mengutip laporan RT, turnamen perdana yang mencatatkan rekor sejarah dengan diikuti oleh 48 negara serta diselenggarakan di tiga negara tuan rumah yakni AS, Kanada, dan Meksiko justru berubah menjadi panggung kontroversi. Sejumlah tim nasional, perangkat pertandingan resmi, hingga ratusan ribu suporter internasional kini terancam tidak bisa memasuki area stadion akibat ketatnya barikade imigrasi di bandara-bandara utama Amerika Serikat.

1.Wasit Terbaik Afrika Diinterogasi 11 Jam Lalu Diusir

Salah satu skandal terbesar yang memicu kemarahan publik internasional menimpa Omar Abdulkadir Artan, wasit berprestasi asal Somalia yang terpilih sebagai wasit pertama dari negaranya untuk memimpin laga Piala Dunia. Meskipun mengantongi visa resmi yang sah, pria berusia 34 tahun yang menyabet gelar Africa's Referee of the Year pada 2025 tersebut langsung ditahan begitu mendarat di Bandara Internasional Miami.

Otoritas Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (CBP) Amerika Serikat menundukkan Artan dalam proses interogasi yang melelahkan selama 11 jam penuh sebelum akhirnya mendeportasinya tanpa alasan yang jelas.

Media The New York Times mensinyalir bahwa Artan kemungkinan menjadi korban salah tangkap akibat kemiripan nama dengan seorang warga Somalia lain yang masuk dalam daftar sanksi terorisme Washington, di tengah kebijakan pembatasan dokumen perjalanan (travel ban) era Donald Trump yang memblokir warga dari 12 negara.

2.Pemain Bintang Irak Ditahan, Skuad Senegal Dikuliti

Aroma diskriminasi imigrasi di pintu masuk Amerika Serikat juga dirasakan langsung oleh skuad Tim Nasional Irak dan Senegal. Kapten timnas Irak, Aymen Hussein, dilaporkan sempat ditahan dan dicecar pertanyaan oleh petugas keamanan selama hampir tujuh jam setibanya di Chicago, sementara fotografer resmi kepanduan mereka, Talal Salah, secara sewenang-wenang ditolak masuk ke dalam negeri.

Pemandangan serupa juga dialami oleh skuad Senegal yang terekam kamera harus menjalani pemeriksaan keamanan yang sangat ekstrim dan berlebihan, mulai dari penggeledahan fisik secara menyeluruh (pat-downs) hingga pemeriksaan detektor logam berlapis.

Mantan kapten timnas Italia pemenang Ballon d'Or, Fabio Cannavaro, dikabarkan tidak luput dari proses pemeriksaan dokumen yang berjalan sangat lambat dan berbelit-belit pasca-mendarat.

3.Kampanye Iran Berantakan, Terdepak ke Meksiko

Dampak dari eskalasi politik luar negeri Washington juga memukul telak persiapan tim nasional Iran. Akibat ketidakpastian persetujuan visa dari pemerintah Amerika Serikat yang baru diterbitkan beberapa hari menjelang sepak mula, federasi sepak bola Iran terpaksa memindahkan markas pemusatan latihan mereka dari Arizona, Amerika Serikat, ke kota Tijuana di Meksiko.

Ketegangan semakin meruncing setelah federasi Iran melayangkan protes keras kepada FIFA karena alokasi tiket resmi untuk suporter mereka dicabut secara sepihak oleh pihak penyelenggara hanya beberapa hari sebelum turnamen dimulai.

Langkah diskriminatif ini dinilai telah melanggar prinsip keadilan bagi seluruh negara peserta, sementara jutaan fans fanatik dari wilayah Afrika dan Timur Tengah, termasuk Yordania, Maroko, Mesir, hingga Pantai Gading, mengaku frustrasi karena permohonan visa mereka ditolak massal oleh kedutaan Amerika Serikat.

"Amerika Serikat telah bersikap jelas kepada kami, mengatakan mereka tidak ingin melihat suporter kami. Ini merupakan sebuah bentuk segregasi nyata dalam olahraga," ketus Julien Kouadio Adonis, Presiden Asosiasi Suporter Pantai Gading, meluapkan kekecewaannya kepada AFP akibat ketatnya seleksi imigrasi.

4.Skandal Harga Tiket Gila-gilaan FIFA Diusut Hukum

Di luar urusan imigrasi, FIFA kini berada dalam radar pemeriksaan hukum oleh Jaksa Agung New York dan New Jersey atas dugaan manipulasi pasar, kelangkaan tiket buatan, serta penerapan harga tiket yang dinilai "mustahil untuk dijangkau" oleh masyarakat biasa. Strategi demand-based pricing atau harga dinamis yang diterapkan badan sepak bola dunia tersebut dituding sebagai aksi pemerasan terstruktur terhadap para penggemar sepak bola.

Berdasarkan laporan di lapangan, harga tiket untuk babak penyisihan grup telah meroket hingga menembus angka US$ 4.000 atau setara Rp 65 juta per lembar di platform resmi maupun spekululan, sementara tiket babak final meroket jauh lebih tinggi. Angka ini naik ribuan persen jika dibandingkan dengan harga tiket termurah pada Piala Dunia 2022 di Qatar yang hanya berkisar antara US$ 70 hingga US$ 220, atau Piala Dunia 2018 di Rusia yang dimulai dari harga US$ 105 (Rp 1,8 juta).

5.Larangan Atribut Bendera Picu Ketegangan Politik Baru

Kekacauan Piala Dunia 2026 kian melebar ke ranah domestik negara-negara Eropa setelah beberapa dewan wilayah di Inggris mengeluarkan imbauan kontroversial yang melarang para suporter untuk mengibarkan atau menempelkan bendera Salib St. George di fasilitas publik demi menjaga sentimen kohesi komunitas migran. Langkah ini diambil pasca rilis laporan Lembaga Pemantau Independen (IMB) yang mengklaim bahwa penggunaan atribut bendera oleh petugas imigrasi berisiko menimbulkan persepsi intimidasi bagi para pencari suaka.

Keputusan politik tersebut langsung memicu reaksi keras dari pemimpin Reform UK, Nigel Farage, yang menilai kelas politik saat ini telah bertindak gila dan kebablasan atas nama inklusivitas. Melalui akun Facebook pribadinya, Farage mengecam keras regulasi tersebut yang dinilai telah mengkriminalisasi identitas nasional para penggemar sepak bola lokal demi memuaskan agenda politik tertentu di tengah gelombang turnamen internasional.

(tps/tps) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Kanada Ogah Ikuti AS Terapkan Imigrasi Lebih Ketat Jelang Piala Dunia


Most Popular
Features