Internasional

Israel "Perang Saudara", Itamar Ben-Gvir Dikecam Dunia

luc, CNBC Indonesia
Kamis, 21/05/2026 16:12 WIB
Foto: Video yang dibagikan secara daring menunjukkan para aktivis Global Sumud Flotilla mengalami kekerasan fisik, perlakuan buruk, dan diborgol sambil dipaksa berlutut. (Tangkapan Layar Video Reuters/)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang kecaman internasional terhadap Israel terus meluas setelah Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir yang mengejek para aktivis armada bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang ditahan dalam kondisi tangan terikat. Hal ini pun memicu perpecahan di dalam negeri sendiri.

Kecaman memuncak pada Rabu (21/5/2026), tak lama setelah Ben-Gvir mengunggah video di media sosial yang memperlihatkan para aktivis berlutut di lantai dengan tangan terikat sambil diejek.

Dalam unggahan akun X Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menilai pihaknya memiliki hak penuh untuk mencegah "armada provokatif pendukung teroris Hamas" memasuki perairan Israel dan mencapai Gaza.


Namun, dia menegaskan tidak setuju dengan apa yang dilakukan Ben-Gvir.

"Cara Menteri Ben Gvir menangani para aktivis armada tersebut tidak sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma Israel," katanya.

Dia pun menyatakan telah menginstruksikan pihak berwenang terkait untuk mendeportasi para tahanan sesegera mungkin.

Kecaman lebih keras datang dari sesama menteri. Menteri Luar Negeri Israel menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh Ben-Gvir justru merugikan Israel sendiri.

"Anda dengan sengaja telah merugikan negara kita dalam pertunjukan yang memalukan ini - dan bukan untuk pertama kalinya. Anda telah menghancurkan upaya luar biasa, profesional, dan sukses yang telah dilakukan oleh begitu banyak orang - dari tentara IDF hingga staf Kementerian Luar Negeri dan banyak lainnya," tulisnya.

Selain itu, mantan PM Israel sekaligus lawan politik utama Netanyahu, Naftali Bennett, turut berkomentar.

Menurutnya, semua orang telah membicarakan kekacauan yang disebabkan oleh seorang menteri gagal yang mengkhianati keamanan Israel demi mendapatkan like di TikTok.

"Dan mereka benar. Koalisi Netanyahu-Ben Gvir-Deri telah melemahkan reputasi internasional Israel hingga ke titik terendah yang belum pernah terjadi sebelumnya, membahayakan tentara IDF di luar negeri dan mempersenjatai musuh-musuh anti-Semit kita di seluruh dunia," tuturnya.

Kemarahan Dunia

Sejumlah negara Eropa hingga Kanada memanggil duta besar Israel untuk menyampaikan kemarahan mereka atas perlakuan terhadap para aktivis tersebut.

Italia, Prancis, Belanda, hingga Kanada termasuk di antara negara yang secara resmi memanggil diplomat Israel di ibu kota masing-masing guna menyampaikan "kemarahan" dan protes keras atas insiden tersebut.

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyebut tayangan tersebut tidak dapat diterima.

"Gambar Menteri Israel Ben Gvir tidak dapat diterima. Tidak dapat diterima bahwa para pengunjuk rasa ini, termasuk banyak warga negara Italia, diperlakukan dengan cara yang melanggar martabat kemanusiaan mereka," kata Meloni dalam pernyataannya di X.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot juga mengecam tindakan Ben-Gvir dan mendesak pembebasan warga Prancis yang ditahan.

"Tidak dapat diterima," ujar Barrot, sembari menyerukan agar warga negaranya dibebaskan "sesegera mungkin".

Kanada turut mengambil langkah diplomatik keras. Menteri Luar Negeri Kanada Anita Anand menyebut insiden tersebut "sangat mengkhawatirkan" dan memastikan Ottawa akan memanggil duta besar Israel.

"Ini adalah masalah yang kami tangani dengan sangat, sangat serius. Ini adalah persoalan perlakuan manusiawi terhadap warga sipil, dan saya dapat memastikan bahwa kami bertindak dengan urgensi penuh," katanya kepada wartawan.

