Usai Dimsum Bond, Kini RI Bidik Panda Bond di China

Zahwa Madjid, CNBC Indonesia
Kamis, 07/05/2026 06:55 WIB
Foto: Suasana Gedung Kementerian Keuangan (Kemenkeu) di Jakarta, Rabu (10/1/2024). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan segera menerbitkan surat utang baru di China, bernama Panda Bonds berdenominasi yuan.

Dirinya menjelaskan penerbitan surat utang ini, akan mengurangi ketergantungan negara terhadap dolar Amerika Serikat, terutama dari sisi pengadaan utang.


Di berbagai kesempatan ia sebelumnya juga telah mengungkapkan bahwa imbal hasil atau yield yang dimintakan investor China hanya sekitar 2,3%, jauh lebih rendah dari yield surat berharga negara (SBN) tenor acuan 10 tahun selama ini yang di kisaran 6%.

"Kita tetap diversifikasi Supaya nggak tergantung Kepada pendirian dari Amerika atau negara-negara Barat aja dan yield-nya juga lebih rendah 2,3% sampai 2,5%," ujar Purbaya saat ditemui di Jakarta Pusat, Rabu (6/5/2026).

Oleh sebab itu, ia percaya diri penerbitan Panda Bonds ini akan membuat keberagaman pasokan valuta asing atau valas di Indonesia. Tak lagi didominasi dolar AS.

Purbaya pun mengungkapkan pihaknya telah bertemu dengan perwakilan dari Industrial and Commercial Bank of China Ltd (ICBC) untuk membahas kelanjutan dari penerbitan.

"(Bulan depan terbit) Mungkin Pak Minto (Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko) sudah ngajak saya ke Cina. Kita sudah berhubungan dengan ICBC mereka siap untuk menjalankan kesana," ujarnya.

Sebelum penerbitan Panda Bond, pemerintah Indonesia bahkan sudah menerbitkan Dim Sum Bond pada Oktober 2025. Penerbitan Dim Sum Bonds menarik minat investor onshore (domestik) Cina dengan total final orderbook mencapai 18 miliar yuan (Rp39,6 triliun).

Utang luar negeri (ULN) Indonesia yang bersumber dari China pun sudah naik pada Februari 2026 dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Di saat yang sama, utang Indonesia dari Amerika Serikat (AS) juga meningkat, sementara utang berdasarkan mata uang yuan ikut menembus level tertinggi baru.

"Demandnya pasar di sana besar dan siap Ini kan yang kemarin Dimsum kan di Hong Kong Ini Panda di Cina Jadi kita harus diversifikasi," ujarnya.


(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Investasi Triliunan Rupiah, Tapi Gaji Pekerja Masih Rendah