MARKET DATA

Anwar Ibrahim Bersuara Soal Venezuela: AS Langgar Hukum Internasional!

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
04 January 2026 15:26
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim saat konferensi pers dengan Presiden Indonesia Prabowo Subianto di Jakarta, Indonesia, 27 Juni 2025. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)
Foto: Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim saat konferensi pers dengan Presiden Indonesia Prabowo Subianto di Jakarta, Indonesia, 27 Juni 2025. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyampaikan keprihatinan mendalam atas penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya dalam operasi militer Amerika Serikat. Anwar menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan kedaulatan negara.

Dalam pernyataan resminya Anwar mengatakan, ia mengikuti perkembangan situasi di Venezuela dengan penuh keprihatinan. Ia menyebut penangkapan pemimpin Venezuela melalui operasi militer asing sebagai tindakan yang tidak dapat dibenarkan.

"Pemimpin Venezuela dan istrinya telah ditangkap dalam sebuah operasi militer Amerika Serikat dengan skala dan karakter yang tidak biasa. Tindakan tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan termasuk penggunaan kekuatan secara tidak sah terhadap sebuah negara berdaulat," kata Anwar dikutip dari Instagram resminya @anwaribrahim_my, Minggu (4/1/2026).

Anwar secara tegas mendesak agar Presiden Maduro dan istrinya segera dibebaskan tanpa penundaan apa pun. Menurut ia, tindakan eksternal terhadap pemimpin sebuah negara berbahaya.

"Presiden Maduro dan istrinya harus dibebaskan tanpa penundaan yang tidak semestinya. Apa pun alasannya, pemaksaan penggulingan seorang kepala pemerintahan yang sedang menjabat melalui campur tangan eksternal menciptakan preseden berbahaya," ujarnya.

Menurut Anwar, tindakan tersebut berpotensi merusak tatanan hubungan antarnegara dan melemahkan kerangka hukum internasional yang menjadi dasar ketertiban dunia. Ia juga menegaskan, masa depan politik Venezuela sepenuhnya merupakan hak rakyat Venezuela sendiri untuk menentukan.

"Seperti yang telah ditunjukkan oleh sejarah, perubahan mendadak dalam kepemimpinan yang dipaksakan melalui kekuatan eksternal akan membawa lebih banyak kerugian daripada manfaat, apalagi di negara yang sudah menghadapi kesulitan ekonomi berkepanjangan dan ketegangan sosial yang mendalam," tutur Anwar.

Pemerintah Malaysia, lanjut Anwar, memandang penghormatan terhadap hukum internasional dan kedaulatan negara sebagai prinsip utama dalam menjaga hubungan damai antarbangsa. Ia menekankan pentingnya jalur diplomasi untuk meredakan ketegangan.

"Keterlibatan konstruktif, dialog, dan de-eskalasi tetap menjadi jalan paling kredibel untuk mencapai hasil yang melindungi warga sipil serta memungkinkan rakyat Venezuela memperjuangkan aspirasi mereka secara sah tanpa menimbulkan kerugian lebih lanjut," katanya.

Pernyataan Anwar ini menambah daftar reaksi internasional terhadap eskalasi politik di Venezuela. Venezuela dilaporkan luluh lantak dalam hitungan jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim militer AS melancarkan serangan besar-besaran ke negara Amerika Latin tersebut. Trump bahkan menyebut Presiden Venezuela Nicolás Maduro telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari negaranya.

Klaim mengejutkan itu disampaikan Trump pada Sabtu (3/1/2026) waktu setempat melalui media sosial Truth Social. Ia menyatakan operasi militer AS berjalan sukses dan langsung menargetkan pucuk pimpinan Venezuela.

(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Media Asing Sorot Sengketa Ambalat RI-Malaysia, Ini Kata Anwar Ibrahim


Most Popular
Features