Belanda juga mengumumkan pemanggilan duta besar Israel. Menteri Luar Negeri Belanda Tom Berendsen menilai perlakuan terhadap para tahanan melanggar martabat manusia paling mendasar.

"Perlakuan terhadap para tahanan melanggar martabat dasar manusia," katanya.

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mengungkapkan bahwa warga negaranya juga termasuk di antara para aktivis yang ditahan angkatan laut Israel. Ia mempertanyakan dasar hukum tindakan Israel tersebut.

"Apa dasar hukumnya? Apakah itu perairan teritorial Israel?" kata Lee.

"Apakah itu wilayah Israel? Jika terjadi konflik, apakah mereka bisa menyita dan menahan kapal milik negara ketiga?" lanjutnya.

Kementerian Luar Negeri Portugal juga mengecam keras apa yang disebut sebagai "perilaku yang tidak dapat ditoleransi" dari Ben-Gvir.

Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares menyebut perlakuan terhadap para aktivis sebagai sesuatu yang "mengerikan", sementara Menteri Luar Negeri Irlandia Helen McEntee mengaku "terkejut" melihat rekaman tersebut dan mendesak pembebasan segera seluruh aktivis.

Bahkan Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel Mike Huckabee turut mengkritik Ben-Gvir. Ia mengatakan sang menteri telah "mengkhianati martabat bangsanya" karena menyebarkan video yang memperlihatkan aktivis HAM dalam kondisi terikat, dipermalukan, dan diduga mengalami kekerasan.

Namun Huckabee tidak menjelaskan secara spesifik apakah ia mengecam tindakan kekerasannya atau hanya keputusan mempublikasikan video tersebut.

Selain negara-negara tersebut, kecaman juga datang dari Swedia, Swiss, Yunani, Jerman, Polandia, Qatar, Slovenia, Turki, Austria, Belgia, Kolombia, dan Inggris.

Di tengah tekanan internasional yang terus meningkat, Global Sumud Flotilla mengumumkan bahwa sedikitnya 87 orang yang ditahan Israel telah memulai aksi mogok makan.

Melalui akun X pada Rabu, organisasi itu menyatakan aksi tersebut dilakukan "sebagai protes atas penculikan ilegal terhadap mereka dan sebagai solidaritas bagi lebih dari 9.500 tahanan Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel".

Armada Global Sumud sebelumnya berangkat dari kota pelabuhan Marmaris di Turki pekan lalu menggunakan lebih dari 50 kapal dengan tujuan menembus blokade Israel atas Jalur Gaza dan mengirimkan bantuan kemanusiaan.

Namun pada Senin, pasukan Israel mulai mengambil alih kapal-kapal tersebut di perairan internasional dekat Siprus. Penyelenggara menuduh aparat Israel menyerbu kapal, menembakkan peluru karet, dan menculik para peserta.

Pada Selasa malam, penyelenggara menyebut enam orang di atas kapal Lina al-Nabulsi turut "diculik" oleh pasukan Israel.

Kementerian Luar Negeri Israel kemudian mengonfirmasi bahwa ratusan peserta armada telah dipindahkan ke kapal Israel dan dibawa menuju wilayah Israel.

"Armada pencitraan lainnya telah berakhir. Seluruh 430 aktivis telah dipindahkan ke kapal Israel dan sedang menuju Israel, di mana mereka akan dapat bertemu dengan perwakilan konsuler mereka," ujar juru bicara kementerian tersebut.

Israel juga menyebut misi tersebut "tidak lebih dari sekadar aksi pencitraan".

Sejumlah negara lain seperti Turki, Spanyol, Yordania, Pakistan, Bangladesh, Brasil, Indonesia, Kolombia, Libya, dan Maladewa turut mengecam aksi Israel tersebut sebagai "pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan hukum humaniter internasional".

 


(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Israel Unggah Video Relawan Flotilla, Dijambak hingga Berlutut