Dunia Menahan Napas, AS-Iran di Ambang Ledakan Perang Baru
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kian memasuki fase berbahaya setelah tiga bulan berlalu sejak Washington dan Israel melancarkan serangan terhadap Teheran. Kebuntuan kini terjadi di tengah blokade AS terhadap pelabuhan Iran dan kontrol ketat Teheran atas Selat Hormuz, jalur pelayaran vital dunia yang menjadi urat nadi perdagangan energi global.
Situasi itu memicu kekhawatiran baru di kalangan pembuat kebijakan internasional, bukan lagi soal apakah kesepakatan damai bisa tercapai, melainkan berapa lama ketegangan dapat bertahan sebelum kesalahan perhitungan dari Washington atau Teheran kembali memicu perang terbuka.
Desakan untuk melancarkan serangan baru terhadap Iran juga makin menguat di AS dan Israel. Sejumlah pejabat meyakini tekanan tambahan dapat melemahkan posisi Teheran dan memaksanya kembali ke meja perundingan.
Namun, pandangan itu dibantah Danny Citrinowicz, peneliti senior Iran di Institute for National Security Studies Israel sekaligus mantan kepala divisi Iran di intelijen pertahanan Israel.
"Ada satu masalah besar dengan teori itu: kita sudah mengujinya, berulang kali, dan Iran tidak menyerah," katanya, dilansir Reuters, Selasa (19/5/2026).
Seorang pejabat kawasan bahkan menggambarkan situasi saat ini sebagai perang jangka panjang yang rawan kembali meledak sewaktu-waktu.
"Kita berada dalam perang atrisi dengan prospek serangan baru AS-Israel yang makin besar dari hari ke hari," ujarnya.
Pejabat Iran yang berbicara kepada Reuters menegaskan program rudal, kemampuan nuklir, maupun kontrol atas Selat Hormuz bukan sekadar alat kebijakan, melainkan pilar ideologis yang menopang kelangsungan Republik Islam Iran.
Bagi Teheran, melepaskan aset-aset strategis itu bukan kompromi, melainkan bentuk penyerahan diri. Hal tersebut, menurut Citrinowicz, menjelaskan mengapa bahkan konfrontasi militer berkepanjangan gagal mengubah garis merah Iran.
"Karena itu, eskalasi lebih lanjut kemungkinan besar juga tidak akan berhasil," katanya.
Sejumlah putaran pembicaraan tidak langsung yang dimediasi Pakistan hingga kini juga belum menghasilkan terobosan berarti. Jurang perbedaan antara kedua pihak dinilai masih sangat besar.
Keyakinan AS dan Iran
AS menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium selama 20 tahun dan mengirim seluruh stok uraniumnya ke AS.
Sebaliknya, Iran meminta penghentian serangan, jaminan keamanan, kompensasi perang, serta pengakuan atas kedaulatannya di Selat Hormuz, tuntutan yang sejauh ini ditolak Washington.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya memperingatkan Teheran bahwa "waktu terus berjalan" dan mengatakan Iran "lebih baik bergerak cepat, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka." Trump juga mengancam bila Teheran gagal mencapai kesepakatan dengan Washington, Iran akan menghadapi "masa yang sangat buruk".
Direktur Iran Project di International Crisis Group, Ali Vaez, menilai kedua pihak sama-sama belum bersedia membuat "konsesi menyakitkan" yang diperlukan demi tercapainya kesepakatan.
"Keduanya percaya waktu berada di pihak mereka dan mereka memiliki posisi unggul, dan persepsi itulah yang justru membuat kesepakatan menjadi mustahil," katanya.
Akibatnya, konflik kini berubah menjadi perang ketahanan yang berpusat di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia.
Sebelum perang pecah, selat itu dilalui sekitar 25% perdagangan minyak dunia dan 20% pengiriman gas alam cair global. Kini, dengan Selat Hormuz nyaris tertutup, dampak ekonominya semakin meluas dan mengganggu rantai pasok energi dunia.
Mantan pejabat Iran di Departemen Luar Negeri AS, Alan Eyre, bahkan menilai kesepakatan mungkin tidak akan pernah tercapai.
"Kedua pihak ini tidak akan pernah mencapai kesepakatan. Trump tidak hanya ingin menang, dia ingin mempermalukan Iran dan terlihat telah menghancurkan Iran," katanya.
