Demo Anti Presiden Makin Menjadi, Eks Rezim Disebut Biang Kerok
Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis makin memburuk di Bolivia. Demonstrasi anti Presiden bahkan sudah melumpuhkan negara itu selama sebulan.
Hal ini membuat Presiden Bolivia bergerak mengumumkan keadaan darurat. Pengumuman akan memungkinkan militer untuk melakukan intervensi.
Perlu diketahui, selama berminggu-minggu para pendemo melakukan unjuk rasa dan memasang penghalang jalan. Ini membuat aktivitas satu negara tersebut hampir terhenti, semakin menaikkan harga pangan dan bahan bakar serta menyebabkan kekurangan barang-barang kebutuhan pokok.
Para pengunjuk rasa sebenarnya menuntut agar pemerintahan Presiden Rodrigo Paz, yang baru beberapa bulan, mengatasi krisis ekonomi yang parah. Sementara pendemo lain menuntut agar dia mundur.
Presiden Bolivia Rodrigo Paz (REUTERS/Ipa Ibanez) |
Dalam konferensi pers Senin waktu setempat, Paz menyalahkan gembong narkotika atas kerusuhan tersebut. Ia memperingatkan bahwa "hari-hari mereka sudah tinggal menghitung hari".
Ia mengatakan telah mendukung undang-undang yang membuka jalan bagi keadaan darurat yang akan mengizinkan pengerahan militer untuk menekan gerakan tersebut dan membersihkan blokade. Paz berpendapat bahwa rezim sebelumnya, mantan presiden Evo Morales dan para pendukungnya juga mendorong protes untuk mengacaukan pemerintahannya.
Paz sendiri merupakan sosok yang pro-bisnis dan didukung Amerika Serikat (AS). Ia mulai menjabat pada bulan November dan berjanji untuk menyelesaikan krisis ekonomi terburuk di negara itu dalam beberapa dekade.
Namun reformasi ekonomi tidak populer. Ia kemudian gagal menanggapi tuntutan sosial telah menimbulkan kemarahan publik.
Sementara itu, Jumat lalu, Presiden Donald Trump memberikan dukungan ke Paz melalui aliansi Perisai Amerika. Aliansi ini sebuah koalisi anti-kartel yang mencakup pemerintahan pro-AS di Argentina, Bolivia, dan Chili, serta negara-negara lain.
source on Google [Gambas:Video CNBC]
