Temuan KNKT Sebelum Tabrakan Maut: Jalur Komunikasi KA dan KRL Rumit
Jakarta, CNBC Indonesia - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mulai menguak penyebab tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026 lalu yang merenggut korban jiwa sebanyak 16 orang. Salah satu yang disorot KNKT adalah rumitnya komunikasi antar Pusat Kendali (PK).
Ini adalah hasil investigasi awal yang diumumkan KNKT di depan Komisi V DPR. Sedangkan hasil lengkap investigasi tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL akan diumumkan 3 bulan mendatang.
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengungkapkan adanya miskomunikasi antara pengendali perjalanan kereta api/Pusat Kendali (PK). Selain itu, sistem komunikasi tersebut dianggap terlalu berbelit.
"Sistem komunikasi Petugas Pusat Pengendalian Operasi Kereta Api (PK) terlalu berbelit. KA 5568A menggunakan Radio Sepura dan berada pada wilayah komunikasi S.27 (PK Selatan). Sementara, KA 4B Argo Bromo Anggrek menggunakan radio lokomotif dan berada pada wilayah komunikasi S.1 (PK Timur). Ini membuat jeda terlalu lama karena PK Selatan harus memberitahukan kepada Chief. Lalu, chief meneruskan informasi ke PK Timur. Ini perlu diperbaiki," jelas dia dalam paparannya di rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi V DPR RI, Kamis (21/5/2026).
Ia mengungkapkan, PK tidak mengetahui kondisi sebenarnya di Stasiun Bekasi, mengingat komunikasi dilakukan melalui suara radio.
Petugas gabungan mengevakuasi puing-puing di lokasi kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Selasa, (28/4/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Petugas gabungan mengevakuasi puing-puing di lokasi kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Selasa, (28/4/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) |
"Kami mendapat laporan dari masinis KA Argo Bromo Anggrek, bahwa Ia sempat melakukan pengereman dari jarak 1,3 km, setelah menerima informasi bahwa di depan ada temperan KRL. Masinis sudah mencoba pengereman. Cuma di PK tidak tahu kondisi sebenarnya di sekitar Stasiun Bekasi Timur, karena komunikasi kan lewat suara saja, lewat radio di kabin. Jadi PK tidak tahu kondisi sebenarnya seperti apa, tetapi mereka hanya memberi tahu kalau ada temperan, dan masinis sudah berupaya mengerem," terangnya.
Berikutnya, juga ada alasan miskomunikasi antara PK Stasiun Bekasi dengan masinis KA Argo Bromo Anggrek, di mana masinis hanya diminta oleh PK untuk melakukan pengereman bertahap, bukan pengereman secara penuh, sehingga kejadian tabrakan pun tak terhindarkan.
"Informasi dari PK Timur, KA 4B Argo Bromo Anggrek hanya diminta untuk melakukan pengereman secara bertahap dan perbanyak semboyan 35 (klakson), serta status jalur hulu dan hilir belum didapatkan informasi dari lintas terkait ruang bebas KA (prepal)," ujarnya.
Soerjanto menjelaskan KA 4B Argo Bromo Anggrek sejatinya sudah melakukan upaya pengereman darurat saat melewati sinyal blok sebelum Stasiun Bekasi Timur. Namun karena PK hanya meminta kepada masinis KA 4 B untuk melakukan pengereman bertahap, maka tabrakan pun tidak bisa dihindari.
"Dari data logger yang ditampilkan, KA 4B Argo Bromo Anggrek melakukan emergency brake dan independent brake 300 meter dari sinyal blok sebelum Stasiun Bekasi Timur. Tabrakan terjadi pada kecepatan 40-60 km/jam," pungkasnya.
(wur/wur) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]
