Penyebab Hujan Landa RI Padahal Lagi Kemarau El Nino, Simak Kata BMKG
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan, saat ini Indonesia mengalami fenomena El Nino. Ditandai dengan indeks ENSO Dasarian (ENSO bulanan) sebesar +1.00 (+0.52).
Di saat bersamaan, BMKG mencatat, berdasarkan jumlah ZOM, sebanyak 20,1% wilayah Indonesia (141 ZOM) mengalami Musim Kemarau.
Wilayah yang sedang mengalami musim kemarau meliputi sebagian kecil Aceh, sebagian kecil Sumatra Utara, sebagian kecil Riau, sebagian Kep. Riau, Banten bagian utara, sebagian Jakarta, Jawa Barat bagian utara, sebagian Jawa Tengah, sebagian Jawa Timur, sebagian Bali, sebagian besar NTB, sebagian besar NTT, sebagian Gorontalo, sebagian Sulawesi Tengah, sebagian kecil Sulawesi Barat, sebagian kecil Sulawesi Selatan, sebagian Sulawesi Tenggara, sebagian Maluku, dan sebagian kecil Papua Selatan.
Lalu, kenapa hujan masih melanda Jakarta? Di sejumlah wilayah juga dilaporkan hujan lebat terjadi, bahkan sampai memicu bencana banjir.
BNPB melaporkan banjir melanda Desa Waru Jaya, Kecamatan Parung dan Desa Cijayanti, Kecamatan Babakan Madang, pada hari Minggu, (24/5/2026). Banjir juga dilaporkan melanda Desa Bahoruru, Kecamatan Bungku Tengah, Kabupaten Morowali, Minggu (24/5/2026).
Mengutip BMKG, El Nino adalah fenomena menghangatnya perairan di wilayah Amerika Selatan. Disebutkan, kondisi ini berkaitan dengan anomali pemanasan lautan yang lebih luas di Samudera Pasifik bagian timur, yang bahkan dapat mencapai garis batas penanggalan internasional di Pasifik tengah.
Seperti La Nina, El Nino memberikan dampak yang beragam di wilayah Indonesia, terutama dampak terhadap curah hujan bulanan dan musiman.
El Nino yang dapat terjadi di bulan Juni-Juli-Agustus (JJA) dan September-Oktober-November (SON) menyebabkan penurunan curah hujan di hampir seluruh wilayah Indonesia.
Sementara jika terjadi pada Desember-Januari-Februari (DJF), El Nino umumnya berpengaruh pada menurunnya curah hujan di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur.
Dan jika pada Maret-April-Mei pengaruh El Nino pada curah hujan sangat beragam di berbagai wiayah di Indonesia.
Lalu apakah tidak akan ada hujan saat El Nino melanda, terutama di musim kemarau?
"El Nino memang berpengaruh dalam menurunkan curah hujan di wiayah Indonesia, terutama pada periode musim Juni-Juli-Agustus (JJA) dan September-Oktober-November (SON) hingga >40%. Namun, di beberapa wilayah Indonesia mengalami peningkatan curah hujan di periode Desember-Januari-Februari (DJF) dan Maret-April-Mei (MAM) meski sedang El Nino," tulis BMKG, dikutip Senin (25/5/2026).
"Sehingga, tidak dapat disimpulkan bahwa saat El Nino tidak akan terjadi hujan sama sekali. Namun terdapat penurunan curah hujan >40%," tambah BMKG.
Dalam Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian II Mei 2026 yang dirilis BMKG pada 24 Mei 2026 dicantumkan Peringatan Dini Curah Hujan Tinggi yang dapat berlaku pada Dasarian III Mei 2026.
Dengan klasifikasi Waspada di beberapa kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Maluku, Papua Selatan, Papua Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sumatra Selatan. Siaga di beberapa kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah. Namun tidak ada klasifikasi peringatan Awas.
Sedangkan untuk Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis periode Dasarian III bulan Mei 2026 tidak ada untuk semua klasifikasi.
