Perang AS Vs Iran Picu "Kiamat" Baru, Benua Ini Mati Duluan?
Jakarta, CNBC Indonesia - Uni Eropa menghadapi masalah serius di tengah ancaman krisis energi akibat perang Iran. Minimnya data membuat kawasan itu tidak benar-benar mengetahui berapa banyak bahan bakar yang tersisa.
Laporan Politico menyebut situasi ini terjadi saat maskapai mulai mengurangi penerbangan dan pemerintah mendorong pembatasan perjalanan. Di saat bersamaan, konflik Iran mendorong lonjakan harga energi serta mengancam pasokan global, terutama yang melewati Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dan gas dunia.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengungkapkan konflik tersebut membebani Uni Eropa hingga 500 juta euro per hari, setara sekitar Rp10,13 triliun. Lonjakan biaya ini mempertegas tekanan besar yang kini dihadapi sektor energi Eropa.
"Di Eropa, kami memiliki visibilitas hingga Mei dan Juni... setelah itu sulit diprediksi," ujar CEO DHL Group, Tobias Meyer, dikutip Kamis (30/5/2026).
Ia menambahkan, cadangan strategis memang tersedia, namun transparansi penggunaannya masih sangat terbatas.
Masalah utama terletak pada kurangnya data komprehensif, terutama untuk bahan bakar olahan seperti diesel dan avtur. Sebagian besar stok berada di tangan perusahaan swasta yang tidak diwajibkan membuka informasi, sehingga menciptakan "titik buta" bagi pembuat kebijakan.
"Kami memiliki pengetahuan dan data pasar yang sangat terbatas untuk gas dan minyak," kata seorang pejabat senior kementerian energi Eropa. "Ada kekurangan pemantauan pasar, terutama terkait aliran distribusi dan konsumsi."
Kondisi ini membuat otoritas berisiko mengambil keputusan penting dengan informasi yang tidak lengkap, terutama jika terjadi gangguan pasokan mendadak.
Sejumlah negara anggota seperti Belgia, Belanda, dan Spanyol telah menyoroti masalah ini, mendesak Uni Eropa memperkuat pemantauan real-time terhadap stok energi, khususnya produk olahan yang paling sulit dilacak.
Komisi Eropa pun mulai bergerak dengan merancang "Observatorium Bahan Bakar" untuk memantau produksi, impor, ekspor, dan cadangan energi. "Kami ingin memiliki gambaran yang lebih jelas, tetapi masih terlalu dini untuk memastikan implementasinya," kata juru bicara Komisi, Anna-Kaisa Itkonen.
Meski data gas relatif lebih transparan berkat aturan pengisian minimum 90% kapasitas, visibilitas terhadap arus keluar-masuk lintas negara tetap terbatas. Untuk minyak mentah, teknologi satelit mampu memantau sebagian besar kapasitas global, namun metode ini tidak sepenuhnya berlaku untuk semua jenis bahan bakar.
"Kita tahu apa yang seharusnya mereka miliki dalam stok, tetapi apa yang benar-benar tersedia saat ini sulit dipastikan," ujar pejabat energi lainnya.
Di tengah ketidakpastian ini, kondisi stok energi Eropa juga tidak sepenuhnya aman. Cadangan gas dilaporkan berada di bawah 30% kapasitas setelah musim dingin, sementara gangguan distribusi global akibat konflik berpotensi memperburuk situasi.
Â
(luc/luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]