Surplus Neraca Dagang RI US$41 M di 2025, Industri Ini Jadi Penopang
Jakarta, CNBC Indonesia - Neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus secara kumulatif pada Januari - Desember 2025 sebesar US$ 41,05 miliar. Surplus ini lebih besar dibandingkan dengan tahun 2024, sebesar US$ 31,04 miliar.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa, Ateng Hartono, mengungkapkan surplus ini ditopang oleh ekspor sepanjang 2025. Dari catatan BPS, ekspor RI meningkat 6,15% secara tahunan (year-on-year/yoy), sedangkan impor mengalami sedikit kenaikan 2,83%.
Surplus ini dipicu oleh angka ekspor sepanjang Januari - Desember yang mencapai US$ 282,21 miliar, lebih tinggi dari impor kumulatif pada periode yang sama US$ 241,86 miliar.
"Kita lihat perbandingan cukup tinggi kondisi Januari-Desember dibandingkan Januari-Desember 2024," kata Deputi Bidang Distribusi dan Jasa, Ateng Hartono, dalam rilis data BPS, Senin (2/2/2026).
Ateng menuturkan surplus sepanjang Januari-Desember 2025 ditopang oleh surplus nonmigas US$ 60,75 miliar. Ateng mengatakan nilai ekspor nonmigas yang mencapai US$269,84 miliar naik 7,66%. Sementara itu, neraca migas mengalami defisit US$ 19,70 miliar.
Surplus di nonmigas ditopang oleh ekspor industri pengolahan. Ekspor industri pengolahan tembus US$ 227,1 miliar pada 2025.
Dari sepuluh komoditas dengan nilai ekspor nonmigas terbesar Januari-Desember 2025, semua komoditas mengalami peningkatan, kecuali bahan bakar mineral yang mengalami penurunan sebesar US$7,61 miliar (19,18%). Sementara komoditas dengan peningkatan tertinggi adalah lemak dan minyak hewani/nabati yang naik sebesar US$7,50 miliar (27,94%).
Ekspor nonmigas Januari-Desember 2025 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$64,82 miliar, disusul Amerika Serikat US$30,96 miliar, dan India US$18,32 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 42,28%.
Sementara ekspor ke ASEAN dan Uni Eropa (27 negara) masing-masing sebesar US$51,58 miliar dan US$19,28 miliar. Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari-Desember 2025 naik 14,47% dibanding periode yang sama tahun 2024, demikian juga ekspor hasil pertanian, kehutanan, dan perikanan naik 21,01 persen, sedangkan ekspor hasil pertambangan dan lainnya turun 23%.
Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari-Desember 2025 berasal dari Provinsi Jawa Barat dengan nilai US$38,72 miliar (13,69%), diikuti Jawa Timur US$29,12 miliar (10,29%) dan Kepulauan Riau US$23,41 miliar (8,28%).
(haa/haa)[Gambas:Video CNBC]