Internasional

Negara Ini Gelar Pemilu, Jadi Penentu Nasib Trump, Putin, dan Perang

tps, CNBC Indonesia
Senin, 08/06/2026 06:40 WIB
Foto: Demo terhadap kesepakatan untuk menghentikan pertempuran atas wilayah Nagorno-Karabakh, di Lapangan Kebebasan di Yerevan, Armenia, Rabu, 11 November 2020. (AP / Dmitri Lovetsky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Warga Armenia memberikan suara mereka dalam pemilihan parlemen pada Minggu, (07/06/2026). Pemilihan parlemen ini dinilai akan menguji langkah Perdana Menteri Nikol Pashinyan untuk menjauh dari pengaruh Rusia dan mendekat pada Barat.

Mengutip France24, Komisi Pemilihan Umum Pusat menyatakan bahwa tingkat partisipasi pemilih mencapai 58,97% ketika tempat pemungutan suara (TPS) ditutup pada pukul 16.00 GMT, dengan hasil parsial yang diperkirakan akan keluar pada Senin pagi. Data awal dari sejumlah kecil TPS menunjukkan partai Kontrak Sipil yang dipimpin oleh Pashinyan memimpin pemilihan parlemen dengan perolehan 57.14% suara menurut data komisi pemilihan Armenia yang disiarkan di televisi publik.

Data yang diambil dari sekitar 5% TPS di Armenia tersebut menunjukkan aliansi pro-Rusia Armenia Kuat berada di posisi kedua dengan sekitar 21% suara, sementara Aliansi Armenia yang dipimpin oleh mantan Presiden Robert Kocharyan berada di posisi ketiga dengan meraih sekitar 8% suara.


Pemungutan suara ini merupakan pemilihan umum pertama bagi Armenia sejak kekalahan militer yang menghancurkan dari Azerbaijan pada tahun 2023, dan dilihat sebagai ujian bagi upaya Pashinyan untuk memperdalam hubungan dengan Barat serta mengamankan kesepakatan damai dengan Azerbaijan setelah bertahun-tahun dilanda konflik dan golakan politik.

Secara teknis Armenia dan Rusia adalah sekutu, tetapi Moskow telah membandingkan ambisi Uni Eropa (UE) dari Yerevan sebagai sesuatu yang sama dengan apa yang terjadi di Ukraina Pemilu ini digelar setelah bertahun-tahun pergolakan terjadi sejak Pashinyan didorong ke tampuk kekuasaan dalam revolusi jalanan pada tahun 2018, di mana negara kecil di kawasan Kaukasus ini masih belum pulih dari pengambilalihan wilayah Karabakh oleh musuh lamanya, Azerbaijan.

Konflik tersebut berakhir pada tahun 2023 ketika tentara Azerbaijan merebut kendali atas wilayah kantong tersebut yang menyebabkan sebagian besar penduduk Armenia melarikan diri, sehingga Pashinyan membingkai pemungutan suara ini sebagai pilihan antara perdamaian abadi dengan Azerbaijan atau kembali ke medan perang.

Pria berusia 51 tahun tersebut juga berusaha melonggarkan ketergantungan Armenia pada Moskow setelah Rusia dinilai gagal membantu selama konflik Karabakh, termasuk membekukan partisipasi dalam blok keamanan yang dipimpin Rusia sembari memperdalam ikatan dengan UE serta Amerika Serikat (AS), bahkan membawa Armenia menuju jalur kemungkinan keanggotaan UE.

Meskipun Presiden AS Donald Trump memberikan dukungan totalnya untuk pemilihan kembali Pashinyan, Moskow justru meradang atas potensi hilangnya sekutu lain di halaman belakang mereka. Perdana Menteri Nikol Pashinyan memberikan komentarnya mengenai proses demokrasi tersebut kepada para jurnalis setelah memberikan suaranya di sebuah TPS di Yerevan.

"Kami akan menerima pilihan apa pun yang dibuat oleh rakyat," ujar Pashinyan.

Pashinyan juga menegaskan bahwa Armenia akan mengejar kebijakan luar negeri yang seimbang setelah pemilu ini dan bersikeras bahwa tidak ada masalah dalam memilih antara Rusia atau Barat. Di sisi lain, Presiden Rusia Vladimir Putin memberikan sindiran tajam mengenai situasi politik yang sedang berkembang di Armenia.

"Kita semua melihat apa yang terjadi dengan Ukraina sekarang... Bagaimana itu semua dimulai? Dengan upaya Ukraina untuk bergabung dengan UE," kata Putin.

