Ketua KNKT Ungkap Hasil Investigasi Tabrakan KA Argo Bromo Vs KRL
Jakarta, CNBC Indonesia - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) membeberkan hasil investigasi sementara kecelakaan kereta api (KA) Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line relasi Kampung Bandan-Cikarang di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April lalu.
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono melaporkan awal investigasi kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi bernomor KA 4B dengan KRL Commuter Line relasi Kampung Bandan-Cikarang bernomor KA 5568A di Stasiun Bekasi Timur.
"Pada kesempatan ini kami dari KNKT melaporkan awal investigasi kecelakaan Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur. Pada presentasi ini, kami hanya menyajikan data faktual, tidak terkait analisis dan tidak ada kesimpulan terhadap penyebab terjadinya kecelakaan. Namun dari presentasi kami nanti bisa diambil beberapa pemahaman kenapa kecelakaan tersebut bisa terjadi," kata Soerjanto dalam paparannya pada rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi V DPR RI, Kamis (21/5/2026).
KNKT melaporkan kronologi awal, yakni pada pukul 20:33:59 WIB, KRL Commuter Line 5568A tiba di jalur 6 Stasiun Bekasi. Kemudian, KA 5568A berhenti menunggu disusul KA Sawunggalih relasi Pasar Senen-Kutoarjo bernomor KA 116 di Stasiun Bekasi.
Pada pukul 20:34:45 WIB, KA 116 Sawunggalih tiba di jalur 3 Stasiun Bekasi untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Pukul 20:38:32 WIB, KA Sawunggalih diberangkatkan dari Stasiun Bekasi.
Setelah dinyatakan aman, KA 5568A diberangkatkan dari jalur 6 Stasiun Bekasi pukul 20:45:32 WIB. Kemudian, KA 5568A tiba di jalur 1 Stasiun Bekasi Timur pada pukul 20:48:13 WIB.
Selang beberapa detik setelah KA 5568A tiba, tepatnya pukul 20:48:29 WIB, KRL Commuter Line relasi Cikarang-Angke dengan nomor KA 5181 tertemper taksi Green SM, di perlintasan dekat Stasiun Bekasi Timur.
Setelah proses naik-turun penumpang, KA 5568A kembali diberangkatkan dari Stasiun Bekasi Timur pada pukul 20:48:53 WIB. Namun baru berjalan sekitar 1,69 m, KA 5568A kembali berhenti sekitar pukul 20:48:59, karena adanya kerumunan warga akibat taksi menemper KA 5181.
Di Stasiun Bekasi, pada pukul 20:50:43 WIB, KA Argo Bromo Anggrek KA 4B melintas di jalur 3 dengan posisi sinyal keluar aspek aman atau hijau.
Namun nahas, selang beberapa menit, pada pukul 20:52:12 WIB, terjadilah tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek KA 4B dengan KRL Commuter Line KA 5568A di jalur 1 Stasiun Bekasi Timur.
Soerjanto menjelaskan, KA 5568A diberangkatkan dari Stasiun Bekasi telat 8 menit dari jadwal semula, sedangkan KA Argo Bromo Anggrek melintas Stasiun Bekasi lebih cepat 3 menit dari jadwal semula, sehingga ada selisih waktu sangat tipis upaya masinis Argo Bromo Anggrek untuk mengerem.
"Kami coba tampilkan bahwa KA 5568A mengalami keterlambatan sekitar 8 menit berangkat Stasiun Bekasi, sedangkan KA Argo Bromo Anggrek lebih cepat 3 menit melintas Stasiun Bekasi dan lebih cepat dari waktu yang kedatangan di Stasiun Bekasi Timur. Masinis Argo Bromo Anggrek sudah melakukan upaya pengereman 1,3 km dari Stasiun Bekasi Timur, tetapi upaya pengereman tidak cukup, dan masinis juga membunyikan klakson atau semboyan 35, karena di depannya masih ada KRL dan pengereman tidak berhasil," terang Soerjanto.
Persinyalan dan Sistem Komunikasi
KNKT juga menginvestigasi terkait persinyalan dan sistem komunikasi terkait kejadian kecelakaan ini. Adapun di jalur Stasiun Bekasi-Bekasi Timur, terdapat tiga persinyalan yang saling terintegrasi yakni sinyal keluar Stasiun Bekasi, sinyal pengulang, dan sinyal blok antara Bekasi-Bekasi Timur.
Berdasarkan hasil simulasi yang dilakukan oleh KNKT dan jajaran lainnya, menunjukkan bahwa sinyal keluar Stasiun Bekasi menunjukkan aspek aman atau lampu hijau menyala. Kemudian sinyal pengulang menunjukkan aspek tidak aman atau lampu garis datar menyala, dan sinyal blok menunjukkan aspek tidak aman atau menyala merah.
Soerjanto mengungkapkan masinis Argo Bromo Anggrek kesulitan untuk melihat aspek sinyal pengulang di petak Bekasi-Bekasi Timur karena pencahayaannya terhalang oleh cahaya rumah-rumah warga.
"Jadi ini kami mengikut di dalam kabin lokomotif, juga di kabin KRL, kita melihat malam situasinya, jadi masinis kesulitan untuk melihat sinyal pengulang, karena adanya pencahayaan dari lampu-lampu pasar dan rumah di sekitar rel. Jadi terdapat sumber cahaya dari rumah warga maupun lampu penerangan jalan, dengan intensitas dan warna yang menyerupai aspek sinyal pengulang tersebut," ujarnya.
Tak hanya itu saja, simulasi ini juga menunjukkan bahwa komunikasi yang digunakan oleh masing-masing masinis kereta api menggunakan radio.
"KA 5181 menggunakan Radio Tait dan berada pada wilayah komunikasi S.27 (PK Selatan), sedangkan KA 5568A menggunakan Radio Sepura dan berada pada wilayah komunikasi S.27 (PK Selatan), dan KA 4B menggunakan Radio Lokomotif dan berada di wilayah komunikasi S.1 (PK Timur)," jelasnya.
Dengan simulasi tersebut, KNKT mengungkapkan sementara bahwa adanya anomali persinyalan di Stasiun Bekasi, di mana sinyal keluar Stasiun Bekasi tidak mendeteksi sinyal-sinyal berikutnya dan posisi KA 5568A yang sedang berhenti di Stasiun Bekasi Timur, di mana seharusnya sinyal keluar Stasiun Bekasi menunjukkan aspek hati-hati atau menyala lampu kuning.
Selain itu, adanya hambatan di sekitar sinyal pengulang di petak Stasiun Bekasi dan Stasiun Bekasi Timur, serta adanya gangguan komunikasi radio di kereta api dan pihak pengatur stasiun menjadi hasil sementara penyebab kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur terjadi.
"Salah satu penyebabnya sinyal di Stasiun Bekasi yang tidak bisa mendeteksi KA 5568A di Stasiun Bekasi Timur. Selain itu ada hambatan pencahayaan di sinyal pengulang dan masalah komunikasi turut menjadi penyebab kecelakaan tersebut terjadi," pungkas Soerjanto.
(chd/wur) Add
source on Google