Boeing Jadi Kartu Tawar Deal Dagang AS di Asia, Apa Target Washington?
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia dan Amerika Serikat (AS) hari ini, Jumat (20/2/2026) menandatangani kesepakatan dagang yang mencakup investasi dan perdagangan di sektor pertanian, dirgantara, hingga energi.
Dalam perjanjiannya terdapat paket pembelian dari Indonesia ke AS. Dengan pembelian sekitar US$15 miliar di komoditas energi, pengadaan pesawat komersial serta barang dan jasa terkait penerbangan senilai sekitar US$13,5 miliar termasuk dari Boeing, serta pembelian lebih dari US$4,5 miliar produk pertanian AS.
Salah satu poin yang paling menyita perhatian adalah komitmen Indonesia untuk membeli 50 unit pesawat Boeing. Menarik untuk dipahami, mengapa pembelian pesawat menjadi bagian penting dalam paket kesepakatan ini.
Seberapa strategis sebenarnya industri manufaktur pesawat terbang bagi ekonomi Amerika Serikat, sehingga klausul pembelian pesawat masuk dalam perjanjian dagang ini.
Karena itu, menarik untuk melihat lebih jauh seberapa besar kontribusi industri manufaktur pesawat AS terhadap perekonomian Negeri Paman Sam, mulai dari sisi ekspor, tenaga kerja, hingga kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Ekspor Pesawat Tahunan AS
Industri aerospace and defense (A&D) Amerika Serikat menjadi salah satu tulang punggung ekspor manufaktur. Pada 2024, nilai ekspor A&D tercatat mencapai US$138,6 miliar dan sektor ini membukukan surplus dagang US$73,9 miliar. Ini menunjukkan Amerika Serikat menjual jauh lebih banyak produk aerospace ke dunia dibandingkan yang mereka impor.
Perlu dicatat, industri aerospace bukan sekadar pabrik pesawat. Aerospace adalah istilah untuk seluruh ekosistem manufaktur kedirgantaraan Amerika Serikat. Di dalamnya ada tiga utama, yakni pembuatan pesawat, mesin pesawat beserta komponennya, serta komponen lain dan peralatan pendukung seperti avionik dan sistem pendukung penerbangan lainnya.
Dalam konteks ini, kontrak pembelian pesawat dari negara lain berperan langsung menjaga mesin ekspor tetap bergerak, terutama ketika permintaan global menjadi faktor kunci bagi keberlanjutan produksi.
Foto: International Trade Administration, TradeStats ExpressAerospace Industry |
Dampaknya Terhadap Tenaga Kerja AS
Dari sisi lapangan kerja, manufaktur pesawat bukan industri kecil. Data badan statistik tenaga kerja AS (Bureau of Labor Statistics /BLS) menunjukkan jumlah pekerja di industri manufaktur pesawat terbang mencapai 254,3 ribu orang pada 2024.
Angka itu baru mencerminkan pabrik pesawat saja. Jika cakupannya diperluas ke industri aerospace, termasuk mesin dan komponen, tercatat terdapat 545.400 pekerjaan langsung dan total sekitar 1,6 juta pekerjaan yang didukung melalui efek rantai pasok serta konsumsi rumah tangga.
Artinya, setiap kontrak pembelian pesawat dalam skala besar memiliki dampak ekonomi domestik yang nyata bagi Amerika Serikat, mulai dari menjaga tingkat produksi pabrik, menstabilkan penyerapan tenaga kerja, hingga mendorong pesanan bagi para pemasok.
Output Industri Manufaktur Pesawat AS Terhadap PBD AS
Dari sisi nilai ekonomi, Aerospace Industries Association (AIA) melalui studi PwC mencatat Output manufaktur sebesar US$306,9 miliar pada 2023 menggambarkan nilai produksi atau penjualan kotor, sehingga masih mencakup biaya komponen, material, dan jasa perantara yang dibeli dari pemasok.
Sementara kontribusi langsung ke PDB sebesar US$151,1 miliar adalah nilai tambah yang benar-benar tercipta di dalam industri tersebut, seperti upah pekerja, keuntungan perusahaan, dan pajak produksi, sehingga angkanya wajar lebih kecil dari output.
Di sisi lain, ketika dampaknya diperluas, total kontribusi terhadap PDB bisa naik menjadi US$284,1 miliar.
Angka ini sudah memasukkan efek domino ke rantai pasok dan dampak lanjutan dari belanja rumah tangga pekerja, sehingga mencerminkan dampak ekonomi yang lebih menyeluruh.
Dengan PDB AS 2023 sekitar US$27,36 triliun, kontribusi langsung aerospace setara kurang lebih 0,55% terhadap PDB, sedangkan dampak totalnya sekitar 1,04%.
Ini Negara Lain Yang Mempunyai Perjanjian Pembelian Pesawat dari AS
Indonesia bukan satu satunya negara yang memasukkan pembelian pesawat AS dalam perjanjian terkait tarif dagang. Kesepakatan tersebut juga dilakukan dengan sejumlah negara Asia:
Vietnam menjadi negara lain yang memiliki kesepakatan dagang dengan AS untuk membeli pesawat Boeing sebanyak 50 unit dengan nilai lebih dari US$8 miliar. Pesawat itu nantinya akan dibeli oleh Vietnam Airlines untuk operasional maskapai.
Selain itu, Malaysia juga masuk dalam daftar. Dalam rilis resmi yang dipublikasikan pemerintah AS, tercantum rencana pembelian 30 pesawat Boeing, disertai opsi pembelian tambahan 30 pesawat, sebagai bagian dari rangkaian komitmen dagang dan investasi kedua negara.
Hal serupa juga terjadi pada Uzbekistan yang memuat kontrak pembelian hingga 22 pesawat produsen Boeing dengan jenis B-787 Dreamliner dengan nilai kontrak sebesar US$8,5 miliar.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Foto: International Trade Administration, TradeStats Express