Bukan Minyak, Iran Mau Ganggu 'Urat Nadi' Arab di Selat Hormuz
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini merambah ke ranah digital global setelah media yang berafiliasi dengan pemerintah Iran, Tasnim dan Fars, melemparkan wacana kontroversial pada Senin (18/5/2026). Teheran dilaporkan berencana memanfaatkan kendali strategis mereka di Selat Hormuz untuk menarik pajak dan biaya lisensi dari raksasa teknologi asal Amerika Serikat (AS) yang melintasi kabel internet bawah laut di wilayah tersebut.
Selat selebar 40 kilometer yang memisahkan Iran dan Oman ini setidaknya menjadi jalur bagi tujuh kabel internet bawah laut vital, termasuk infrastruktur utama yang menyokong perkembangan masif kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di negara-negara Teluk.
Rencana penarikan pendapatan dari perusahaan teknologi AS ini dipandang penuh intimidasi dan memiliki landasan hukum yang sangat meragukan.
Apa yang Mau Dilakukan Iran?
Berdasarkan laporan Tasnim, sebagaimana dikutip The Guardian, proposal tersebut mencakup tiga strategi utama yang akan dijalankan oleh pemerintah Teheran. Pertama, Iran akan mengenakan biaya lisensi kepada perusahaan asing yang menggunakan kabel bawah laut di wilayah tersebut.
Kedua, raksasa teknologi dunia seperti Meta, Google, Amazon, dan Microsoft diwajibkan beroperasi di bawah payung hukum Republik Islam Iran, yang mengindikasikan keharusan pembentukan perusahaan patungan.
Ketiga, Iran berambisi memonopoli seluruh layanan perbaikan dan pemeliharaan kabel bawah laut tersebut dengan tarif yang ditentukan sepihak. Tasnim menilai langkah ini akan mengubah Selat Hormuz menjadi pusat strategis untuk menghasilkan kekayaan yang sah secara hukum, dengan bersandar pada Pasal 34 Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1982.
Aturan itu diklaim memberi hak bagi Iran atas dasar laut Selat Hormuz, meski perairan permukaannya berstatus jalur navigasi internasional.
Apakah Ada Negara Lain yang Melakukan Ini?
Langkah sepihak yang direncanakan Iran dinilai tidak memiliki preseden yang setara di dunia. Media Iran sempat merujuk pada Mesir yang mampu meraup pendapatan tahunan sekitar US$ 250 juta hingga US$ 400 juta melalui penarikan retribusi kabel bawah laut yang dikelola bersama Telecom Egypt.
Kendati demikian, pakar infrastruktur internet dari Kentik, Doug Madory, menegaskan bahwa perbandingan tersebut tidak tepat lantaran kabel-kabel di Mesir benar-benar melintasi daratan kedaulatan negara itu secara fisik, beriringan dengan jalan raya dan pipa minyak. Kondisi ini berbeda total dengan situasi di Selat Hormuz.
Bisakah Iran Menarik Biaya dari Kabel Bawah Laut?
Rencana Iran untuk memungut biaya ini dinilai sangat mustahil diwujudkan secara legal maupun teknis. Seorang mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS yang spesifik menangani jaringan internet global mengungkapkan bahwa hambatan sanksi internasional akan langsung menjegal mekanisme keuangan tersebut. Selain itu, pemisahan arus lalu lintas data spesifik milik perusahaan tertentu di dalam jaringan kabel bawah laut tidak mungkin dilakukan.
Mengingat sebagian besar kabel tersebut tidak berujung di Iran melainkan hanya melintas bermil-mil di lepas pantai, Doug Madory menyatakan satu-satunya cara bagi mereka untuk menarik tol dari kapal atau kabel bawah laut adalah melalui ancaman, dan hal semacam itu belum pernah terjadi sebelumnya di dunia.
Di sisi lain, potensi sabotase fisik berupa pemotongan kabel oleh Iran di Selat Hormuz dianggap sebagai tindakan bunuh diri karena keterbatasan teknologi yang mereka miliki. Madory menilai narasi mengenai ancaman pemotongan kabel di Laut Baltik atau Laut Merah oleh kelompok tertentu sering kali dilebih-lebihkan karena mayoritas kerusakan disebabkan oleh kecelakaan murni seperti jangkar kapal.
Apabila Iran nekat melakukan pemotongan secara sengaja, aksi tersebut dipastikan akan langsung terdeteksi di bawah pengawasan ketat patroli udara militer Amerika Serikat.
Apa Dampak Putusnya Kabel di Selat Hormuz?
Jika kerusakan kabel benar-benar terjadi di Selat Hormuz, dampaknya diprediksi hanya akan melumpuhkan lalu lintas internet internal di kawasan Teluk, tanpa mengganggu konektivitas global secara masif. Hal ini dikarenakan karakteristik kabel di Selat Hormuz yang hanya melayani negara Teluk, berbeda dengan jalur Suez dan Mesir yang memegang peran vital menghubungkan lalu lintas data raksasa antara Asia dan Eropa.
Secara teori, kerusakan fisik kabel bawah laut merupakan hal lumrah yang terjadi beberapa kali dalam seminggu di seluruh dunia dan dapat diperbaiki dengan cepat oleh belasan kapal perbaikan yang bersiaga secara global. Namun, situasi dapat memburuk secara jangka panjang apabila Iran mulai menebar ancaman militer di jalur laut tersebut.
Doug Madory memperingatkan bahwa kapal perbaikan kabel tidak akan mau beroperasi di bawah situasi baku tembak, sehingga ancaman keamanan dari Teheran berpotensi membuat gangguan internet di kawasan tersebut berlangsung jauh lebih lama.
(tps/luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]