Seorang pejabat senior Iran menegaskan Teheran memandang stok uranium yang diperkaya dan kontrol atas Selat Hormuz sebagai aset strategis utama demi bertahan hidup.
"Iran karena itu bertekad menggunakan aset-aset ini untuk menjamin kepentingannya," katanya.
Ia menambahkan bahwa menyerah bukan pilihan bagi Republik Islam Iran.
"Kami bertempur, kami mati, tetapi kami tidak menerima penghinaan. Menyerah secara fundamental bertentangan dengan identitas Iran."
Ekonomi Iran Tertekan di Balik Sikap Menantang
Meski tampil menantang, sumber-sumber Iran yang dekat dengan lingkar kekuasaan menggambarkan realitas berbeda di balik layar. Teheran disebut tidak menginginkan situasi "tanpa perang tanpa damai" berkepanjangan ketika inflasi melonjak, pengangguran memburuk, dan serangan terhadap industri penting terus menggerus ekonomi yang sudah terpukul.
Karena itu, Iran disebut tengah mengupayakan kesepakatan awal untuk mengakhiri perang.
Skema yang diinginkan Teheran adalah membuka kembali Selat Hormuz di bawah pengawasan Iran sebagai imbalan atas pencabutan blokade AS, sebelum membahas isu yang lebih rumit seperti pencabutan sanksi dan pembatasan nuklir.
Namun, AS menginginkan pembahasan penghentian perang dilakukan pada tahap berikutnya.
Dalam isu nuklir, sumber Iran menyebut Teheran bersedia mengencerkan stok 440 kilogram uranium yang diperkaya tingkat tinggi atau mengirim sebagian ke luar negeri, terutama ke Rusia, dengan alasan Iran bisa mengambilnya kembali bila Washington melanggar kesepakatan.
Washington pun menolak proposal tersebut.
Iran juga mendorong penghentian pengayaan uranium dalam jangka waktu lebih pendek dibanding tuntutan AS selama 20 tahun, serta meminta akses penuh terhadap aset beku senilai US$30 miliar.
Namun menurut sumber tersebut, Washington hanya bersedia membuka seperempat aset itu secara bertahap.
Selat Hormuz Jadi Titik Paling Sulit
Teheran juga menginginkan mekanisme tata kelola baru atas Selat Hormuz dan menolak kembali ke kondisi sebelum perang.
Sebaliknya, AS menuntut jalur itu dibuka tanpa syarat, tanpa pungutan maupun hak veto Iran. Perbedaan itu dinilai bahkan lebih sulit dijembatani dibanding isu nuklir.
Mantan pejabat AS dan negosiator Timur Tengah, Aaron David Miller, mengatakan kontrol atas Selat Hormuz akan menjadi ukuran utama keberhasilan atau kegagalan Washington.
Menurutnya, bagaimana konflik ini berakhir bisa menentukan warisan kebijakan luar negeri Trump.
Ia menambahkan membuka kembali jalur pelayaran itu tanpa penyelesaian politik akan membutuhkan "pendudukan Amerika yang berkepanjangan dengan pasukan darat di wilayah Iran".
Vaez juga menilai tidak ada solusi militer murah untuk Selat Hormuz.
"Tidak ada solusi militer untuk Hormuz selain solusi mahal yang mungkin tidak ingin dilakukan Trump," katanya.
Karena itu, negosiasi dinilai menjadi satu-satunya jalan realistis.
Meski serangan AS-Israel menghasilkan sejumlah keuntungan operasional, Citrinowicz mengatakan kampanye tersebut gagal memberikan pukulan strategis telak terhadap Iran.
"Kami tidak menjatuhkan rezim, kami justru menghadapi rezim yang lebih radikal. Kami tidak mengakhiri kapasitas rudal Iran. Dan mereka masih memiliki uranium," katanya.
Ia memperingatkan bahwa melebih-lebihkan tekanan dan meremehkan daya tahan Iran justru berbahaya.
"Itu meningkatkan risiko Washington sekali lagi masuk ke dalam konfrontasi dengan harapan tekanan akan menghasilkan penyerahan diri, dan baru menyadari terlambat bahwa rezim itu siap menanggung rasa sakit jauh lebih besar dari yang diperkirakan," ujarnya.
(luc/luc) Add
source on Google