Pengusaha Benarkan Bocoran PHK Serikat Pekerja, Ada 3 Perusahaan Tutup

Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
Selasa, 19/05/2026 18:10 WIB
Foto: Ilustrasi Pekerja di PHK. (Dok. freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pengusaha buka suara soal adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) di beberapa perusahaan baru-baru ini yang semakin meningkat akibat kondisi global yang tidak memungkinkan dan kenaikan harga-harga barang.

Ketua Komite Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) sekaligus Wakil Ketua Umum Bidang Ketenagakerjaan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Subchan Gatot membenarkan hal tersebut. Bahkan, ada beberapa perusahaan manufaktur berskala kecil yang terpaksa gulung tikar karena kondisi saat ini yang tidak memungkinkan.

"Kalau menurut kami, dari data yang ada di kami, kami juga tadi baru dapat ada beberapa industri yang sudah mengatakan tutup operasi, karena enggak kuat gitu ya. Walaupun itu mungkin industrinya skalanya kecil gitu," kata Subchan saat ditemui wartawan di gedung DPR RI, Selasa (18/5/2026).


Adapun perusahaan tersebut bergerak di sektor manufaktur. Namun, pihaknya tidak merincikan nama perusahaan atau jenis perusahaannya. Tetapi, skala ukuran perusahaannya masih cukup kecil, sehingga kenaikan harga barang turut mempengaruhi operasional perusahaan tersebut.

"Terkait jumlah, yang saya dengar ada 3 perusahaan, tapi jumlahnya saya pastikan lagi ya nanti. Kalau sektornya manufaktur," lanjut Subchan.

Ia pun mengiyakan adanya fenomena PHK di beberapa perusahaan belakangan ini. Namun terkait jumlahnya, pihaknya belum dapat memastikan.

"Terkait data PHK kalau data dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), detailnya saya enggak bisa berkomentar banyak ya, tapi memang PHK sudah terjadi," terangnya.

Apalagi, jika pemerintah tidak dapat membendung kenaikan harga-harga, maka potensi PHK bisa lebih besar lagi.

"Oh ya pastilah. Sekarang saja harga-harga aja sudah pada naik kan. Plastik udah naik, terus juga baja juga udah naik. Semuanya naik," ujarnya.

Subchan menambahkan, sektor padat karya menjadi yang paling terdampak dari kenaikan harga-harga.

"Paling terdampak itu padat karya, itu paling terdampak dari kenaikan harga-harga barang," ungkapnya.

9.000 Orang Terancam PHK

Sebelumnya, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menyebut ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) yang sebelumnya diperingatkan kini mulai terjadi di berbagai daerah industri. KSPI mencatat gelombang PHK muncul di sektor manufaktur hingga industri padat karya, sudah masuk laporan PHK dari sejumlah perusahaan anggota KSPI dalam beberapa pekan terakhir.

Wakil Presiden KSPI Kahar S Cahyo mengatakan akan ada potensi 9.000 orang pekerja yang akan kehilangan pekerjaan atau ter-PHK di 10 perusahaan dalam tiga bulan ke depan.

"Sejak beberapa bulan yang lalu, KSPI sudah mengingatkan akan adanya ancaman PHK di bawah bayang-bayang perang. KSPI sudah mengingatkan akan ada potensi 9.000 orang pekerja yang akan kehilangan pekerjaan atau ter-PHK di 10 perusahaan dalam tiga bulan ke depan," kata Wakil Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia Kahar S. Cahyono dalam konferensi pers, Selasa (19/5/2026).

Saat ini laporan PHK mulai berdatangan dari sejumlah wilayah industri seperti Bogor, Serang, hingga Sidoarjo. Beberapa perusahaan disebut telah melakukan PHK dengan jumlah pekerja mencapai ratusan orang.

Kahar menyebut di Kabupaten Serang terdapat PHK di PT Nikomas dengan jumlah pekerja terdampak mencapai 279 orang. Selain itu, terdapat PHK di PWI 2 sebanyak 223 orang dan PT Sin Han Babis sebanyak 176 orang. Sementara di Jawa Timur, PHK terjadi di PT dan CV Toyota Asri Motor dengan jumlah pekerja terdampak sekitar 200 orang.

"PHK itu saat ini sudah mulai ada. Jadi ini bukan lagi menjadi potensi karena sudah ada laporan yang masuk bahwa PHK itu saat ini sudah mulai terjadi," ujarnya.


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Airlangga: Peluang RI Resesi di Bawah 5%, Lebih Rendah dari AS