Pakar: BPA dari Galon Guna Ulang Bisa Berkaitan dengan Pubertas Dini
Jakarta, CNBC Indonesia - Faktor lingkungan berupa paparan Bisphenol A atau BPA dari galon dan kemasan makanan-minuman ternyata bisa menimbulkan gejala pubertas dini pada anak. Temuan tersebut diungkapkan oleh Pakar obstetri dan ginekologi Budi Wiweko, yang mengungkap terdapat zat kimia di sekitar manusia yang diduga dapat mengganggu hormon.
"Zat-zat yang terdapat di lingkungan itu bisa mengganggu mekanisme kerja hormon," ujarnya, dikutip Rabu (3/6/2026).
Budi mengatakan pubertas dini juga bisa dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Akan tetapi, hal yang membedakan adalah faktor genetik yang dibawa sejak lahir tidak bisa dikontrol, sementara faktor lingkungan masih dapat dikontrol. Salah satu zat pengganggu hormon tersebut dapat ditemukan pada kemasan makanan, kemasan minuman, dan polutan.
Dalam konteks BPA, dia mengatakan, zat pengganggu ini menyerupai hormon estrogen, yang mana mereka bisa bekerja area tersebut. BPA pun dianggap dapat bekerja pada organ yang menjadi sasaran estrogen, seperti rahim dan payudara.
"Sehingga kalau ada perempuan terekspos dengan Bisphenol pada usia dini, memungkinkan payudaranya tumbuh lebih cepat, rahimnya tumbuh lebih cepat, sehingga terjadilah pubertas dini tadi," ucapnya.
Risiko pubertas dini tidak berhenti hanya pada perubahan fisik yang muncul lebih cepat. Kondisi ini juga dapat membuat anak menghadapi tekanan psikologis, lantaran tubuhnya berkembang lebih awal daripada teman sebaya.
Berikutnya, para pakar dari "Endocrine Society" juga mengaitkan pubertas dini dengan peningkatan risiko masalah psikososial, obesitas, diabetes, penyakit kardiovaskular, dan kanker payudara.
Sehubungan dengan sumber paparan sehari-hari, Budi menyebut BPA paling banyak ditemukan di kemasan makanan, kemasan minuman. Contohnya adalah galon air minum. Alhasil, galon menjadi produk kemasan yang perlu diperhatikan. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI sendiri sudah menetapkan batas migrasi BPA maksimal 0,6 bagian per juta dalam kemasan pangan.
Dia melanjutkan, isu BPA juga perlu dilihat dari kesehatan reproduksi. Menurutnya, penyakit terkait organ reproduksi banyak dipengaruhi oleh zat pengganggu hormon, termasuk Bisphenol dan Dioksin. Paparan tersebut dapat berkaitan dengan kista endometriosis, gangguan pematangan telur, gangguan ovulasi, kesulitan hamil, miom, hingga kanker.
Dalam kasus ibu hamil, ia menekankan pentingnya kehati-hatian sejak awal kehamilan. "Ketika ibu hamil dalam tiga bulan pertama, itu tidak boleh dia terekspos dengan itu," ucapnya.
Dari sisi psikologi, Psikolog Ratih Zulhaqqi menilai pubertas dini juga perlu dilihat dari kesiapan keluarga. Ia menilai, pubertas dini makin meningkat, karena ada kemungkinan orang tua tidak langsung tahu bahwa anaknya telah mengalami pubertas dini.
"Justru ini ditemukan setelah mereka konsul," imbuhnya.
Ratih juga mengingatkan bahwa pencegahan terkait pola hidup anak perlu dilakukan. Hal ini mencakup jam tidur, jam makan, dan apa saja yang dikonsumsi oleh anak, termasuk menghindari zat seperti BPA.
(rah/rah) Add
source on Google [Gambas:Video CNBC]