Pakar Imbau Ibu Hamil Pahami Risiko Paparan BPA dari Galon Guna Ulang
Jakarta, CNBC Indonesia - Paparan Bisphenol A atau BPA dari galon dan kemasan plastik makanan-minuman yang digunakan ulang memiliki keterkaitan dengan pubertas dini. Untuk mencegah masalah tersebut, ibu hamil perlu mengurangi paparan BPA sejak rencana kehamilan.
"Perencanaan kehamilan itu harus direncanakan. Gak zamannya lagi hamil itu kebetulan, harus direncanakan," ungkap Pakar obstetri dan ginekologi Budi Wiweko, dikutip Rabu (3/6/2026).
Menurutnya paparan zat pengganggu hormon perlu dihindari sebelum dan selama kehamilan, terutama pada fase awal. Di samping itu, ia menyebutkan, BPA atau Bisphenol A sebagai bagian dari zat yang harus diperhatikan.
"Ketika ibu hamil dalam tiga bulan pertama, itu tidak boleh dia terekspos dengan itu," terang dia.
Permasalahan BPA dari galon tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan konsumsi anak, tetapi juga kesiapan keluarga sejak sebelum anak lahir. Pasalnya, BPOM RI sendiri telah menetapkan batas migrasi maksimal 0,6 bagian per juta atau mg/kg dalam kemasan pangan.
Budi menjelaskan melalui program Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) bernama "Selamatkan Perempuan Indonesia", para tenaga medis ingin menegaskan pentingnya membangun kesehatan perempuan dari hulu sampai hilir.
Dia menegaskan persiapan kesehatan tidak cukup dimulai saat bayi lahir. Menurut Budi, bukan hanya di 1.000 hari pertama ketika bayi lahir, 100 hari sebelum kehamilan pun harus diperhatikan.
Risiko paparan itu juga dikaitkan dengan kesehatan reproduksi anak di kemudian hari. Budi mengatakan, ibu hamil yang terpapar zat pengganggu hormon pada tiga bulan pertama dapat membawa risiko bagi anak yang dikandungnya. Dia menyebut gangguan seperti kista endometriosis, kista coklat, PCOS, hingga kanker sebagai contoh masalah yang perlu diwaspadai.
Sementara dari sisi psikologis, Psikolog Ratih Zulhaqqi memandang pencegahan pubertas dini juga erat kaitannya dengan kesiapan menjadi orang tua.
"Pubertas dini ini kan sebenarnya bukan permasalahan pada saat mereka pubertas aja, justru dari sebelum-sebelumnya kan, ketika mereka mau jadi orang tua," ujarnya.
Ratih mengatakan orang tua perlu memahami kebutuhan dasar anak, bukan hanya sekolah. Ia menekankan pentingnya jam tidur, jam makan, dan apa yang dikonsumsi, termasuk menghindari zat seperti BPA.
Oleh sebab itu, pencegahan pubertas dini perlu ditempatkan sebagai upaya keluarga yang berkelanjutan. Upaya tersebut bisa dilakukan sejak rencana kehamilan, masa hamil, hingga pola asuh, orang tua dapat memperhatikan sumber paparan dari kemasan makanan-minuman, termasuk galon.
(rah/rah) Add
source on Google