MARKET DATA
Internasional

Isu Aneh di Perang Timur Tengah, Muncul 'Lumba-Lumba Pembawa Bom' Iran

tfa,  CNBC Indonesia
06 May 2026 14:00
OFFBEATA dolphin is pictured from the boat Maguro -- symbolically renamed "Granma 2.0" as a tribute to the yacht used by Fidel Castro's guerrilla fighters to launch their revolution in 1956, -- part of the Convoy with 30 tons of humanitarian aid boun
Foto: Ilustrasi Lumba-Lumba. AFP/YURI CORTEZ

Jakarta, CNBC Indonesia - Isu tak biasa mencuat di tengah memanasnya konflik Iran dan Amerika Serikat (AS): kemunculan rumor penggunaan "lumba-lumba pembawa bom" oleh Iran di Selat Hormuz. Meski terdengar nyeleneh, wacana ini langsung memicu perhatian publik dan analis militer global.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dengan tegas membantah klaim tersebut. Dalam pengarahan resminya, ia menilai Iran tidak memiliki kemampuan mempersenjatai mamalia laut untuk serangan tempur.

"Saya tidak dapat mengonfirmasi atau menyangkal apakah kita memiliki lumba-lumba kamikaze, tetapi saya dapat mengonfirmasi bahwa mereka tidak memilikinya," ujar Hegseth, merespons laporan yang menyebut potensi penggunaan "lumba-lumba pembawa ranjau" oleh Teheran, seperti dikutip CNBC International, Rabu (6/5/2026).

Laporan The Wall Street Journal sebelumnya mengungkap pejabat Iran disebut-sebut mempertimbangkan skenario tersebut untuk menyerang kapal perang AS. Namun hingga kini, belum ada bukti konkret terkait kemampuan itu.

Di sisi lain, ketegangan di Selat Hormuz terus meningkat. Presiden Donald Trump bahkan meluncurkan operasi "Proyek Kebebasan" untuk membebaskan kapal-kapal yang terjebak di jalur strategis tersebut. Meski gencatan senjata secara formal masih berlaku, insiden serangan terbaru memperbesar kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.

Bukan Hal Baru di Dunia Militer

Di balik kontroversi ini, penggunaan mamalia laut dalam operasi militer ternyata bukan hal baru. Sejak 1959, Angkatan Laut AS telah menjalankan program pelatihan lumba-lumba dan singa laut untuk berbagai misi non-tempur seperti deteksi ranjau dan pengawasan bawah laut.

Scott Savitz dari RAND Corporation menjelaskan bahwa lumba-lumba memiliki kemampuan unik yang sulit ditandingi teknologi. "Lumba-lumba telah digunakan dalam latihan militer di seluruh dunia," katanya.

Menurut Savitz, keunggulan utama lumba-lumba terletak pada kemampuan ekolokasi atau biosonar yang sangat akurat. Teknologi alami ini bahkan disebut lebih unggul dibanding sonar buatan manusia dalam mendeteksi objek di bawah laut.

Dalam sejarahnya, hewan ini pernah digunakan saat Perang Vietnam untuk mendeteksi penyusup bawah air, serta dalam Perang Irak 2003 guna membersihkan ranjau di pelabuhan strategis. Meski demikian, para ahli menilai penggunaan lumba-lumba sebagai senjata aktif, seperti pembawa bom, bukan perkara mudah.

"Pertanyaannya bukan hanya apakah Iran memiliki lumba-lumba terlatih, tetapi apakah mereka memiliki keahlian untuk bekerja efektif dengan hewan tersebut," ujar Savitz.

Isu ini juga memicu perdebatan etika. ASPCA menegaskan bahwa meski hewan memiliki peran dalam militer. Penggunaannya tidak boleh mengorbankan kesejahteraan mereka secara tidak perlu.

"Hewan militer harus dilatih secara manusiawi dan dipelihara secara bertanggung jawab," tulis organisasi tersebut.

Savitz menambahkan, dalam praktiknya, program mamalia laut Angkatan Laut AS justru dirancang untuk menjaga kesehatan dan kesejahteraan hewan.

"Mereka berolahraga setiap hari di perairan terbuka, mendapatkan makanan, dan berinteraksi dengan manusia. Bagi mereka, ini seperti permainan," katanya.

Hingga kini, isu "lumba-lumba pembawa bom" masih berada di wilayah spekulasi. Namun, kemunculannya mencerminkan bagaimana perang modern tidak hanya diwarnai teknologi canggih, tetapi juga narasi unik yang memancing perhatian dunia.

(tfa/sef) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article China Kecam AS Soal Penjualan Senjata ke Taiwan: Ini Percepat Perang!


Most Popular
Features