Bukan Rp10.000/Liter, Terkuak Ternyata Segini Harga Asli BBM Pertalite
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga asli Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite kembali menjadi sorotan publik setelah viral struk pembelian di SPBU Pertamina yang menunjukkan angka Rp16.088 per liter sebelum subsidi. Temuan itu membuat banyak warganet mempertanyakan skema subsidi BBM yang selama ini berlaku.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth M V Dumatubun mengatakan harga yang tercantum dalam struk tersebut merupakan nilai keekonomian Pertalite sebelum subsidi pemerintah diberikan kepada masyarakat.
Menurut dia, subsidi energi diberikan pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus menopang aktivitas ekonomi nasional. Karena itu, harga jual Pertalite di masyarakat tetap berada di level Rp10.000 per liter.
"Subsidi bertujuan menjaga kestabilan nasional, baik dari sisi daya beli masyarakat maupun menjaga roda perekonomian tetap berjalan," kata Roberth dalam pernyataannya kepada CNBC Indonesia, dikutip Senin (11/5/2026).
Sebelumnya, salah satu unggahan yang ramai dibahas muncul di platform Threads dan memperlihatkan rincian harga dasar Pertalite sebelum mendapatkan subsidi pemerintah.
Dalam struk tersebut, tercantum harga dasar Pertalite mencapai Rp16.088 per liter. Namun konsumen hanya membayar Rp10.000 per liter karena terdapat subsidi pemerintah sebesar Rp6.088 untuk setiap liter BBM yang dibeli.
Temuan itu langsung memicu pertanyaan publik. Pasalnya, harga dasar Pertalite yang memiliki RON 90 justru terlihat lebih tinggi dibandingkan Pertamax dengan RON 92 yang saat ini dijual sekitar Rp12.300 per liter di wilayah Jabodetabek.
Narasi dalam video yang beredar kemudian berkembang menjadi perdebatan soal logika harga BBM. Banyak warganet mempertanyakan alasan pemerintah memberikan subsidi kepada Pertalite, bukan kepada Pertamax yang dinilai memiliki kualitas lebih tinggi.
Menanggapi itu, Roberth menegaskan bahwa Pertamax merupakan BBM umum non-subsidi sehingga harga jualnya mengikuti mekanisme pasar. "Pertamax adalah jenis BBM non-subsidi karena harganya mengikuti harga pasar. Namun Pemerintah berkoordinasi dengan Pertamina agar tidak dilakukan penyesuaian harga per 1 April 2026. Harga Pertamax ditahan untuk tidak naik," terang Robert.
Sebagaimana diketahui, Pertamina atas koordinasi dengan pemerintah memang menahan harga BBM Pertamax untuk tidak naik. Jika mengikuti harga pasar, seharusnya harga jenis RON 92 itu mengalami kenaikan yang signifikan. "Apabila Pertamax mengacu harga keekonomian maka akan lebih mahal dari Pertalite tanpa subsidi (Rp16.008)," tegas Robert.
(pgr/pgr) Add
source on Google