RI Mau Bikin CNG 3 Kg, Tabungnya Ternyata dari Sini..
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyiapkan infrastruktur tabung gas untuk mendukung peralihan dari penggunaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kilogram (kg) ke Compressed Natural Gas (CNG) sebagai energi alternatif.
Pada tahap awal, pemerintah memutuskan untuk mengimpor tabung dari luar negeri khususnya dari China, untuk memastikan teknologi yang digunakan benar-benar berkualitas dan mumpuni.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan bahwa impor tabung CNG 3 kg merujuk pada negara-negara yang sudah berpengalaman. Hal itu dikarenakan tabung CNG memerlukan spesifikasi teknis yang jauh lebih tinggi dan ketat dibandingkan dengan tabung LPG konvensional.
"Ya China. Banyak sih negara yang ini tapi kita sejauh ini China. Tahap awal ya," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, dikutip Selasa (19/5/2026).
Pilihan mengimpor tabung dari Negeri Tirai Bambu tersebut didasari oleh kesiapan industri manufaktur di sana dalam memproduksi tabung bertekanan tinggi. Laode menilai penguasaan teknologi domestik saat ini belum mencapai skala ekonomi yang dibutuhkan untuk memproduksi tabung khusus tersebut secara mandiri.
"Kan ini teknologinya tinggi. Saat ini yang mampu membuat teknologi itu di luar ya, kita belum. Tetapi kalau skalanya sudah masif, bisa nanti kita alihkan ke dalam," lanjut Laode.
Kelak, tabung yang akan didatangkan adalah jenis Tipe 4 yang memiliki material dasar serat fiber. Berbeda dengan tabung besi atau Tipe 1, teknologi Tipe 4 menawarkan bobot yang jauh lebih ringan namun tetap kuat untuk menahan tekanan gas yang mencapai 200 hingga 250 bar.
"Tipe 4 sudah sama sekali fiber sangat ringan dan sangat kuat tetapi sangat mahal. Makin advance teknologinya ya," jelasnya dalam Podcast Bukan Abuleke Kementerian ESDM, dikutip Jumat (29/5/2026).
Pihaknya menargetkan pesanan perdana atau first order untuk kebutuhan proyek percontohan dapat dilakukan dalam waktu dekat. Pemerintah mewajibkan adanya pemesanan dalam jumlah besar guna menjamin kelangsungan pasokan sebelum nantinya dilakukan proses transfer teknologi untuk produksi di dalam negeri.
"Minimum order ya 100 ribuan (tabung) gitu. Nah makanya kalau ada yang nanya kok belum dibikin ya memang harus diorder 100 ribu atau di atasnya gitu baru," tandasnya.
Pengembangan Tabung CNG 3 kg
Sebelumnya Laode sempat menjelaskan pengembangan tabung gas jenis komposit untuk ukuran kecil merupakan terobosan baru di dunia. Pemerintah saat ini sedang fokus merampungkan proses paten, serta standardisasi agar tabung tersebut siap dan aman digunakan oleh masyarakat.
Pemerintah mengevaluasi bahwa tabung konvensional atau Tipe 1 yang dipakai saat ini memiliki keterbatasan dari sisi berat beban operasional. Inovasi ke material fiber tersebut diharapkan bisa mempermudah distribusi gas ke konsumen.
Inovasi tersebut juga dinilai bisa meningkatkan keamanan karena karakteristik materialnya mampu menahan tekanan tinggi dengan lebih stabil.
"Penelitian untuk kita menggunakan CNG ini sudah cukup lama dan ada dua komponen penting di bagian tabung dan valve ini yang membutuhkan teknologi yang akhirnya pada hari ini tuh sudah ditemukan dan sudah bisa diimplementasikan," jelasnya dalam acara diskusi energi yang diselenggarakan ASPEBINDO di Jakarta, dikutip Rabu (6/5/2026).
Nantinya, pengembangan tabung Tipe 4 tersebut akan diawasi oleh Lemigas untuk memastikan setiap unit yang diproduksi memenuhi kriteria keselamatan. Targetnya, dalam kurun waktu tiga bulan ke depan, seluruh aspek administratif termasuk hak paten atas desain tabung 3 kg tersebut sudah dapat diselesaikan.
"Tabung itu sejak Tipe 1 sudah ditulis Pak, jurnal. Jadi dari Tipe 1-Tipe 4 itu dari ribuan jurnal dan tulisan tuh. Yang paling penting sekarang udah dipatenkan belum? Nah ini saya bilang makanya yang 3 bulan nanti itu itu harus sudah paten. Jadi bukan bikin-bikin baru merangkai terus ini nggak," tegasnya.
Selain itu, penggunaan CNG dalam tabung serat fiber diproyeksikan mampu memangkas nilai subsidi energi hingga 30% dibandingkan dengan penggunaan LPG. Hal tersebut lantaran sumber gas untuk CNG berasal dari lapangan gas dalam negeri yang potensinya semakin melimpah.
"Mengapa harus ada tabung ini, cuma tabung ini kan yang belum ada itu cuma Tipe 4 untuk 3 kg. Itulah yang dikejar dalam waktu Pak Menteri sampaikan 3 bulan ke depan itu sudah ada Tipe 4 untuk 3 kg dan dari situ nanti kita sudah mulai memproduksi dalam jumlah yang lebih masif," tandasnya.
(pgr/pgr) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]