MARKET DATA
Internasional

China Blak-blakan Warning Iran soal Perang dengan AS, Dunia Taruhannya

tps,  CNBC Indonesia
06 May 2026 16:45
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi bertemu dengan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi di Beijing, Tiongkok, dalam gambar yang dirilis pada 6 Mei 2026 ini. Seyed Abbas Araqchi via Telegram/Handout via REUTERS
Foto: via REUTERS/SEYED ABBAS ARAQCHI VIA TELEGRAM

Jakarta, CNBC Indonesia - China secara resmi mendesak Iran untuk segera menempuh jalur diplomasi guna menyelesaikan konflik di Timur Tengah dan menahan diri agar tidak melanjutkan permusuhan. Langkah ini diambil Beijing guna memperkuat posisinya sebagai mediator utama menjelang pertemuan puncak tingkat tinggi dengan Amerika Serikat (AS).

Mengutip laporan CNBC International pada Rabu, (6/5/2026), Menteri Luar Negeri China Wang Yi bertemu dengan rekannya dari Iran, Abbas Araghchi, di Beijing. Dalam pertemuan tersebut, Wang menyerukan agar segera dilakukan penghentian permusuhan dan meminta pihak-pihak yang bertikai untuk melanjutkan negosiasi diplomatik demi stabilitas kawasan.

"Kami menyerukan penghentian segera permusuhan dan mendesak kekuatan-kekuatan yang bertikai untuk melanjutkan negosiasi diplomatik," ujar Wang Yi dalam pertemuan tersebut.

Kunjungan Araghchi ini merupakan kunjungan pertamanya sejak pecahnya perang antara AS-Israel melawan Teheran pada 28 Februari lalu. Momentum ini terjadi hanya beberapa hari sebelum Presiden AS Donald Trump dijadwalkan mengunjungi Beijing untuk bertemu Presiden Xi Jinping.

"Pertemuan ini sangat strategis. Teheran dan Beijing sedang menyelaraskan kepentingan mereka sebelum pertemuan puncak Trump dengan Xi Jinping, dan pengaturan waktunya disengaja," kata Amir Handjani, anggota dewan di Quincy Institute for Responsible Statecraft.

Handjani menambahkan bahwa kepemimpinan China sangat menginginkan stabilitas di Teluk Persia untuk melindungi arus perdagangan dan energi. China tidak memiliki selera terhadap kejutan inflasi dan potensi resesi yang bisa dipicu oleh blokade berkepanjangan di wilayah tersebut.

"Kepemimpinan China ingin kapal tanker bergerak dan perdagangan mengalir dari Teluk Persia ke pasar Asia," tambahnya.

Sebelum perang meletus, sekitar 20% minyak dan gas alam cair dunia melewati Selat Hormuz, namun lalu lintas komersial telah melambat tajam dalam beberapa pekan terakhir. China, sebagai pembeli minyak dan gas Teluk terbesar di dunia, mulai merasakan dampak gangguan di Hormuz meskipun memiliki cadangan domestik sebagai penyangga.

Di sisi lain, kunjungan ke China ini juga dianggap sebagai cara bagi Teheran untuk menunjukkan kepada Washington bahwa mereka tidak terisolasi. Iran berupaya memperkuat posisi tawar dalam kebuntuan dengan AS guna mencegah serangan Amerika lebih lanjut di masa depan.

"Bagi Teheran, kunjungan ke China adalah cara untuk menunjukkan kepada AS bahwa mereka tidak terisolasi dan memiliki teman serta pilihan," tutur Danny Russel, seorang rekan terhormat di Asia Society Policy Institute.

Russel juga menilai bahwa bagi Presiden Xi Jinping, kunjungan ini merupakan kesempatan untuk memposisikan Beijing sebagai kekuatan yang bertanggung jawab sebelum kunjungan Trump. Di saat yang sama, China juga mengambil langkah berani dengan melawan sanksi Washington terhadap kilang-kilang China yang membeli minyak mentah Iran.

"Bahkan jika Trump percaya bahwa China hanya memberikan perlindungan diplomatik sambil menjaga Iran tetap bertahan secara ekonomi, dia berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Dia butuh Beijing untuk menahan Teheran, bukan memberdayakannya," jelas Russel.

Pertemuan puncak Trump-Xi di Beijing yang sempat tertunda lebih dari sebulan karena perang di Iran, dipandang sebagai peluang kritis bagi Presiden AS tersebut. Trump diperkirakan akan berusaha meredakan gesekan dan mengamankan komitmen China untuk membeli produk pertanian, barang industri, dan energi AS menjelang pemilihan paruh waktu bulan November mendatang.

(tps/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Iran Ancam Serang Pangkalan Militer AS di Timur Tengah


Most Popular
Features