Pihak Kremlin sendiri telah dituduh berusaha memengaruhi hasil pemungutan suara melalui penyebaran disinformasi di internet, aktivitas peretas, serta narasi ramah Kremlin yang menggambarkan kerja sama dengan Barat sebagai hal yang berbahaya. Dalam beberapa minggu sebelum pemungutan suara, Rusia bahkan melarang impor beberapa produk dari Armenia sebagai langkah untuk menumpuk tekanan ekonomi, sementara pejabat Armenia telah memperingatkan bahwa musuh-musuh kebebasan sedang mendanai upaya propaganda.

Serbuan Ceroboh

Pashinyan bersikeras bahwa dirinya tidak menginginkan perpecahan dengan Moskow, namun kampanye pemilu kali ini telah menjadi pertempuran sengit atas masa depan geopolitik Armenia di mana Pashinyan dan lawan politik utamanya saling menuduh satu sama lain dapat memicu konflik baru. Pashinyan mengatakan kepada para pemilih bahwa Armenia bisa menghadapi perang yang membawa bencana dengan Azerbaijan dalam beberapa bulan jika partai Kontrak Sipil miliknya gagal mengamankan mayoritas yang kuat di parlemen.

Tuduhan tersebut langsung dibantah oleh lawan politiknya yang menganggap retorika itu sebagai upaya menakut-nakuti masyarakat. Partai oposisi Armenia yang dipimpin mantan presiden Robert Kocharyan memberikan pernyataan resmi yang menuduh balik pihak pemerintah.

"Pihak berwenang melakukan penindasan skala besar, terutama terhadap staf kampanye, dan menggunakan sumber daya administratif," sebut pihak partai Armenia.

Aliansi oposisi Armenia Kuat yang dipimpin oleh pengusaha miliarder Rusia-Armenia Samvel Karapetyan juga ikut mengecam jalannya proses pemilihan umum ini. Pihak aliansi menyatakan telah terjadi banyak pelanggaran pemilu dan tindakan represi, sementara jaksa penuntut mengatakan 165 kasus pidana telah dibuka terkait dugaan penghalangan proses pemilu.

Karapetyan sendiri menolak klaim bahwa dirinya akan menyeret Armenia kembali ke orbit Rusia, namun ia memberikan peringatan keras terhadap langkah politik luar negeri yang diambil oleh perdana menteri petahana saat ini. Karapetyan, yang berada di bawah tahanan rumah sejak tahun lalu atas tuduhan komplotan kudeta yang ditolaknya sebagai motif politik, memperingatkan agar Armenia tidak melakukan serbuan ceroboh ke pihak Barat.

Di bagian lain, Eropa Barat tidak merahasiakan siapa yang mereka inginkan untuk memenangkan pemilu ini, di mana dalam kunjungan profil tinggi, Presiden Prancis Emmanuel Macron melemparkan dukungannya kepada Pashinyan dan merangkul pemimpin Armenia tersebut sebagai teman dekat.

Memilih Untuk Perdamaian

Hingga saat ini masih belum jelas apakah partai milik Pashinyan dapat mengamankan dua pertiga mayoritas parlemen yang diperlukan untuk meloloskan amendemen konstitusi, yang dituntut oleh Azerbaijan sebagai syarat untuk perjanjian damai akhir. Rekam jejak demokrasi Pashinyan juga dipertaruhkan dalam pemilu ini, di mana delapan tahun setelah ia berkuasa dengan janji membongkar sistem oligarki Armenia, ia kini menghadapi tuduhan kemunduran demokrasi.

Meski demikian, bagi banyak warga Armenia, pihak oposisi tetap dikaitkan dengan pengaruh Rusia dan kaum oligarki. Seorang pengrajin berusia 63 tahun bernama Hakob Hakobyan memberikan alasannya memilih Pashinyan kepada AFP di lokasi pemungutan suara.

"Saya memilih untuk perdamaian. Hanya Pashinyan yang bisa membawa perdamaian," ucap Hakobyan.

Pernyataan berbeda dikeluarkan oleh pemilih lain, Khachatur Movsisyan, seorang insinyur mesin berusia 59 tahun yang memilih untuk menaruh suaranya pada kubu yang berbeda.

"Saya mendukung partai oposisi karena negara ini, dan kita semua, membutuhkan perubahan-dalam kebijakan luar negeri, kebijakan dalam negeri, dan dalam negosiasi dengan Azerbaijan," tutur Movsisyan.


(tps/tps) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Harga Minyak Ambles 5% - Prabowo Siapkan 400 Calon Bos BUMN