MARKET DATA

BMKG Bongkar Fakta-Fakta El Nino ke Polisi, Hantam RI di Musim Kemarau

Redaksi,  CNBC Indonesia
16 April 2026 16:55
BMKG Hadiri Rakor Polri untuk Antisipasi Fenomena El Nino 2026, (15 April 2026). (Dok BMKG)
Foto: BMKG Hadiri Rakor Polri untuk Antisipasi Fenomena El Nino 2026, (15 April 2026). (Dok BMKG)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan kesiapan pemerintah menghadapi fenomena iklim El Nino yang akan melanda Indonesia. Termasuk, langkah mitigasi dan koordinasi antarinstansi.

Hal itu disampaikan Sekretaris Utama BMKG Guswanto dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Antisipasi Fenomena El Nino yang diselenggarakan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia di Markas Besar Polri, Jakarta Selatan, Selasa (14/4/2026). Untuk memperkuat kesiapsiagaan lintas sektor dan lintas wilayah dalam menghadapi potensi dampak anomali iklim, khususnya yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau 2026.

Dalam rapat itu, Guswanto memaparkan perkembangan kondisi iklim global. Dia kondisi iklim global saat ini masih berada pada fase ENSO netral hingga pertengahan tahun 2026.

"Namun, hasil analisis BMKG pada akhir Maret 2026 menunjukkan adanya kecenderungan transisi menuju fase El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat pada semester II tahun 2026, dengan peluang berkisar antara 50 hingga 80 persen," kata Guswanto dalam keterangan di situs resmi, dikutip Kamis (16/4/2026).

"Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi musim kemarau 2026 yang diprediksi datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal," tambahnya.

BMKG mencatat, per Dasarian I 2026, sebanyak 7,8% wilayah Indonesia (55 Zona Musim/ ZOM) telah mengalami Musim Kemarau.

ZOM yang diprediksi akan masuk musim kemarau pada periode Dasarian II April hingga Dasarian I Mei 2026 adalah sebagian kecil Jambi, sebagian kecil Sumatra Selatan, sebagian Lampung, sebagian Banten, sebagian Jakarta, sebagian Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah, sebagian Jawa Timur, sebagian Bali, sebagian NTB, sebagian NTT, sebagian Kalimantan Selatan, sebagian kecil Sulawesi Selatan dan sebagian kecil Maluku.

Di sisi lain, Guswanto menyoroti penggunaan istilah "El Nino Godzilla" yang belakangan ramai. Kata dia, istilah itu bukan merupakan terminologi resmi dalam ilmu klimatologi maupun dalam komunikasi publik.

"Dalam penyampaian informasi kepada masyarakat, BMKG senantiasa menggunakan istilah serta hasil analisis ilmiah berbasis data untuk menggambarkan kondisi dan potensi perkembangan iklim secara akurat, objektif, dan bertanggung jawab," tegas Guswanto.

Siap Siaga Karhutla

Sementara, Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo yang memimpin rapat tersebut mengingatkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi potensi karhutla.

"Kami meminta seluruh jajaran di daerah menjalin kerja sama dengan instansi terkait. Libatkan semua elemen, mulai dari dinas, relawan, hingga akademisi, untuk memperkuat penanganan di lapangan," kata Dedi.

Apa itu El Nino dan apa dampak ke Indonesia?

Mengacu situs resmi BMKG, ENSO adalah anomali pada suhu permukaan laut di Samudera Pasifik di pantai barat Ekuador dan Peru yang lebih tinggi daripada rata-rata normalnya.

Disebutkan, iklim di Samudra Pasifik terbagi ke dalam 3 fase. Yaitu, El Nino, La Nina, dan Netral.

Pada fase Netral, angin pasat berhembus dari timur ke arah barat melintasi Samudra Pasifik menghasilkan arus laut yang juga mengarah ke barat dan disebut dengan Sirkulasi Walker. Suhu muka laut di barat Pasifik akan selalu lebih hangat dari bagian timur Pasifik.

Sementara saat fase El Nino, angin pasat yang biasa berhembus dari timur ke barat melemah atau bahkan berbalik arah. Pelemahan ini dikaitkan dengan meluasnya suhu muka laut yang hangat di timur dan tengah Pasifik. Air hangat yang bergeser ke timur menyebabkan penguapan, awan, dan hujan pun ikut bergeser menjauh dari Indonesia. Hal ini berarti Indonesia mengalami peningkatan risiko kekeringan.

Dan, ketika terjadi fase La Nina, hembusan angin pasat dari Pasifik timur ke arah barat sepanjang ekuator menjadi lebih kuat dari biasanya. Menguatnya angin pasat yang mendorong massa air laut ke arah barat, maka di Pasifik timur suhu muka laut menjadi lebih dingin. Bagi Indonesia, hal ini berarti risiko banjir yang lebih tinggi, suhu udara yang lebih rendah di siang hari, dan lebih banyak badai tropis.

"Dalam istilah ilmu iklim saat ini, El Nino menunjukkan kondisi anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator bagian timur dan tengah yang lebih panas dari normalnya, sementara anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik bagian barat dan perairan Indonesia yang biasanya hangat (warm pool) menjadi lebih dingin dari normalnya," tulis BMKG.

"Pada saat terjadi El Nino, daerah pertumbuhan awan bergeser dari wilayah Indonesia ke wilayah Samudra Pasifik bagian tengah, menyebabkan berkurangnya curah hujan di Indonesia," jelas BMKG.

Dinamika Atmosfer Terkini

Sementara, dalam Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian I April 2026 yang dirilis BMKG pada 13 April 2026 menjabarkan hasil monitoring pada Dasarian I April 2026 menunjukkan indeks IOD dasarian (indeks bulanan) sebesar +0.15(+0.023), mengindikasikan fenemena IOD berada pada fase Netral.

"Sementara itu, indeks ENSO Dasarian (ENSO bulanan) sebesar +0.28 (-0.01) menunjukkan fenomena ENSO juga berada pada fase Netral," tulis BMKG.

"Kondisi ENSO Netral diprediksi masuk fase El Nino mulai Mei-Juni-Juli 2026," jelas BMKG.

BMKG sendiri mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis berlaku untuk Dasarian II April 2026. Yaitu, klasifikasi Waspada untuk beberapa kabupaten di Provinsi Aceh, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Tengah. Siaga untuk beberapa kabupaten di Provinsi Aceh.

Dan belum ada peringatan dini klasifikasi Awas.

BMKG Hadiri Rakor Polri untuk Antisipasi Fenomena El Nino 2026, (15 April 2026). (Dok BMKG)Foto: Sekretaris Utama BMKG Guswanto dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Antisipasi Fenomena El Nino (15 April 2026). (Dok BMKG)
BMKG Hadiri Rakor Polri untuk Antisipasi Fenomena El Nino 2026, (15 April 2026). (Dok BMKG)

(dce/dce) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Petani Merapat, Simak BMKG: RI Bakal Panas Mendidih-El Nino Mengintai


Most Popular
Features