"Pada Mei III-Juni II 2026 curah hujan pada umumnya diprediksi berada kriteria Menengah - Rendah (0-150 mm/dasarian)," tulis BMKG.
Waspada Hujan Landa Wilayah-Wilayah RI
Sementara, dalam rilis Potensi Hujan Sepekan ke depan, BMKG memperingatkan potensi terjadinya hujan pada periode tanggal 22-28 Mei 2026. Hal ini dipicu aktivitas gelombang atmosfer dan sirkulasi siklonik, yang dapat meningkatkan potensi hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
"Dinamika atmosfer intraseasonal masih menunjukkan dukungan terhadap pertumbuhan awan hujan. Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) diprakirakan berada pada fase 4 (Maritime Continent), dengan analisis filter spasial menunjukkan aktivitas MJO berpotensi aktif di wilayah Kepulauan Riau, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, bagian selatan Maluku Utara, serta bagian utara Papua. Kondisi tersebut dapat meningkatkan peluang terbentuknya awan konvektif di sejumlah wilayah Indonesia, meskipun pengaruh El Niño masih berlangsung," tulis BMKG.
Ditambahkan, dalam sepekan ke depan, kondisi cuaca di wilayah Indonesia diprediksi masih dipengaruhi oleh beberapa aktivitas gelombang atmosfer. Gelombang Kelvin yang berpropagasi ke arah timur diprediksi aktif di Laut Andaman, Aceh, Sumatra Utara, Selat Malaka, Laut Natuna Utara, dan Kalimantan Utara.
"Sementara, Gelombang Rossby Ekuatorial yang berpropagasi ke arah barat diprakirakan aktif di sebagian wilayah Pulau Kalimantan bagian tengah hingga selatan, Pulau Sulawesi bagian tengah hingga selatan, NTB, NTT, Maluku, Papua Barat bagian selatan, dan Papua Tengah bagian barat," ungkap BMKG.
"Gelombang Mixed Rossby-Gravity (MRG) dalam sepekan ke depan diprediksi aktif di Aceh, Sumatra Utara, Kep. Riau, Selat Makassar, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan. Aktivitas gelombang atmosfer tersebut dapat membantu meningkatkan suplai uap air dan mendukung proses pembentukan awan hujan di wilayah yang dilaluinya," tambah BMKG.
Juga, sirkulasi siklonik diprediksi terbentuk di Samudra Hindia barat Bengkulu, di Selat Makassar, di Laut Maluku, dan di Samudra Pasifik utara Papua. Sistem tersebut membentuk daerah konvergensi dan konfluensi dari di Samudra Hindia barat Aceh hingga barat Sumatra Barat, di Laut Flores, di Perairan Maluku, dari Laut Halmahera hingga Laut Filipina, serta di sekitar sirkulasi siklonik tersebut. Kombinasi antara aktivitas gelombang tropis, pola sirkulasi, belokan dan perlambatan angin, serta aktivitas konvektif yang didukung dengan kelembapan yang tinggi berpotensi mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah-wilayah yang terdampak.
Peringatan Dini BMKG
Periode 25 - 28 Mei 2026
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat.
Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, dan Papua Selatan.
Hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, dapat terjadi di:
- Siaga (hujan lebat-sangat lebat)
Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, dan Papua Pegunungan
- Angin Kencang
Aceh bagian utara, Sumatra Utara, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Selatan.
"Mempertimbangkan dinamika atmosfer yang masih signifikan dalam beberapa hari ke depan, BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi," demikian peringatan BMKG.
"Pengendara kendaraan bermotor juga perlu waspada terhadap potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, yang berpotensi mengganggu kelancaran perjalanan. Selain itu, waspadai potensi pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, genangan, dan sambaran petir dengan menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, atau bangunan rapuh, serta membatasi aktivitas di ruang terbuka saat hujan disertai angin kencang dan petir," tegas BMKG.
(dce/dce) Add
source on Google