RI-Airbus Teken Kesepakatan, Ini Alasan-Targetnya
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) melakukan penandatanganan kerja sama dengan produsen pesawat Airbus untuk mendukung realisasi ekosistem industri dirgantara Indonesia.
Dalam penandatanganan kerja sama ini, turut hadir Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita, dan Presiden Airbus Asia Pacific Anand Stanley.
Stanley mengatakan potensi pasar dirgantara Indonesia cukup besar, mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri sekitar 17.000 pulau, sehingga dengan perkembangan teknologi yang semakin masif, membutuhkan transportasi udara yang cukup baik.
"Pasar dirgantara Indonesia cukup menjanjikan, di mana ada 17.000 pulau di Indonesia, sehingga pesawat kini menjadi transportasi cukup penting dan paling cepat," kata Stanley dalam paparannya di kantor Bappenas, Rabu (6/5/2026).
Bahkan menurutnya, pasar dirgantara Indonesia berpotensi berkembang hingga empat kali lipatnya di 2045, sehingga perlu disiapkan ekosistem yang lebih canggih dan saling terintegrasi.
"Tapi hal yang penting adalah pasar akan berkembang 4 kali pada tahun 2045, dengan perkembangan komponen secara anual 7,4%," terangnya.
Sementara itu, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat melanjutkan permintaan akan transportasi udara di Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya seiring naiknya kelas menengah dan peningkatan kebutuhan transportasi umum yang lebih cepat dan aman.
"Indonesia memiliki sekitar 17.000 pulau, masyarakat sekarang banyak yang memilih transportasi antar pulau yang lebih cepat, sehingga transportasi udara kini menjadi andalan masyarakat, di mana hal ini juga didorong oleh meningkatnya kelas menengah," kata Rachmat.
Selain itu, industri dirgantara Indonesia sejatinya sudah naik pesat. Namun potensinya belum dimanfaatkan secara maksimal, sehingga pihaknya akan kembali membuat agar industri dirgantara Indonesia kembali unjuk gigi.
"Kita tumbuh berkembang dengan industri manufaktur yang sangat canggih, yaitu industri manufaktur di bidang dirgantara.
Ini artinya kita sudah naik kelas. Industri yang paling tinggi selama ini adalah industri dirgantara, yang seringkali sulit dijangkau," terang Rachmat.
Apalagi, jumlah penerbangan di Indonesia, baik domestik maupun internasional, diprediksi makin meningkat. Saat ini mencapai 0,4 perjalanan per kapita per tahun, diprediksi meningkat 1,4 perjalanan per kapita per tahun dalam 20 tahun ke depan, sehingga perlu dilakukan ekspansi kapasitas armada udara.
"Saat ini, jumlah penerbangan di Indonesia mencapai 0,4 perjalanan per kapita per tahun, angkanya diperkirakan meningkat hingga 1,4 perjalanan per kapita per tahun dalam 20 tahun. Sejalan itu, trafik penumpang udara diperkirakan tumbuh rata-rata 7,4% per tahun, yang akan mencapai sekitar 477 juta penumpang. Artinya diperlukan ekspansi kapasitas armada udara untuk menjawab kebutuhan tersebut," ujar Rachmat.
Oleh karena itu, pihaknya akan berkolaborasi dengan Airbus untuk pemenuhan ekosistem industri dirgantara Indonesia, yang meliputi industri komponen, sumber daya manusia (SDM), dan perawatan pesawat.
"Untuk itu diperlukan peningkatan standardisasi, kualitas layanan, efisiensi operasional, pemanfaatan teknologi serta tidak kalah penting penguatan sumber daya manusianya. Ini terus didorong agar pertumbuhan industri di antara tumbuh berkelanjutan," tutupnya.
(dce) Add
source on Google