Nikel-Semikonduktor Dorong Ekspor Maret 2026 Tembus US$66,85 M

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Senin, 04/05/2026 12:00 WIB
Foto: Pabrik nikel terbesar di dunia yang dimaksud yaitu pabrik nikel sulfat yang merupakan bahan utama penyusun prekursor katoda baterai kendaraan listrik. Pabrik nikel sulfat ini berada di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. (Dok. Harita Group Pulau Obi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai ekspor Indonesia secara kumulatif Januari-Maret 2026 mencapai US$ 66,85 miliar. Naik 0,34% dibanding dengan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 66,62 miliar.

Kinerja ekspor sepanjang tiga bulan pertama tahun ini ditopang oleh melejitnya kinerja ekspor industri pengolahan dengan nilai mencapai US$ 54,93 miliar, atau naik 3,96% dibanding periode yang sama tahun lalu US$ 52,89 miliar.

"Ekspor sektor industri pengolahan yang naik cukup besar terutama nikel, kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, minyak kelapa sawit, kimia dasar organik lainnya, serta semikonduktor dan komponen elektronik lainnya," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono saat konferensi pers, Jakarta, Senin (4/5/2026).


Sektor industri pengolahan menjadi penopang pertumbuhan satu-satunya ekspor Indonesia selama tiga bulan pertama tahun ini. Sebab, sektor lain justru merosot.

Penurunan kinerja ekspor terdalam ialah untuk sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang turun 32,18% dari senilai US$ 1,69 miliar pada Januari-Maret 2025, menjadi hanya sebesar US$ 1,14 miliar.

Lalu, sektor pertambangan dan lainnya merosot 11,17% dengan nilai dari US$ 8,41 miliar pada periode yang sama tahun lalu menjadi sebesar US$ 7,47 miliar pada Januari-Maret 2026.

Khusus untuk Maret 2026, kinerja ekspor Indonesia sebetulnya juga terkontraksi dengan minus 3,10%, karena nilainya merosot menjadi US$ 22,53 miliar dari sebelumnya senilai US$ 23,25 miliar pada Maret 2025.

"Penurunan nilai ekspor Maret 2026 secara tahunan terutama didorong penurunan nilai ekspor beberapa komoditas ekspor non migas di antaranya lemak dan minyak hewan nabati ini HS15 turun 27,02% dengan andil 3,52%, kakao dan olahannya HS18 turun 50,89% dengan andil 0,75%, serta kopi, teh, dan rempah-rempah ini turun 54,69% dengan andil minus 0,68%," tegas Ateng.


(arj/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Disiapkan 2 Tahun, BPS Ajak Warga Ikut Sensus Ekonomi 2026