Sering Disebut Prabowo, Proyek PLTS 100 GW Butuh Lahan 24.000 Hektare

Verda Nano Setiawan, CNBC Indonesia
Jumat, 29/05/2026 14:10 WIB
Foto: PLTS 50 MW yang terpasang di Ibu Kota Nusantara (IKN). (Dok. Humas Otorita IKN)

Jakarta,CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan kebutuhan lahan untuk mendukung program pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 Gigawatt (GW) di Indonesia cukup besar.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengungkapkan berdasarkan identifikasi awal yang dilakukan bersama Kementerian ATR/BPN, telah tersedia sekitar 24.000 hektare lahan di Pulau Jawa yang berpotensi digunakan untuk pengembangan proyek tersebut.

"Jadi ketersediaan lahan berdasarkan identifikasi yang kita lakukan bersama antara Kementerian ESDM dengan Kementerian ATR/BPN di Pulau Jawa sudah tersedia sekitar 24.000 hektare," ujar Yuliot ditemui di Kementerian ESDM, Jumat (29/5/2026).


Menurut Yuliot, pembangunan PLTS 100 GW merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat sistem kelistrikan nasional sekaligus memanfaatkan potensi energi surya domestik secara optimal.

"Jadi yang terdekat adalah eksekusi arahan presiden untuk PLTS 100GW. Jadi kalau ini PLTS 100GW, ya berarti kan kita juga tidak ada memanfaatkan energi matahari untuk tersedia energi dalam negeri," katanya.

Yuliot menilai pemerintah akan mempercepat realisasi program tersebut dengan terlebih dahulu menyiapkan dasar regulasi yang kuat. Saat ini Kementerian ESDM tengah menyelesaikan rancangan Peraturan Presiden (Perpres) tentang percepatan pembangunan PLTS 100 GW.

Selain regulasi, pemerintah juga memprioritaskan penyediaan lahan sebagai salah satu faktor utama keberhasilan proyek. Dalam tahap awal, pemerintah menargetkan percepatan pembangunan PLTS sebesar 17 GW yang akan didukung oleh fasilitas penyimpanan energi berbasis baterai sekitar 33 GW.

"Jadi nanti secara infrastruktur kita yang terkait dengan transmisi, yang terkait dengan ketersediaan untuk gardu induk. Ini kan harus kita interkoneksikan antara ini pembangkit yang kita bangun di 24.000 hektare ini," ujar Yuliot.

Sebagaimana diketahui, Presiden Prabowo Subianto mempercepat langkah transisi ke energi hijau salah satunya dengan target pembangunan PLTS kapasitas raksasa. Dia menargetkan Indonesia bisa mencapai kapasitas terpasang hingga 100 GW setidaknya pada 2029 mendatang.

Prabowo menegaskan bahwa pemerintah akan memaksimalkan pemanfaatan listrik dari energi surya dalam kurun waktu tiga tahun ke depan.

"Kami ingin bergerak sangat cepat untuk menggunakan listrik dari energi surya. Kami memiliki rencana dan kami bertekad untuk berjalan secepat mungkin, dalam waktu tiga tahun, kami ingin mencapai 100 gigawatt energi surya," ujar Prabowo dalam acara Indonesia-Japan Business Forum di Tokyo, Jepang, Senin (30/3/2026).

Rencana percepatan pembangunan PLTS tersebut dinilai mendesak untuk direalisasikan. Menurutnya, eskalasi konflik dan ketidakpastian geopolitik yang terus berkembang, khususnya di kawasan Timur Tengah menjadi ancaman bagi stabilitas pasokan energi nasional.

"Bagi kami, hal ini lebih mendesak karena situasi geopolitik di Timur Tengah memberikan ketidakpastian strategis bagi keamanan energi kami," tegas Prabowo.

Sebagai antisipasi, pemerintah terus berupaya mengamankan pasokan melalui pemanfaatan sumber daya domestik. Selain tenaga surya, Indonesia juga memiliki potensi besar di sektor panas bumi serta tengah menggenjot produksi bahan bakar nabati (biofuel) seperti biodiesel 50% (B50) dan bioetanol.


(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Program PLTS 100 GW Dipacu, Prabowo Minta Realisasi Dipercepat