MARKET DATA
Internasional

Trump Lagi-Lagi Serang Paus Leo XIV, Sebut Bahayakan Umat Katolik

tps,  CNBC Indonesia
06 May 2026 21:30
Presiden AS Donald Trump berbicara kepada media sebelum menaiki Air Force One untuk berangkat ke Miami, Florida, di Bandara Internasional Palm Beach di West Palm Beach, Florida, AS, (2 Mei 2026. REUTERS/Nathan Howard)
Foto: Presiden AS Donald Trump berbicara kepada media sebelum menaiki Air Force One untuk berangkat ke Miami, Florida, di Bandara Internasional Palm Beach di West Palm Beach, Florida, AS, (2 Mei 2026. REUTERS/Nathan Howard)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali melontarkan serangan verbal tajam terhadap Paus Leo XIV. Trump menuduh pemimpin tertinggi Gereja Katolik tersebut telah membahayakan nyawa banyak umat Katolik karena dianggap mendukung kepemilikan senjata nuklir oleh Iran.

Mengutip laporan The Guardian pada Selasa, (5/5/2026), pernyataan kontroversial ini muncul hanya dua hari sebelum Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dijadwalkan bertemu dengan Paus di Vatikan. Pertemuan tersebut merupakan upaya untuk meredakan ketegangan yang dipicu oleh kecaman Trump sebelumnya terhadap Paus asal Chicago tersebut terkait kritik sang Pontiff atas perang AS-Israel terhadap Iran.

"Paus lebih suka berbicara tentang fakta bahwa Iran boleh memiliki senjata nuklir, dan menurut saya itu tidak terlalu bagus. Saya pikir dia membahayakan banyak umat Katolik dan banyak orang," ujar Trump dalam wawancara dengan Hugh Hewitt, pembawa acara radio konservatif terkemuka di jaringan Salem News.

Trump menambahkan lebih lanjut bahwa jika semua keputusan ada di tangan Paus, ia merasa sang pemimpin gereja akan membiarkan Iran mengembangkan persenjataan nuklir. "Tetapi saya rasa jika terserah Paus, dia pikir tidak apa-apa bagi Iran untuk memiliki senjata nuklir," tegasnya.

Paus Leo XIV sendiri sejatinya tidak pernah menyatakan bahwa Iran harus memiliki senjata nuklir. Namun, sang Pontiff telah berulang kali menyatakan penentangannya terhadap perang di negara tersebut dan eskalasi konflik di Lebanon serta Timur Tengah, sembari menyerukan gencatan senjata dan dialog antarpihak.

Menanggapi ketegangan ini, Duta Besar AS untuk Takhta Suci, Brian Burch, pada Selasa menyatakan bahwa ia memperkirakan pertemuan antara Rubio dan Paus Leo di Istana Apostolik pada Kamis pagi akan berlangsung secara terbuka dan jujur. Burch menegaskan bahwa perbedaan pendapat antarnegara adalah hal yang lumrah dan dapat diselesaikan melalui persaudaraan.

"Bangsa-bangsa memiliki ketidaksepakatan, dan saya pikir salah satu cara Anda menyelesaikannya adalah melalui persaudaraan dan dialog otentik. Saya pikir Rubio datang ke Vatikan dalam semangat itu, untuk melakukan percakapan jujur tentang kebijakan AS, untuk terlibat dalam dialog," kata Burch kepada wartawan.

Burch juga menepis anggapan adanya keretakan mendalam antara AS dan Vatikan. Menurutnya, kunjungan Rubio yang bertepatan dengan peringatan satu tahun masa kepausan Leo XIV ini bertujuan agar kedua belah pihak dapat lebih memahami posisi satu sama lain terkait berbagai perbedaan kebijakan.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, juga membantah bahwa perjalanannya ke Vatikan semata-mata untuk memperbaiki hubungan antara Paus Leo dan Trump. Ia mencoba mengecilkan narasi perpecahan tersebut di hadapan media.

"Ini adalah perjalanan yang sudah kami rencanakan sebelumnya, dan jelas kami memiliki beberapa hal yang terjadi dan tidak, lihat, ada banyak hal yang perlu dibicarakan dengan Vatikan," tutur Rubio.

Selain urusan Vatikan, Rubio juga memiliki misi untuk memperbaiki hubungan dengan pemerintah Italia setelah Trump mengecam Perdana Menteri Giorgia Meloni. Meloni, yang sebelumnya merupakan sekutu dekat Trump di Eropa, sempat dikritik habis-habisan karena membela Paus Leo dan menolak mendukung serangan ke Iran, yang memicu ancaman Trump untuk menarik pasukan AS dari Italia.

Wakil Presiden AS, JD Vance, yang juga merupakan seorang mualaf Katolik, turut memberikan kritikan kepada Paus. Vance menyarankan agar Vatikan tetap fokus pada urusan moralitas ketimbang terlibat dalam perdebatan perang.

"Vatikan harus tetap berpegang pada masalah moralitas dan Paus Leo harus berhati-hati ketika berbicara tentang teologi dan perang," pungkas Vance.

(tps/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Misa Paskah Perdana, Paus Leo Serukan Dunia Hentikan Perang


Most Popular
Features