Internasional

PM Malaysia Anwar Ibrahim Digoyang, Ramai Kader Partai "Membelot"

tfa, CNBC Indonesia
Jumat, 29/05/2026 18:20 WIB
Foto: Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim saat konferensi pers dengan Presiden Indonesia Prabowo Subianto di Jakarta, Indonesia, 27 Juni 2025. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim menghadapi tekanan politik yang semakin besar setelah gelombang pembelotan kader dari Partai Keadilan Rakyat (PKR) terus meluas.

Menurut laporan Reuters, retaknya internal partai penguasa itu terjadi setelah mantan Menteri Ekonomi Malaysia Rafizi Ramli keluar dari PKR dan mengambil alih partai baru bernama Partai Persatuan Malaysia atau Bersama.

Rafizi, yang selama ini dikenal sebagai mantan anak didik sekaligus sekutu dekat Anwar, bahkan disebut-sebut pernah menjadi calon kuat penerus kepemimpinan perdana menteri tersebut.


Partai baru yang dipimpin Rafizi itu diklaim telah menerima lebih dari 18.000 permohonan anggota. Sekitar sepertiganya berasal dari mantan kader PKR.

Meski sebagian besar yang hengkang merupakan anggota akar rumput dan pengurus lokal, situasi itu memunculkan kekhawatiran mengenai soliditas PKR menjelang kemungkinan pemilu lebih awal.

Anwar sendiri mulai memimpin Malaysia sejak November 2022 setelah lebih dari dua dekade menjadi tokoh oposisi yang mengusung agenda antikorupsi dan reformasi politik.

Namun, pemerintahannya belakangan menghadapi sorotan terkait lambatnya reformasi kelembagaan, penanganan isu korupsi, hingga meningkatnya ketegangan di internal koalisi pemerintah.

Anggota parlemen PKR sekaligus loyalis lama Anwar, Hassan Abdul Karim, mengaku sudah tidak mampu lagi membendung arus kader yang keluar dari partai.

"Saya masih percaya pada PKR, tetapi partai ini sekarang terluka, menderita, dan sangat terluka," tulis Hassan dalam unggahan media sosialnya.

Hassan mengatakan partai Bersama berpotensi menarik dukungan dari pemilih muda, kelompok pemilih mengambang, hingga masyarakat yang lebih fokus pada isu ekonomi.

"Jika lebih banyak anggota parlemen PKR pendukung Rafizi keluar dari partai, Anwar akan kehilangan legitimasi sebagai perdana menteri," ujarnya.

Meski demikian, kubu PKR membantah adanya eksodus besar-besaran kader ke partai baru Rafizi.

Sekretaris Jenderal PKR Fuziah Salleh mengatakan perpindahan anggota masih dalam skala terbatas. Sementara Kepala Informasi PKR Fahmi Fadzil menyebut partainya justru mendapat tambahan sekitar 5.000 anggota baru dalam dua bulan terakhir dengan total anggota lebih dari satu juta orang.

Walau belum mengancam langsung posisi Anwar karena pemerintah masih menguasai mayoritas parlemen, analis politik Universitas Nottingham Asia Bridget Welsh menilai konflik internal PKR dapat memperlemah peluang elektoral partai.

"Persepsi mengenai bagaimana Anwar mengelola partainya sendiri menjadi penting, karena masalah internal PKR tidak mencerminkan kondisi yang baik," kata Welsh.

Pemilu Malaysia berikutnya sejatinya baru dijadwalkan berlangsung pada awal 2028. Namun Anwar sebelumnya membuka peluang pemilu dipercepat apabila konflik internal pemerintah terus membesar.

Ketegangan di tubuh koalisi penguasa juga dipicu ketidakpuasan kelompok reformis terhadap penanganan skandal di lembaga antikorupsi serta perbedaan pandangan terkait isu etnis dan agama di Malaysia.

Pada Senin lalu, sebanyak 21 pimpinan lokal PKR juga mengumumkan pengunduran diri mereka dari partai. Sejumlah pimpinan regional PKR lainnya turut mengundurkan diri bulan ini. Salah satu di antaranya bahkan menyebut partai Bersama sebagai kelanjutan dari cita-cita asli PKR.

"Kami percaya partai politik harus mempraktikkan nilai reformasi dan demokrasi yang dijanjikan kepada rakyat. Sayangnya, prinsip-prinsip itu tidak lagi kami lihat dijalankan secara konsisten di PKR saat ini," tulis mereka dalam pernyataan bersama.


(tfa/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Jaksa Agung Setor Rp 10,2 T ke Negara: Tak Boleh Ada Kebocoran!