3 Bulan Perang AS-Iran, Trump Resmi Kalah?
Jakarta, CNBC Indonesia - Tiga bulan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melancarkan perang terhadap Iran, pertanyaan besar mulai muncul: apakah Washington justru sedang menuju kekalahan strategis?
Meski AS memenangkan banyak pertempuran militer, sejumlah analis menilai Trump gagal mengubah keunggulan taktis menjadi kemenangan geopolitik. Iran masih mempertahankan pengaruhnya di kawasan, tetap menolak konsesi nuklir, dan menunjukkan kekuatan lewat kendali atas Selat Hormuz, jalur vital bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Mantan negosiator Timur Tengah AS, Aaron David Miller, menilai perang yang awalnya dirancang sebagai kemenangan cepat kini berubah menjadi beban jangka panjang bagi Trump.
"Kita sudah tiga bulan, dan tampaknya perang yang dirancang untuk menjadi kemenangan jangka pendek bagi Trump berubah menjadi kegagalan strategis jangka panjang," ujarnya, seperti dikutip Reuters, Senin (25/5/2026).
Gedung Putih membantah anggapan tersebut. Juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales, mengatakan operasi militer AS telah memenuhi target dan Trump masih memegang seluruh opsi.
Namun perang berkepanjangan mulai menekan Trump di dalam negeri. Lonjakan harga energi akibat blokade Selat Hormuz memicu tekanan politik menjelang pemilu paruh waktu November, sementara popularitas Trump mulai melemah.
Di sisi lain, target utama perang yakni menghentikan program nuklir Iran juga belum tercapai. Iran diyakini masih memiliki cadangan uranium yang diperkaya tinggi dan tetap bersikeras mempertahankan hak memperkaya uranium untuk tujuan damai.
Mantan pejabat intelijen AS untuk Timur Tengah, Jonathan Panikoff, mengatakan Iran justru merasa berhasil karena mampu bertahan dari tekanan AS.
"Apa yang mereka temukan adalah mereka dapat menggunakan pengaruh itu dan dengan sedikit konsekuensi bagi mereka," kata Panikoff.
Sejumlah analis bahkan memperingatkan perang ini bisa mendorong Iran mempercepat ambisi senjata nuklir demi perlindungan seperti North Korea.
Peneliti senior Brookings Institution, Robert Kagan, menilai konflik Iran berpotensi menjadi kemunduran besar bagi posisi global AS.
"Tidak akan ada kembali ke status quo sebelumnya, tidak ada kemenangan akhir Amerika yang akan membatalkan atau mengatasi kerusakan yang telah terjadi," tulis Kagan.
(tfa/tfa) Add
source on Google